April 17, 2026

Antologi Puisi
Oleh: Rizal Tanjung

1
Puisi Adalah Lidah Semesta

Puisi adalah lidah semesta
yang menuturkan bahasa bunga kepada lebah,
bahasa ombak kepada batu karang,
bahasa matahari kepada embun yang cepat hilang.

Politikus berpidato di podium tinggi,
tapi pidatonya hanya bising—
sementara sehelai puisi kecil
yang ditulis bocah di buku lusuhnya
lebih abadi daripada seribu manifesto negara.

Puisi adalah lidah yang tak bisa dijahit,
tak bisa dibungkam dengan sensor atau palu hakim.
Ia menembus pagar,
menyusup ke dalam kamar gelap,
menyusuri sel penjara,
dan tiba-tiba bersuara dari bibir orang yang bahkan tak tahu ia sedang bersyair.

2
Darah yang Mengalir di Nadi Sejarah

Sejarah ditulis oleh pemenang,
tapi denyutnya ditulis oleh penyair.
Pedang bisa menaklukkan kota,
namun puisi menaklukkan abad.

Darah para syuhada yang tumpah di tanah
mengalir menjadi sungai kata-kata.
Setiap jerit ibu yang kehilangan anak
adalah bait panjang yang tak bisa dihapus sensor.
Dan setiap tawa bocah di tengah reruntuhan perang
adalah metafora paling satire tentang kekuatan hidup.

Sejarah bisa berbohong,
tapi puisi adalah saksi yang tak pernah menerima suap.

3
Jembatan Rahasia

Ada jembatan yang tak terlihat mata,
dibangun bukan dari besi atau beton,
melainkan dari huruf-huruf yang terhubung
antara seorang kekasih di timur
dan seorang kekasih di barat.

Jembatan itu tak pernah masuk peta,
tapi ia lebih nyata daripada rel kereta.
Di atas jembatan itu, bangsa-bangsa berjalan tanpa paspor.
Di bawah jembatan itu, air mata jatuh dan menjadi sungai yang menyatukan.

Politik memutuskan batas negara,
tapi puisi selalu menyambungkan.

4
Burung di Hutan Sunyi

Ada burung yang bernyanyi di hutan sunyi,
dan tidak ada manusia yang mendengarnya.
Namun lagu itu tetap ada,
karena ia tidak bernyanyi untuk tepuk tangan.

Begitu pula puisi sejati:
ia tidak menunggu panggung,
tidak menunggu hadiah,
tidak menunggu festival.
Ia bernyanyi karena ia harus bernyanyi.

Burung itu—adalah penyair.
Hutan itu—adalah dunia.
Keheningan itu—adalah saksi.

5
Ombak yang Tak Pernah Letih

Puisi adalah ombak yang tak pernah berhenti,
meski pantai telah berkali-kali melupakannya.
Ombak terus datang,
dan puisi terus ditulis.

Politik adalah istana pasir:
sebentar lagi runtuh.
Ekonomi adalah kapal kayu:
sebentar lagi lapuk.
Tapi puisi adalah ombak:
tak pernah letih,
tak pernah berhenti,
tak pernah mati.

6
Mata Air yang Tak Pernah Kering

Ada mata air yang tersembunyi di gunung sunyi,
ia terus mengalir meski manusia tak pernah ke sana.
Itulah puisi.

Ia adalah mata air rahasia,
yang bisa diminum siapa saja,
tapi tidak bisa dimiliki siapa pun.

Para penguasa ingin menutupnya dengan batu,
tapi air akan mencari celah.
Para tiran ingin meracunnya,
tapi ia tetap jernih.

Puisi adalah mata air yang mengalir
bahkan di tanah paling tandus.
Dan siapa pun yang minum darinya,
akan menemukan dirinya sendiri.

7
Bunga yang Tumbuh di Reruntuhan

Di antara reruntuhan kota yang hancur,
ada bunga liar yang tumbuh dengan berani.
Tak ada taman, tak ada tukang kebun,
hanya puing-puing dan debu yang menutup langit.

Bunga itu—adalah puisi.
Ia tumbuh bukan untuk dipuji,
tapi untuk menertawakan kehancuran.

Betapa satire dunia ini:
meriam membunuh seribu manusia,
tapi satu kelopak bunga
lebih abadi daripada sejarah perang.

