April 19, 2026
lina

Gambar: Ilustrasi kumpulan puisi Leni Marlina: “Ilmu dan Nurani Kemanusiaan”. Sumber Gambar: Starcom Indonesia’s Cover No. 33. 14012026–LM.

/1/

SEBELUM KAMI TAHU

Puisi: Leni Marlina

Kami belum tahu apa itu kata
ketika dunia lebih dulu menampar lidah dengan pahit
dan menjejalkan bau besi ke paru-paru.

Kami belajar dari luka asin dan keras kepala,
dari napas tersangkut di dada
yang tak pernah diberi izin bernama.

Bahasa datang terlambat,
menyeret diri dengan kaki pincang,
memunguti suara tercecer,
lalu memaksa menertibkan hidup.

Jangan paksa kami sempurna dan lurus.
Hidup tak selalu rapi.
Ia compang-camping, berdarah,
namun tetap memaksa kami berdiri.

Buku-buku membuka tubuhnya pelan,
hangat, berdenyut,
seperti daging yang ingin dipercaya.
Debu mengendus tangan dan bertanya:
kau datang untuk memahami dan berkarya
atau sekadar ingin tahu lalu berkuasa semena-mena?

Tempat ini mungkin tak aman bagimu.
Ia lorong sempit
tempat kami menurunkan kepala,
mengencangkan napas,
dan bersumpah:
lebih baik sementara bodoh tapi merasa
daripada pandai sesaat
namun mati rasa seperti mayat berdiri.
_

Melbourne, Australia, 2012

/2/

ILMU DAN NURANI KEMANUSIAAN

Puisi: Leni Marlina
_

Wahai Guru, engkau bilang
ilmu tak jatuh dari langit;
ia merayap dari luka asin,
melekat di lidah,
menolak sembuh agar ingatan tetap perih.

Pagi menerobos kepala
dengan napas tanah basah,
duduk di nurani tanpa permisi,
memaksa mata belajar melihat
tanpa palu vonis.

Kata-kata kami pikul seperti tulang patah;
letup pecah di telinga zaman,
sunyi menua di lipatan kulit,
kenyang dijejali kebenaran
tanpa sempat ditanya.

Buku-buku berdenyut di rak pengap;
halaman hangat seperti dada ingin dipeluk.
Debu tahu pengetahuan tak mati,
ia cuma menunggu
tangan jujur datang.

Belajar bukan mengisi rongga,
melainkan mengetuk tulang sampai sadar batas;
berpikir bukan naik,
melainkan membungkuk
hingga punggung sakit
dan kaki mengenal tanah.

Pengetahuan menanggalkan alas kaki,
duduk di lantai derita;
tangan gemetar menyentuh luka orang lain,
mendengar jerit tanpa arsip,
mencium bau takut tanpa nama.

Dunia menuntut cepat, kami menolak.
Pendidikan kami jadikan api kecil di dada,
cukup hangat agar tetap manusia:
bukan mesin cerdas,
bukan mulut penuh istilah,
melainkan tubuh dan jiwa berbelas.

Guru, engkau telah tiada,
namun suaramu menumbuk darah kami;
kami berjalan membawanya ke mana pun,
sebab hidup bukan sekadar kejayaan,
melainkan taruhan
pada nurani kemanusiaan.
_

Melbourne, Australia, 2012

/3/

RAK BUKU SETELAH JAM PULANG

Puisi: Leni Marlina

_

Rak buku berdiri seperti paru-paru tua,
menghirup senyap, menghembuskan debu
beraroma besi, jamur, dan kertas letih.

Kayunya mengingat tekanan bahu waktu;
retaknya berdecit lirih
saat pikiran mendekat
lalu mundur
tanpa membuka apa pun.

Debu menyusun arsip sunyi,
menulis kalender dengan jari abu-abu:
di sini tangan ragu pernah singgah,
di sini niat runtuh
sebelum sempat bernama.

Halaman berdenyut pelan,
hangat, nyaris berkulit,
menyimpan bisik
yang melekat di telinga
lebih lama
daripada nasihat keras.

Pengetahuan tak meminta dihafal.
Ia mengunyah tahun-tahun,
meludahkan kesimpulan setengah matang,
lalu tersenyum kecil
saat seseorang membaca
tanpa ingin unggul.

Ketika ruang kosong,
rak tak kesepian.
Ia tahu:
kesabaran adalah bentuk tertinggi
dari kebijaksanaan
yang belum dipanggil pulang.
_

Melbourne, Australia, 2012

/4/

CATATAN DARI RUANG BELAJAR

Puisi: Leni Marlina
_

Ruang belajar kadang berbau kapur patah,
spidol aus, keringat ditahan;
udara menggumpal pahit
seperti napas tertelan di tenggorokan.
Kadang ia sejuk:
labor komputer, pendingin berkilau,
mesin berdengung halus
seperti doa diucapkan penuh sabar.

