“Keagungan di Kaki Bukit Barisan”
Oleh: Bruno Rumyaru
–
Embun pagi masih menggantung di pucuk-pucuk kopi saat Dara menapakkan kaki di ladang milik keluarganya. Bukit Barisan menjulang angkuh di kejauhan, barisan hijau yang menjadi pelindung sekaligus saksi bisu kehidupan desa mereka sejak ratusan tahun lalu.
“Bangun pagi benar kau, Dara,” sapa Pak Danu, tetangganya yang lebih tua, sambil memanggul karung berisi pupuk organik.
Dara tersenyum sambil mengangguk. Ia membawa seember air dan beberapa bibit kopi jenis Arabika yang baru ia dapatkan dari pelatihan petani muda. Di usianya yang baru 24 tahun, Dara adalah satu-satunya dari generasi muda di desanya yang memilih tetap tinggal dan bertani.
“Aku tak bisa meninggalkan tanah ini, Pak,” ujarnya suatu kali. “Bukit Barisan bukan cuma latar desa ini. Ia adalah jiwa kita.”
Dulu, ketika ayahnya masih hidup, Dara sering diajak mendaki kaki bukit. Dari sana, desa terlihat seperti titik-titik kehidupan kecil di tengah hamparan hijau. Ayahnya kerap berkata, “Di atas sini, kita bisa melihat lebih jernih: siapa kita, dan apa yang kita jaga.”
Kini, ayahnya sudah tiada. Tapi setiap pohon kopi yang tumbuh adalah jejak semangatnya.
Tiba-tiba langit mendung. Angin dari arah barat membawa bau hujan. Dara mempercepat tanamannya, menancapkan bibit satu per satu ke tanah basah. Hujan pertama musim tanam adalah berkah. Ia menatap puncak bukit yang mulai diselimuti kabut.
Di tengah guyuran hujan, ia berdiri tegak, memandang lereng yang megah dan sunyi. Dalam gemuruh awan dan semilir angin, Dara merasa seolah bukit itu berbicara—bukan dengan kata-kata, tapi dengan ketenangan agung yang membasuh segala letih.
Bukit Barisan tidak pernah meminta untuk diagungkan. Namun bagi Dara, keagungannya terletak pada keteguhan: menjaga tanah, menyimpan air, dan menghidupkan harapan bagi mereka yang memilih tinggal.