8
Surat yang Tak Pernah Sampai

Ada surat yang ditulis dengan tinta air mata,
dimasukkan ke dalam botol,
dan dilempar ke laut tak bernama.

Mungkin ia takkan pernah sampai ke tanganmu.
Mungkin ia hanya akan terapung-apung
sampai pecah di karang.
Namun bukan itu tujuannya.

Surat itu ditulis bukan untuk dibaca,
tapi untuk melepaskan beban dada.
Begitu pula puisi—
kadang ditulis bukan untuk dunia,
melainkan untuk menyembuhkan penulisnya sendiri.

9
Cermin yang Retak

Puisi adalah cermin yang retak.
Ia tidak memantulkan wajah kita dengan sempurna,
tapi justru karena itu kita melihat kebenaran.

Politikus selalu ingin cermin yang memoles wajah,
agama sering ingin cermin yang hanya menampilkan surga,
tapi puisi memberi kita pecahan kaca
yang membuat kita sadar:
kita ini rapuh, kita ini penuh luka.

Dan di balik retakan itulah,
kecantikan manusia bersembunyi.

10
Sungai yang Menolak Diam

Sungai mengalir, membawa rahasia hutan ke laut.
Begitulah puisi:
ia tidak bisa ditahan,
ia akan mencari jalan meski dibendung seribu kali.

Penguasa membangun bendungan sensor,
namun puisi menyusup lewat rembesan kecil.
Ia mengalir lewat celah-celah batu,
dan akhirnya sampai ke muara kebebasan.

Sungai bisa dipetakan,
tapi puisi adalah arus liar—
ia mengalir bahkan di tanah yang kering.

11
Kota yang Terbuat dari Kata-kata

Bayangkan sebuah kota,
bukan dari beton dan baja,
melainkan dari huruf dan sajak.

Di sana jalan-jalan terbuat dari metafora,
lampu-lampu terbuat dari rima,
dan rumah-rumah dibangun dari bait panjang.

Di kota itu, tak ada polisi yang melarang mimpi,
tak ada birokrasi yang membunuh imajinasi.
Hanya ada anak-anak yang bermain di alun-alun
sambil membaca puisi kepada burung merpati.

Itulah kota yang kucari—
dan setiap kali aku menulis,
aku sedang membangunnya.

12
Tawa di Tengah Kuburan

Di tengah kuburan yang penuh batu nisan,
tiba-tiba terdengar tawa.
Bukan tawa hantu,
melainkan tawa puisi yang mengejek kematian.

Betapa berani kata-kata:
di saat tubuh membusuk,
ia tetap hidup,
menertawakan maut yang congkak.

Puisi adalah tawa yang tak bisa dimakamkan.
Ia berdiri di atas liang lahat
dan berkata kepada kematian:
“Kau mungkin menang sekali,
tapi aku menang selamanya.”

13
Kekasih yang Tak Pernah Tua

Semua kekasih menua,
rambut memutih, wajah keriput,
tapi puisi tidak.

Puisi yang kutulis seratus tahun lalu
tetap muda ketika kau membacanya hari ini.
Ia tidak tahu keriput,
tidak tahu uban,
tidak tahu sakit pinggang.

Inilah satire waktu:
manusia bisa mati,
tapi cinta dalam puisi tetap segar
seperti bunga yang baru mekar pagi ini.

14
Menyulam Luka Menjadi Lagu

Ada luka yang terlalu dalam untuk dijahit,
tapi puisi datang membawa jarum cahaya.
Ia tidak menutup luka,
ia menyulaminya menjadi lagu.

Kau mungkin masih berdarah,
tapi dari darahmu lahir musik,
dari tangismu lahir simfoni,
dari hancurnya hatimu lahir keindahan
yang membuat orang lain bisa bertahan hidup.

Puisi adalah ironi terindah:
ia membuat luka bernyanyi.

15
Bayangan di Dinding

Di sebuah penjara tua,
seorang tahanan menulis puisi di dinding
dengan arang dari bekas api kecil.

Ia tahu besok puisinya akan dihapus sipir.
Ia tahu besok tubuhnya bisa dihukum.
Tapi bayangan puisinya akan tetap tinggal,
menempel di mata orang-orang yang sempat membacanya.

