April 17, 2026

(untuk WS Rendra)
Era Nurza

Engkau bukan sekadar penyair
engkau adalah gelegar yang menembus langit diam
menyulut api dalam dada bangsa
dengan kata yang berani menatap mata zaman

Di tanganmu kata menjelma senjata
menembus kebisuan menggugat kebodohan
sementara teater menjadi altar suci
tempat manusia belajar menjadi manusia

Suaramu pernah menggema di ruang-ruang sunyi
menyentuh hati rakyat yang lapar makna
mengguncang penguasa yang lupa pada nurani
dan mengajari kami bahwa seni bukan hiasan
melainkan nyala perjuangan, dan kesetiaan

Engkau sang Merak dari Depok
membentangkan sayap warna-warni perlawanan
menyanyikan cinta dalam bentuk kejujuran
menyulam luka bangsa menjadi puisi yang abadi
Kami membaca jejakmu di setiap naskah dan nafas
menemukan keberanian di balik metafora
dan belajar bahwa penyair sejati
adalah ia yang menulis dengan darah nuraninya sendiri

Rendra namamu adalah gema panjang
tak lekang meski teatermu senyap
tak pudar meski tubuhmu rehat
Kata-katamu tetap berbaris, gagah dan setia
menjaga bara di dada generasi muda

Engkau telah menaklukkan badai dengan pena
menjinakkan amarah menjadi seni
dan menulis kemerdekaan di langit puisi
Kini kami bersyair di bawah bayangmu
dengan bangga dan penuh hormat
karena dari tanganmu kami belajar arti merdeka
dalam berpikir berpuisi dan mencintai bangsa

Salam hormat, untukmu Sang Maestro,
Penjinak Badai Kata.

Kuala Lumpur, 10 Oktober 2025