“Kawan, Jika Kau Rindukan Aku”: Kumpulan Puisi (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)
Ilustrasi "Kawan, Jika Kau Rindukan Aku": Kumpulan Puisi (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-566 (Assisted by AI).
Editor: Leni Marlina
–
/1/
Kawan, Jika Kau Rindukan Aku
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
———————————–
Kawan,
Jika di sana kau rindukan aku,
pandanglah awan semampumu.
Di sini aku adalah awan yang mengembara,
dilahirkan oleh desir angin yang bertafakur di hening fajar.
Kutampung rindu yang berguguran dari bumi,
kusimpan air mata pepohonan yang menengadah dalam sunyi.
Langit sering bertanya padaku:
“Mengapa kau tak menetap, tak memilih bentuk?”
Tetapi keberadaan adalah perjalanan,
dan perjalananku adalah memberi.
Saat aku luruh menjadi hujan,
jangan kau sangka aku menangis,
sebab aku tak pernah kehilangan diriku.
Aku hanya berubah, menjadi butiran yang menyentuh tanah,
membasuh luka-luka yang tak terlihat,
menjadi desah sungai yang akan menemui lautan.
Kepergianku bukan kehilangan,
tapi mengikuti takdir kehidupan.
Padang, Sumbar, 2014
/2/
Memeluk Bayang
Puisi oleh Zulkifli Abdy
[Komunitas Pondok Puisi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonsia, Satu Pena Aceh]
Senja terasa semakin manja
Malam bersembunyi di balik diam
Bait-bait puisi sedang kueja
Dalam remang yang makin kelam
Burung-burung telah pulang
Setelah sehari terbang melayang
Aku di sini memeluk bayang.
Ujung Senja, Aceh
17 Febuari 2025
/3/
Wahai Pejalan yang Ragu
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
————————————-
Wahai pejalan yang ragu,
mengapa kau berhenti di tengah lorong gelap,
sementara di kejauhan ada cahaya yang menunggumu?
Jika kakimu letih, duduklah sejenak,
tetapi jangan biarkan jiwamu tidur dalam keraguan.
Mereka berkata, jalan ini penuh duri,
tetapi tidakkah mawar tumbuh di antara semak berduri?
Mereka berkata, langit kadang muram,
tetapi tidakkah hujan turun untuk menyuburkan tanah?
Wahai jiwa yang mencari,
engkau bukan butiran pasir yang hanyut oleh gelombang.
Engkau adalah samudra,
yang menyimpan rahasia matahari di dasarnya.
Padang, Sumbar, 2014
/4/
Aksara Rindu
Puisi oleh Zulkifli Abdy
[Komunitas Pondok Puisi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonsia, Satu Pena Aceh]
————————————-
Ingin kubaca rintik-rintik hujan
Yang jalang di bibir telaga senja
Tak terbaca, namun dapat kurasa
Bagai aksara rindu kueja di riak air.
Beranda, Aceh
14 Oktober 2023
/5/
Rindu Rembulan
Puisi oleh Zulkifli Abdy
[Komunitas Pondok Puisi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonsia, Satu Pena Aceh]
————————————-
Rembulan telah beranjak
dari kaki langit
Seperti kemarin dan mungkin
juga esok
Tidakkah engkau tahu bahwa
aku mencarimu pada setiap
kafilah yang lalu-lalang
Tiada yang hendak kukatakan
padamu sahabat selain
sekerat harap
Agar engkau melangkah ke
tapal batas
Dan aku menjemputmu
di sana
Atau kirim aku setangkai
bunga.
Banda Aceh, 2025
———————————————
———————————————
Zulkifli merupakan penulis/penyair kelahiran Jambi dan berdomisili di Aceh sejak 1970. Ia seorang Sarjana Ilmu Komunikasi; menekuni dunia kepenulisan secara otodidak sejak remaja; menghasilkan artikel dan menulis puisi dengan semangat sastra yang kuat. Menulis baginya bukan sekadar aktivitas, tetapi juga cara menuangkan perasaan dan menggantikan catatan harian.
