April 18, 2026

(Balada Hitam Tentang Alam yang Dirobek Demi Logam yang Tak Pernah Kenyang)

Oleh: Rizal Tanjung

I

Wahai tanah yang dulu disisir angin laut,
yang dilukis Tuhan dengan kelapa bersayap burung,
hari ini tubuhmu dilubangi seperti jantung babi hutan
yang diburu untuk pesta para tuan tambang.

Mereka datang bukan membawa doa,
tapi peta geologi dan kontrak tambang,
dengan senyum seperti malaikat
dan cakar seperti mesin bor.

Mereka tak paham,
bahwa nikel di perutmu adalah jiwa yang tidur,
bukan emas—
tapi darah arwah moyang yang tak bisa dijual per kilogram.

II

Lihatlah!
Bukit itu dulu bernama “Sasisen”,
tempat leluhur menyalakan api dari batu yang bersih.
Kini ia digunduli,
dibor, dilukai, dijadikan statistik.

Hutan tak lagi berbisik,
ia kini batuk dalam debu tailing,
pohon matoa merintih dalam hujan asam,
dan sungai mengalirkan cerita patah dari akar merambat.

Mereka menulis laporan kemajuan,
tapi tak mencatat suara anjing hutan yang tersesat
di jalan hauling yang membelah hutan seperti luka Caesar.

III

Nikel, oh nikel,
kau kekasih yang membuat manusia mabuk seperti bir murah,
kau diangkat lebih tinggi dari langit
dan ditukar dengan nyawa-nyawa sunyi
yang tak pernah punya KTP kota.

Engkau logam dari kerak bumi,
tapi kini engkau adalah dalih—
untuk merobek celana dalam pulau
dan menancapkan tiang-tiang raksasa
ke dalam rahim ibu bumi.

Apakah kau sadar, wahai nikel,
kau dibawa ke kota untuk jadi baterai mobil listrik,
sementara kampung yang melahirkanmu
tak lagi punya air minum bersih?

IV

Kura-kura tak lagi pulang ke pantai,
sebab pasirnya kini diselimuti tumpahan oli,
dan langit tak lagi jingga,
tapi abu,
seperti napas terakhir seekor kasuari yang ditabrak ekskavator.

Burung-burung migran tak paham arah,
terumbu karang jadi reruntuhan piknik sonar,
dan teri-teri kecil,
anak-anak Tuhan yang lahir dari air asin,
menjadi bangkai tak bernama
di kolam sisa tambang yang disebut “penampungan”.

Raja Ampat bukan lagi puisi,
tapi laporan kerusakan ekosistem yang dilaminasi
oleh para pemilik saham
yang tak tahu bentuk bulan purnama di sana.

V

Hei, kalian para investor bersepatu licin,
dengar kami tertawa:
bukan karena lucu,
tapi karena lelah menjerit dalam bahasa yang tak kalian terjemahkan.

Kami menonton kalian menari
di atas kuburan kampung kami,
sambil meminum air dalam botol berlabel “eco,”
sementara kami minum dari parit merah
yang dulunya sungai tempat nenek kami mandi bulan.

Kalian bilang “izin tambang sudah sah,”
tapi adakah surat izin dari leluhur?
Dari roh hutan?
Dari camar yang kehilangan pantai?

Kalian bicara pasal dan angka,
tapi tanah ini bicara dengan aroma tanah basah,
bukan pasal hukum
yang dibuat jauh dari pohon sagu.

VI

Kami tak butuh pidato Menteri,
kami butuh bulan kembali ke danau,
kami butuh karang kembali bernyanyi,
dan hutan bernapas tanpa respirator CSR.

Kalau pun kalian harus menambang,
jangan kalian rompak juga hati kami.
Jangan lukai batu,
jangan perkosa sungai
lalu menyebut itu “inovasi hijau.”

Sebab kelak,
yang akan tertinggal hanyalah lubang
dan batu nisan tanpa nama
yang bertuliskan:

“DI SINI BERSEMAYAM ALAM YANG DULU PENUH BUNGA
TAPI MATI OLEH LOGAM YANG TAK PERNAH CUKUP.”

VII

Alam tak membalas,
dia hanya mencatat.

Dia tidak berdarah,
tapi ia mengingat siapa yang menusuk.

Ia tidak demo di jalan,
tapi dia menggerakkan tanah
dan menggugurkan langit
saat waktunya tiba.

Raja Ampat bukan neraka,
tapi akan menjadi neraka
bagi manusia yang menjadikannya ladang penjarahan.

Dan kelak,
ketika semua nikel kalian habis—
tinggallah kita di tengah puing-puing surga
yang hancur oleh hasrat yang terlalu murah
untuk membeli keabadian.

Sumatera Barat,2025