Lagu Cinta di Negeri Sunyi
Lagu Cinta di Negeri Sunyi
Karya: Rizal Tanjung
I.
Di kaki Gunung Wutai,
tempat biksu-biksu menimbang sunyi dalam denting doa,
kami menanam kata—seperti biji sajak di ladang kekosongan.
Bunga-bunga liar, belum juga bernama,
bermekaran dari sisa napasmu yang belum sempat menjadi janji.
Angin belum sempat membawa doa ke langit
yang masih kosong seperti kertas sutra di kuil tua Luoyang.
Kau duduk di atas batu,
aku bersila di rerumputan yang menghafal langkahmu.
Tak ada janji,
hanya tatapan yang lebih dalam
dari telaga suci di Gunung Wutai
—dan dari situ, cinta pun diam-diam berdoa
tanpa suara.
II.
Lonceng pertama dari Biara Shaolin menggema,
memecah pagi seperti cermin perunggu dari Dinasti Han.
Dari celah kabut yang turun perlahan di Lembah Henan,
kau berjalan mendekat—bukan sebagai kekasih,
melainkan bayang dari masa silam
yang memilih jalur sunyi seperti pertapa.
Aku tak bertanya,
sebab suaramu telah berubah menjadi daun musim gugur.
Aku hanya mendengar:
suara jubahmu menyapu tanah,
lirih seperti sutra diukir hujan
atau kenangan yang luruh satu per satu
di pelataran kuil putih Hangzhou.
III.
Kami bertemu di atas Jembatan Pecinta di Suzhou,
di antara dua embun
yang tak sempat jatuh ke bunga lotus.
Aku membawa senyap dari malam-malam di Gobi,
kau membawa cahaya
yang tak lagi mengenalku sebagai rumah.
Tak ada kata,
hanya seberkas senyum
yang terbit dari langit batin,
bukan dari bibirmu yang telah menjadi altar
tempat doa tak diucapkan.
Langit pun menunduk malu.
Burung-burung tak jadi terbang di atas Danau Barat.
Dan hutan pinus di Zhangjiajie—
diam seperti pusara pertama
yang baru disirami airmata.
IV.
Di tepian Sungai Yangtze,
aku melempar namamu ke arus yang tak kembali.
Ikan koi berputar-putar dalam lingkaran tanya,
seolah mengerti bahwa aku mencintai
yang tak bisa kupeluk lagi.
Gugusan awan menulis puisi dalam huruf langit,
tapi aku tak bisa membacanya.
Barangkali itu adalah bait-bait rahasia
yang hanya bisa dipahami oleh langit Wudang,
tempat cinta dan kungfu sama-sama
menjadi bentuk tertinggi dari kesabaran.
V.
Aku naik ke puncak Huangshan,
menanyakan namamu pada batu-batu karst yang tabah.
Gunung diam,
angin hanya menggeser kabut.
Bambu-bambu menunduk dalam pengertian,
bukan karena menjawab,
tapi karena tahu:
cinta yang suci
tak tumbuh di altar yang disucikan kesunyian.
VI.
Malam ini, aku bersujud pada kekosongan
di bawah langit Xi’an yang pernah menyaksikan jutaan doa.
Namamu adalah mantraku
yang tak membutuhkan bahasa,
seperti kaligrafi yang hanya bisa dibaca
oleh mata batin.
Aku mencintaimu—
bukan untuk memiliki,
melainkan untuk membiarkanmu menjadi bintang
yang menuntun kafilah sunyi
melewati lorong waktu Dinasti Tang.
VII.
Di lereng timur Guilin,
aku menyalakan lentera dari harapan.
Tapi apinya telah kau bawa
ke dalam keheningan yang tak lagi mengenalku.
Namun jika engkau mendengar—
di antara desir bulu camar di Danau Poyang,
atau di celah hujan yang tertahan di rerimbun Yunnan—
ketahuilah:
aku masih menunggu,
bukan tubuhmu, bukan suaramu,
melainkan sunyi yang pernah kita ciptakan
bersama,
seperti melodi yang hanya bisa dimainkan
oleh hati yang telah patah
dan tetap menyanyikan cinta.
VIII.
Di Minangkabau aku terjaga—
tapi jiwaku masih tertinggal
di balik tembok kota kuno di Pingyao,
berjalan sendiri melewati pasar malam,
mencari bayanganmu
di balik kipas-kipas sutra,
dalam mimpi yang tak selesai.
Sumatera Barat,2025
Tentang Penulis:
Rizal Tanjung adalah penulis, esais, dan penyair yang dikenal dengan gaya penulisan puitis, reflektif, dan sarat metafora. Karyanya sering menjelajahi ruang sunyi antara cinta, spiritualitas, dan sejarah Timur yang terlupakan. Ia banyak terinspirasi oleh lanskap Asia, ajaran Zen, serta filosofi-filosofi kuno, dan mengolahnya menjadi syair-syair kontemplatif bernuansa lirih. Lagu Cinta di Negeri Sunyi adalah salah satu karya khasnya yang memadukan perjalanan batin dengan tapak-tapak geografis dari Tiongkok kuno hingga ranah Minangkabau.