/6/
Di Situlah Aku Bermuara
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
————————————
Kawan,
Masihkah kau merindukan sungai tempat kita mandi dulu?
Aku telah menjadi sungai itu,
lahir dari mata air yang melantunkan doa-doa kesabaran,
mengalir dengan ketetapan hati,
tanpa bertanya ke mana arus akan membawaku.
Aku tak iri pada batu yang tetap di tempatnya,
tak ingin menjadi daun yang jatuh tanpa tujuan.
Sebab dalam aliranku ada hikmah,
dalam lekukku ada kebijaksanaan.
Kadang aku mendengar suara kota yang menggema,
kadang aku menyusuri lembah yang berbisik pelan.
Tetapi aku tak pernah menoleh ke belakang,
sebab air yang mengalir tak mengenal pulang,
namun ia selalu menemukan samudra.
Dan di situlah aku bermuara,
dan mungkin di sana kita akan berjumpa.
Padang, Sumbar, 2014
/7/
Ayo, Kita Berjumpa di Surga Saja
‎
‎Puisi oleh ‎Anies Septivirawan
‎
‎[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jatim, Kreator Era AI]
‎——————————————-
‎
‎”Ayo, kita berjumpa di surga saja,” bisikmu di celah jendela mimpi
‎
‎Syahdan, dengan sempurna
‎aku telah merampungkan
‎membaca setiap kalimat
‎membaca setiap paragraf
‎membaca pokok pikiran
‎isi buku tebal itu adalah kamu
‎
‎sementara engkau yang
‎bendawi bernyawa dan
‎punya rasa, tidak pernah berbohong
‎kepada materi, kepada isi
‎: isi semesta raya,
‎isi semesta hati, isi semesta diri
‎engkau berdaulat sebagai
‎manusia sempurna
‎
‎aku urungkan mengetuk
‎daun pintu hatimu
‎karna sorot mata beningmu
‎terlalu indah dan mulia
‎untuk kumiliki seutuhnya
‎
‎ayo, kita berjumpa di surga saja
‎ijinkan aku mencintaimu
‎dengan sebait puisi sederhana
‎meski tersisa jejak segumpal asa
‎
‎
‎Situbondo, Jatim
‎24 Januari 2024
‎—————————————
‎—————————————
‎Anies Septivirawan adalah penikmat seni dan budaya yang lahir pada 5 September 1969, dan tinggal di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Ia menulis sejak SMP hingga saat ini dan sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal, serta antologi bersama.
/8/
Rembulan Memurnamai
Puisi Muslimin
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jatim, Kreator Era AI
————————————-
Pagi ini,
secangkir kopi tambahi sesendok gula
agar pahitnya hidup manis dirasa
aku suka memandang tiup bibirmu hangat kopi
sua jembar matra menghembus sengketa
hangat ketan berparut kelapa kencan kita
berharap aku pejantan tangguh kamu betina perkasa
setiap pagi mentari setia menyala
hidup baik-baik saja, gerhana sekadar pemantik hati dewasa
Siang ini,
meski hidup dipenuh tagar
meski polusi intrik licik menjadi wajar
genggam tanganmu pagi mengerat bakti
bahwa jerumus hedoni petaka abadi
keluarga utuh harta paling berharga
emas permata anak-anak penyejuk hati
Malam ini,
rembulan memurnamai istirah relaksi
secangkir kopi membersamai kita bercakap
dalam canda refleksi
tawamu melepas selubung sunyi
orkestra hatiku hatimu simfoni
menempuh hatimu hatiku keindahan diksi
Lamongan, Jatim
18 Februari 2025
——————————————–
——————————————–
Muslimin, panggilan Cak Mus. Lahir di Lamongan, Jatim, 20 Mei 1969. Setamat dari SMAN 2 Lamongan, kuliah di IKIP Negeri Surabaya jurusan Bahasa Indonesia. Mengajar sejak 1991 di MTs A. Wahid Hasyim Tikung, SMP-SMA Tashwirul Afkar Sarirejo, SMP Islam Tikung, PKBM Mahayana dan PKBM Mizan Lamongan. Aktif di PERGUNU Lamongan dan Lembaga Bahtsul Masail MWC NU Tikung Lamongan.