Puisi adalah bayangan yang tak bisa ditangkap.
Ia akan menempel pada dinding,
pada udara,
pada hati—
bahkan ketika penulisnya sudah tiada, ia tetap ada.

16
Pohon yang Menyimpan Rahasia

Ada pohon tua di tengah padang,
akarnya menembus tanah penuh kerangka,
daunnya berdesir membawa kisah yang tak pernah ditulis.

Setiap kali angin lewat,
pohon itu berbisik,
dan siapa pun yang peka
akan mendengar suara puisi.

Ia menyimpan rahasia para kekasih
yang mencuri waktu di bawah naungannya,
menyimpan doa orang miskin
yang tak pernah sampai ke langit,
dan menyimpan sumpah orang-orang berkuasa
yang akhirnya patah bersama rantingnya.

Puisi adalah pohon itu:
tumbuh diam-diam,
namun menyimpan seluruh sejarah manusia.

17
Malam yang Menolak Tidur

Ada malam yang penuh bintang,
namun tak ada satu pun yang bisa membuatku tidur.
Di kepala, kata-kata berlari,
mencakar jendela seperti kucing lapar.

Aku menyerah, menyalakan lampu,
dan menulis.
Malam itu menolak tidur,
karena puisi sedang ingin lahir.

Maka, jangan percaya pada waktu istirahat.
Kadang puisi datang justru ketika tubuh ingin rebah.
Ia adalah pencuri yang masuk diam-diam,
menjarah kelelahanmu,
dan mengubahnya menjadi cahaya.

18
Air Mata yang Menjadi Sungai

Seseorang menangis begitu lama,
hingga air matanya menjadi sungai kecil.
Orang lain datang,
minum dari sungai itu,
dan merasa sejuk di hatinya.

Begitulah puisi bekerja:
kesedihan satu orang
bisa menjadi penghiburan bagi banyak jiwa.

Satire terbesar:
air mata yang selama ini dianggap kelemahan
justru menjadi sumber kekuatan.
Romantika terindah:
kesedihan yang mendekatkan manusia
lebih dari seribu pesta.

19
Perjamuan Kata-kata

Bayangkan sebuah meja panjang,
di atasnya tersaji roti, anggur, buah, dan madu.
Namun semua itu hanyalah kata-kata.

Penyair mengundang siapa saja:
orang miskin, orang kaya,
penganut semua agama,
bahkan mereka yang tak percaya apa pun.

Di meja itu, kita makan dari piring puisi,
minum dari cawan metafora,
dan tertawa oleh candaan satire.

Dan yang paling indah:
tak seorang pun pulang lapar.

20
Jendela yang Tak Pernah Ditutup

Ada rumah yang jendelanya tak pernah ditutup.
Hujan masuk, angin masuk,
bahkan burung singgah dan membuat sarang.

Rumah itu—adalah puisi.
Ia selalu terbuka:
untuk kesedihanmu,
untuk cintamu,
untuk amarahmu.

Terkadang terlalu terbuka,
hingga pencuri pun bisa masuk:
pencuri makna,
pencuri tafsir.
Namun itulah risikonya.
Lebih baik menjadi rumah dengan jendela terbuka
daripada benteng yang berlumut dalam kesepian.

21
Surat Cinta kepada Abad yang Letih

Wahai abad dua puluh satu yang kelelahan,
puisi menulis mu surat cinta.

Kami tahu kau penuh asap pabrik,
penuh algoritma dingin,
penuh manusia yang berlari mengejar layar.
Namun kami juga tahu kau masih punya rahim
untuk melahirkan bintang baru.

Puisi tidak datang untuk memujimu,
ia datang untuk mengingatkan:
jangan sampai kau lupa
bahwa teknologi tanpa cinta
hanyalah mesin yang memproduksi sunyi.

22
Burung yang Menyanyi di Sangkar Besi

Burung itu kecil,
sayapnya patah,
namun ia tetap menyanyi.

Begitulah puisi.
Ia tidak menunggu kebebasan
untuk bersuara.
Ia justru bernyanyi paling keras
ketika dunia mengekangnya.

Romantika burung itu adalah suaranya,
satirenya adalah sangkarnya,
dan metafora terbesarnya adalah hidup kita sendiri.

23
Ciuman di Tengah Perang

Di kota yang dilanda perang,
dua kekasih berciuman di sudut jalan.
Peluru berdesing, bom jatuh,
namun mereka tak peduli.