Namun dinding selalu sama:
menelan bisik, menyimpan rahasia lidah.
Lantai hafal jejak sepatu
datang membawa harap,
pulang menenteng beban baru
di punggung hari.

Belajar bermula
ketika keyakinan patah di dalam mulut:
bunyi keringnya hanya didengar sendiri;
asin, memalukan,
tak bisa ditelan,
tak berani diludahkan.

Meja-meja menegakkan punggung kayu,
menghafal siku, denyut nadi,
getar kecil sebelum suara lahir.
Jam berdetak seperti jantung asing,
memaksa pikiran berlari
saat jiwa ingin duduk dan bernapas.

Pengetahuan menanggalkan alas kaki.
Ia berjalan di atas cerita orang lain,
telapak kakinya lecet oleh jerit
yang tak pasti masuk arsip.
Ia mencium bau takut,
bau gagal,
bau harapan mati di tengah kalimat.

Di titik ini pendidikan disalahartikan:
diminta serba cepat,
mulus, licin, siap saji.
Ia dipaksa tersenyum
senyum itu
mematahkan leher waktu,
menyeka darah dengan istilah,
menamai luka agar tampak rapi.

Kami memilih berhenti sejenak
tanpa berhenti bergerak.
Berjalan lambat sambil mendengar
hingga telinga perih,
hingga punggung panas.
Sebab hanya melalui rasa sakit
ilmu belajar bernapas,
dan nurani tak tumbuh sebagai hiasan,
melainkan sebagai luka
yang memilih tetap terbuka,
agar manusia tak lupa
cara merasa
dan peduli sesama.
_

Melbourne, Australia, 2012

/5/

KAMI BELUM SELESAI

Puisi: Leni Marlina
_

Jangan tutup buku itu cepat-cepat.
Sunyi belum selesai bekerja
di tulangmu.

Kata-kata runtuh dari makna,
tinggal denyut
di dada, di pelipis,
di langkah yang tak lagi ringan.

Tak semua bacaan pantas dihafal.
Sebagian harus dibiarkan
menjadi bau:
bau takut yang kau kenal,
bau luka yang kau akui,
bau derita kemanusiaan
yang tak bisa kau sangkal.

Ilmu jangan kau banggakan.
Ia harus belajar menunduk,
melepas sepatu,
berjalan di atas perih orang lain
tanpa pamrih.

Jika puisi ini meninggalkan sesuatu,
biarlah itu kegelisahan
menahan tanganmu
sebelum menghakimi,
membisukan lidahmu
sebelum merasa paling tahu.

Kami belum selesai.
Belajar pun belum tuntas.
Selama tubuh masih bisa sakit
dan hati masih bisa gemetar,
kami memilih hidup dengan sadar,
dengan luka,
dan dengan kemanusiaan
yang kami peluk erat,
meski dunia ingin kami lepaskan.
_

Melbourne, Australia, 2012

——-

Image: the translator & Indonesian Poet – Leni Marlina. Image source: PILF 2026 (Panorama International Literature Festival 2026).

Tentang Penyair – Leni Marlina

Leni Marlina lahir di Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan saat ini berdomisili di Padang, Sumatera Barat. Ia adalah penyair, penulis, dan dosen Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sejak tahun 2006. Karya terbarunya antara lain kumpulan puisi tunggal The Beloved Teachers (2025) dan L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), serta trilogi English Stories for Literacy (2024–2025).

Selain menulis puisi, Leni juga aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, dan resensi, serta menerjemahkan berbagai teks sastra dan jurnalistik untuk platform digital nasional dan internasional. Karya-karyanya secara konsisten menempatkan bahasa sebagai ruang refleksi, empati, dan peneguhan martabat kemanusiaan.

Di samping aktivitas akademik, Leni terlibat aktif dalam jurnalisme sastra dan kebudayaan. Ia bekerja sebagai penulis lepas dan kontributor di berbagai platform digital, serta dipercaya sebagai editor dan redaktur di sejumlah media. Di antaranya adalah Suara Anak Negeri News (suaraanaknegerinews.com) dan Negeri News (negerinews.com), yang berfokus pada isu-isu pendidikan, literasi, sastra, kebudayaan, serta nilai-nilai kemanusiaan. Kedua media tersebut digerakkan oleh komitmen yang sama, yakni “menyuarakan mereka yang tak bersuara”.

Kontribusi Leni dalam dunia sastra telah memperoleh pengakuan di tingkat nasional dan internasional. Ia menerima penghargaan Penulis Terbaik 2025 dari SATU PENA Sumatera Barat pada ajang The 3rd International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Ia juga meraih ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre serta mendapat penghormatan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam (2025).

Sejak tahun 2025, Leni dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA), sekaligus menjabat sebagai Direktur ASEAN untuk ACC SHILA Poets. Pada tahun yang sama, ia ditunjuk oleh Capital Writers International Foundation sebagai Direktur Nasional (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) yang diselenggarakan di India pada Januari–Februari 2026.