/9/
Batu di Puncak Gunung
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
————————————
Kawan,
Masih ingatkah kau ,
ketika dirimu katakan aku, keras kepala seperti batu?
Lihatlah,
Aku kini menjelma batu di puncak gunung,
memeluk waktu dalam sunyi.
Di bawahku, angin berlalu membawa kisah-kisah fana,
di atasku, bintang-bintang bernyanyi dalam bahasa cahaya.
Aku tak iri pada air yang terus bergerak,
tak rindu pada daun yang gugur dan lahir kembali.
Sebab keteguhan pun memiliki hikmahnya sendiri,
diam pun adalah bentuk keberadaan yang tak tergoyahkan.
Kadang aku ingin runtuh,
menjadi pasir yang diterbangkan angin,
menjadi debu yang menikmati kebebasannya sendiri.
Andaikan Tuhan menciptakanku sebagai batu,
agar mereka yang letih dalam perjalanan,
bisa bersandar sejenak,
dan menemukan kedamaian dalam diamku.
Sebab kita saling tahu,
ada kekuatan dalam kebisuan,
ada kebijaksanaan dalam keteguhan,
dan ada sejarah yang tak berubah,
ada hati yang memaafkan setelah berlalu amarah.
Padang, Sumbar, 2014
/10/
Sajak Rindu Pertiwi
Puisi oleh Dewi Farah
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jatim, Kreator Era AI]
————————————-
Di bawah langit biru yang melukiskan mimpi,
Rindu ini mengalir seperti sungai tak bertepi.
Bumi pertiwi,
engkau bagai ibu yang memeluk erat setiap langkahku.
Pertiwi, Ibu yang letih menggenggam waktu,
Ku lihat wajahmu yang dulu hijau kini pudar.
Tanahmu yang kerontang, retak-retak dalam bisu,
Seolah menanti belaian lembut hujan yang bersinar.
Hutanmu adalah nyanyian angin,
yang membisikkan cerita masa lampau.
Gunung-gunungmu menjulang tinggi,
Seperti penjaga setia peradaban yang abadi.
Pada setiap helai padi yang menari,
Tersembunyi harapan akan esok hari.
Sementara lautmu yang melambai penuh kasih,
Menggambarkan cinta yang tak berujung.
Dulu gemericik sungaimu bernyanyi riang
Kini hanya sunyi yang merengkuh dalam dekapan.
Namun, dalam retakan tanahmu yang kering,
Ada harap yang mengakar, menggapai langit harapan.
Rindu ini takkan pudar, meski waktu berlalu.
Dalam do’a kupinta hujan turun menyirami tanahmu,
Menyirami setiap jengkal dengan kasih sayang alam,
Agar rindu ini tak sekedar angan yang berlalu,
Tapi nyata dalam harmoni, dalam cinta yang dalam.
Pertiwi, engkau adalah nafas dalam setiap tarikan,
Yang menghidupkan cinta dan cita,
Seperti rindu yang senantiasa menyala
Yang menuntun langkah rinduku kepangkuanmu.
Madura, Jatim
20 Februari 2025
————————————
————————————
Dewi Farah merupakan Pengajar Bahasa dan Sastra di Pondok Pesantren Al Amien Boarding school 2007-2011, Pendiri Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini sekaligus Kepala Sekolah (PAUD Ar Rahmah Nurul Hidayah) Ds. Lembung Kec. Galis Kab. Pamekasan sejak 2012-sekarang, Pengurus Himpaudi sejak 2014-skrg. Koordinator Pusat angkatan’18 TMI Pi Al-Amien Boarding school.
/11/
Sebab Engkau Bukan Angka
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
————————————-
Wahai jiwa yang bertanya tentang waktu,
adakah ia sungai yang terus mengalir,
atau kaca yang bisa retak oleh tangan-tangan takdir?
Engkau mencari akhir dalam putaran langit,
namun tidakkah kau tahu, tiada yang benar-benar berlalu?
Setiap kata yang diucapkan,
setiap doa yang dipanjatkan,
akan tetap menggema dalam semesta.