Ciuman itu adalah puisi,
lebih kuat daripada dentuman meriam.

Mereka mungkin mati beberapa jam kemudian,
namun ciuman itu abadi—
tercatat di udara,
di mata orang yang sempat melihat,
dan di ingatan puisi yang tak bisa dihancurkan.

24
Laut yang Menyimpan Nama Kita

Laut selalu menerima semua yang dilemparkan:
batu, sampah, abu jenazah, bahkan rahasia.
Di dasar laut ada ribuan nama
yang pernah disebut dengan cinta.

Puisi adalah laut itu.
Ia menyimpan namamu,
namaku,
dan nama semua yang pernah mencintai
dengan sepenuh hati.

Gelombang mungkin menghapus tulisan di pasir,
tapi laut tidak pernah lupa.
Begitu pula puisi:
ia adalah arsip abadi
dari cinta manusia yang fana.

25
Matahari yang Tidak Pernah Lelah

Matahari selalu terbit meski manusia berkhianat,
selalu memberi terang meski kita menutup jendela.
Betapa miripnya ia dengan puisi:
tak pernah menuntut terima kasih,
hanya terus bersinar,
meski banyak yang mencaci karena silau.

Puisi tidak peduli apakah dibaca,
atau diabaikan seperti koran kemarin.
Ia tetap menyinari,
tetap membakar,
tetap hidup dalam siklus abadi.

Satirenya: manusia yang sering merasa
lebih besar dari puisi
justru tak bisa hidup tanpa cahayanya.

26
Ladang yang Dipanen Tanpa Petani

Bayangkan ladang gandum menguning,
tapi petani yang menanamnya sudah lama mati.
Orang-orang datang memanen,
kenyang, lalu lupa pada nama penanamnya.

Itulah puisi:
kadang penulisnya terlupakan,
namun hasilnya tetap memberi makan jiwa.

Romantisnya: setiap roti yang kau makan,
ada cinta yang ditanam seseorang di masa silam.
Satirenya: dunia hanya tahu hasil,
tanpa pernah peduli pada peluh yang melahirkan.

27
Jembatan yang Terbuat dari Sunyi

Ada jembatan panjang membentang di udara,
bukan dari baja, bukan dari kayu,
melainkan dari sunyi.

Ketika dua hati tak sanggup bicara,
puisi hadir sebagai jembatan.
Ia tak terlihat,
tapi bisa dilintasi.
Ia rapuh,
namun cukup kuat untuk menahan langkah cinta.

Satire pahitnya:
kadang jembatan itu hanya dilalui sepihak.
Seseorang menyeberang,
sementara yang lain memilih tetap di seberang.

28
Pasir Jam yang Membocorkan Waktu

Di meja kayu tua,
sebuah jam pasir berdiri.
Butir demi butir jatuh,
seolah sedang menertawakan kesabaran manusia.

Puisi adalah pasir itu:
ia jatuh perlahan,
namun setiap jatuhnya adalah detak keabadian.

Kita mencoba membalik waktu,
namun sia-sia—
hanya puisi yang bisa mengembalikan kenangan
tanpa merusaknya.

29
Taman Tanpa Pagar

Di taman ini, bunga tumbuh bebas.
Tak ada pagar,
tak ada papan larangan,
tak ada tiket masuk.

Anak-anak berlarian,
orang tua beristirahat,
kekasih berciuman,
dan penyair menulis di bangku kayu.

Itulah puisi:
taman tanpa pagar,
yang membuat penguasa gelisah
karena tak bisa memasang harga tiket.

30
Lampu Jalan yang Menemani Kesepian

Di tengah malam,
lampu jalan berdiri sendirian,
ditinggalkan semua orang.

Ia tidak bisa bergerak,
tidak bisa memilih padam.
Namun ia tetap menyala,
menjadi teman bagi anjing liar,
pengemis yang tidur di trotoar,
atau kekasih yang pulang terlambat.

Itulah puisi:
selalu setia meski sering dilupakan.
Ia berdiri tegak di gelap dunia,
menjadi cahaya kecil bagi siapa pun
yang berani menoleh.

31
Kursi Kosong di Ruang Pertemuan

Di sebuah ruang pertemuan,
semua kursi penuh kecuali satu.
Kursi kosong itu seperti menatap kita,
menghadirkan bayangan orang yang tak pernah datang.

