April 18, 2026
Ketika Cahaya dan Gelap Bertemu

yusuf achmad

Saat panas menjelang, aku ragu pada ilalang. Saat mentari
bersinar di Nyamplungan, masihkah pedulimu menjalar? Bukan
seperti senyum penuh bisa, saat ular tak melingkar.
Kala hujan turun sesukanya, bukan karena awan disemai. Saat
cinta itu terucap mulus, bukan kata tersemai bagus. Samakah
berkah langit diterima Abu Nawas, dengan kupinta padamu
bersua?

Ketika bertanya pada awan, sia-sia, ia mencair sudah.
Menantimu, masihkah, saat tahunku terus mengalir. Ketika tak
akan sampai pada hujan. Ketika ia berhenti menjadi butiran.
Sewaktu patahan lilin simbol kasih, kuhancurkan warna jingga
atau merah hati. Kuinjak-injak tanah subur bertumbuh melati,
kurobek-robek simbol hati. Bisakah lilin utuh lagi? Akankah
warna itu kembali?

Saat engkau tak hirau, hanya maumu sendiri.
Kuurungkan robeknya arti simbol hati, agar melati berpadu
sanubari. Kuteladani tanah tak terbakar api, kuingin menjadi
melati tetap putih. Agar rasa engkau resapi arti berbagi,
mungkinkah engkau mengerti? Dalam terpaksa, diam tanpa
huruf atau tanda, bersama merajut waktu