Jangan takut pada detik yang melaju,
sebab engkau bukan angka dalam hitungan dunia.
Engkau adalah cahaya,
yang tak bisa redup meski malam menelan fajar.
Padang, Sumbar, 2014
/11/
Tangisan Awan
Puisi oleh Nuris Fatmawati
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jateng, Kreator Era AI]
————————————-
Terseok langkah ini entah ke mana ‘kan menuju
harapkan satu asa kentara.
Bak tangisan awan
Menggantung bersama pekatnya
Saujana,
Kurindu tangisan awan
Kuyakini ia ‘kan paham cerita kalbuku.
Terlukis indah bersama bingkai hari
Berlomba bersama detak detik kian kemari
Entah ke mana,
Kucari jawabnya
Kurindu tangisan awan
Kala jiwa hanya berteman sedu sedan
Mencari jalan hingga entahlah ….
Tiap saat hati gundah
Kau cerita terindah yang kutulis kala awan menangis
Kau lukisan nyata dari abstraknya
Kau adalah inspirasi tertuang dari semua sisi
Ya, kau pun paham mengapa diri memuji
Langkahkan kaki bersama Lewati aral penuh liku
Menanjak, lalu turun
Curam
Bersama tangisan awan,
setia basahi padang gersang
Temanggung, Jawa Tengah
23 Februari 2025
————————————
————————————
Nuris Fatmawati kelahiran Temanggung – Jawa Tengah, 20 Oktober 1982. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami bahasa daerah (Jawa), hobi menulis dengan huruf-huruf Carakan (Jawa). Memiliki 20an karya solo berbagai genre dan 60-an karya antologi berbagai genre. Lulusan SMK YPM 5 Panjunan-Sukodono, Sidoarjo – Jawa Timur tahun 2000. Anggota Satupena Jawa Tengah. Memiliki beberapa nama pena dikarenakan mengembangkan hobi menulisnya di platform online.
/12/
Janganlah Takut Menjadi Sunyi
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
————————————-
Wahai engkau yang berjalan di lorong sunyi,
tidakkah kau dengar bisikan angin,
membawa suara mereka yang telah berlalu?
Tiada yang benar-benar hilang,
sebab namamu bersemayam di langit yang luas,
dan jejakmu tertulis dalam hati yang masih mengingat.
Sebuah dedaunan gugur,
namun pohon tetap tumbuh.
Sebuah nyala lilin padam,
namun api tetap berpindah ke lentera berikutnya.
Janganlah takut menjadi sunyi,
sebab sunyi bukan kehampaan,
melainkan awal dari sebuah kehidupan
yang akan berbunyi di sela-sela waktu.
Padang, Sumbar, 2014
————————————
————————————
Leni Marlina aktif terlibat dalam dunia kepenulisan dan sastra, khususnya sebagai anggota Komunitas Penulis Indonesia (SATU PENA, cabang Sumatera Barat) sejak didirikan pada tahun 2022, serta sebagai bagian dari Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Ia juga merupakan anggota Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional (ACC) di Shanghai, dan pada tahun 2024, ia dianugerahi peran sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Perjalanannya di dunia sastra mencakup keterlibatan sebelumnya dengan Victorian Writers Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia dengan penuh dedikasi mengajar sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Di luar bidang akademik dan sastra, Leni juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada bahasa sastra, literasi pendidikan, dan pemberdayaan sosial. Komunitas-komunitas tersebut meliputi:
✨ 1. World Children’s Literature Community (WCLC) – https://shorturl.at/acFv1
✨ 2. Poetry-Pen International Community – Wadah bagi ekspresi puisi global
✨ 3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat) – Indonesia: The Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations. https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
✨ 4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia) – https://rb.gy/5c1b02
✨ 5. Linguistic Talk Community – Ruang diskusi tentang bahasa
✨ 6. Literature Talk Community – Wadah bagi para pecinta sastra
✨ 7. Translation Practice Community – Menjembatani bahasa melalui penerjemahan
✨ 8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C) – Mendukung perkembangan bahasa dan literasi.