Puisi adalah kursi kosong itu.
Ia mengingatkan pada kehilangan,
pada janji yang tak ditepati,
pada cinta yang tertinggal di jalan.

Dan anehnya:
kursi kosong lebih keras suaranya
daripada seribu kursi yang diduduki.

32
Biola Tanpa Senar

Bayangkan sebuah biola indah,
tubuh kayunya berkilau,
tapi tanpa senar.

Orang-orang tertawa,
menganggapnya tak berguna.
Namun seorang penyair mengambilnya,
dan menuliskan puisi di tubuhnya.

Kini biola itu bernyanyi
bukan dengan suara,
melainkan dengan kata.

Satirenya: dunia selalu mengukur kegunaan
dari bunyi, uang, atau tepuk tangan.
Padahal kadang keheningan
lebih bernyanyi daripada konser.

33
Istana dari Debu

Mereka membangun istana dengan marmer,
menancapkan pilar emas,
namun lupa:
angin selalu datang membawa debu.

Istana itu akan runtuh,
bukan karena musuh,
bukan karena perang,
tetapi karena kebenaran yang disembunyikan
selalu menemukan jalan untuk menggulingkan singgasana.

Puisi adalah sapu halus
yang menyingkirkan debu,
hingga orang melihat bahwa takhta
hanyalah kursi kayu yang lapuk.

34
Lidah Api di Balik Pidato

Di balik pidato indah,
ada lidah api yang menyembunyikan bara.
Kata-kata manis itu
menyihir rakyat seperti candu.

Namun puisi menertawakannya:
karena satu bait sederhana,
satu kata jujur,
lebih tajam daripada seribu slogan kampanye.

Mereka menutup kebohongan dengan tirai megah,
tapi puisi selalu menemukan celah untuk merobek kainnya.

35
Mahkota dari Tulang Rakyat

Lihatlah mahkota yang berkilau.
Batu permatanya indah,
namun jika kau dekatkan telinga,
kau akan mendengar jeritan tulang rakyat yang dipatahkan
untuk menopang kilaunya.

Puisi menguliti kemewahan itu,
menunjukkan darah di balik berlian,
keringat di balik emas.

Kekuasaan mengira dirinya abadi,
padahal ia hanya kanibal
yang memakan tubuh bangsanya sendiri.

36
Jamuan Darah

Meja panjang,
piring perak,
anggur merah dituangkan.

Namun itu bukan anggur,
itu darah petani yang lahannya dirampas,
darah buruh yang upahnya diperas,
darah nelayan yang lautnya diracun.

Penguasa bersulang dengan tawa keras,
sementara puisi duduk di sudut meja,
menulis dengan pena tajam:
“Sejarah akan muntah
melihat pesta ini.”

37
Penjara Kata-kata

Mereka membangun penjara,
bukan untuk pencuri,
bukan untuk pembunuh,
tapi untuk kata-kata.

Penyair dijebloskan,
buku dibakar,
lidah dipotong.
Namun mereka lupa:
puisi tidak butuh tubuh.
Ia bisa hidup di bisikan,
di dinding yang penuh coretan arang,
di udara yang dibawa angin.

Penjara terbesar pun tak mampu
menahan satu kata jujur.

38
Kursi yang Haus Darah

Kursi kekuasaan tampak biasa.
Namun setiap kali seseorang duduk di atasnya,
ia berubah menjadi binatang
yang haus darah.

Kursi itu berbisik:
“Korbankan mereka,
supaya kau tetap di sini.”
Dan manusia pun menuruti,
membantai,
mengkhianati.

Satire pahitnya:
bukan manusia yang menguasai kursi,
melainkan kursi yang menguasai manusia.

39
Patung yang Buta

Di alun-alun kota,
patung pemimpin berdiri gagah.
Namun matanya kosong,
buta pada penderitaan di bawah kakinya.

Orang-orang memuja,
menabur bunga,
berdoa di hadapannya.
Tapi puisi datang membawa palu kecil,
dan dengan satu ketukan,
retakan muncul.

Karena kebenaran tak bisa dipatungkan,
dan keadilan tak bisa diawetkan dalam batu dingin.

40
Pasar Suara

Di musim pemilihan,
suara rakyat berubah menjadi komoditas.
Dijual murah dengan kaos oblong,
sebungkus mie instan,
atau selembar uang receh.

Politikus menawar suara
seperti pedagang di pasar malam.
Namun puisi menulis di dinding pasar itu:
“Suara yang dijual
akan kembali menghantui pembelinya.”

Romantisnya tragis:
rakyat menjual masa depan anak-anaknya
hanya untuk nasi hari ini.

41
Bendera yang Menyembunyikan Luka

Mereka mengibarkan bendera setinggi langit,
membanggakan warna,
menghormati kainnya.

Namun di bawah kibaran itu,
anak-anak kelaparan,
ibu-ibu meratap,
dan tanah dijual pada asing.

Puisi menarik kain itu,
menunjukkan luka di bawahnya.
Satirenya jelas:
bangsa sering lebih mencintai bendera
daripada rakyatnya sendiri.

42
Kuburan Tanpa Nama

Ada kuburan panjang di pinggir kota,
tak bertanda, tak berbatu nisan.
Di sanalah korban kekuasaan tidur tanpa doa.

Mereka ingin dilupakan,
dihapus dari buku sejarah.
Namun puisi datang setiap malam,
menyalakan lilin di atas tanah,
berbisik:
“Kalian tidak sendiri.
Nama kalian hidup di bait-baitku.”

Kekuasaan bisa membunuh tubuh,
tapi tidak bisa membunuh ingatan.
Dan puisi adalah ingatan itu.

43
Cinta yang Ditulis dengan Kapur

Di dinding sekolah, anak-anak menulis namanya.
Cinta dicatat dengan kapur putih yang rapuh.
Hujan pertama datang, lalu tulisan lenyap,
seperti janji para pemimpin yang ditulis di spanduk,
terhapus sebelum matahari sempat mengeringkan.

Namun, hati anak-anak itu tetap percaya,
bahwa cinta lebih kuat dari penghapus,
lebih keras dari kayu penggaris,
dan lebih indah dari jam pelajaran yang membosankan.
Maka, biarlah cinta itu terus ditulis,
meski kapur habis, meski papan diganti,
meski dunia sendiri tak lagi punya ruang untuk menampungnya.

44
Raja yang Menikahi Cermin

Ia bukan raja manusia,
melainkan raja cermin.
Setiap kali ia memandang,
ia jatuh cinta pada wajahnya sendiri.

Ia lupa rakyatnya lapar,
ia lupa jalan penuh lumpur,
ia lupa sawah terbakar.
Yang diingatnya hanya senyum cermin,
yang berkata: “Engkaulah paling tampan,
paling adil, paling bijaksana.”

Maka negeri pun runtuh,
karena cermin tak bisa menumbuhkan padi,
tak bisa menyalakan lampu,
tak bisa menidurkan bayi yang menangis.

45
Balada Para Mikrofon

Di atas panggung, mikrofon bergetar,
menyimpan rahasia kata-kata yang tak pernah jujur.
Ia lelah mendengar janji,
ia letih menampung retorika.

Jika saja mikrofon bisa berbicara,
ia akan berkata:
“Suara ini bukan milikku.
Aku hanya corong dusta,
digerakkan oleh bibir yang haus tepuk tangan.”

Tapi ia tak bisa melawan,
seperti rakyat yang terus mendengar,
tanpa bisa menutup telinga.

46
Kekasih yang Dijual di Meja Sidang

Di ruang sidang, cinta berubah jadi dokumen.
Hak asasi ditandatangani dengan pena emas,
lalu diperdagangkan seperti saham.

Kekasih menangis di luar gedung,
menunggu kepastian yang tak kunjung turun.
Para hakim menimbang dengan mata tertutup,
tapi kantong mereka tetap terbuka.

Cinta pun diputuskan bukan oleh hati,
melainkan oleh angka-angka,
yang tak pernah tahu arti kehilangan.

47
Kota yang Memakan Lidahnya Sendiri

Kota ini berteriak terlalu lama,
hingga lidahnya patah dan ia menelannya kembali.
Jalan-jalan penuh iklan,
yang menutupi bau darah dari lorong gelap.

Gedung-gedung menjulang,
tapi bayangannya menindih rumah-rumah reyot.
Orang-orang sibuk berfoto di jembatan kota,
sementara di bawahnya, air mengalir hitam,
membawa bangkai tikus dan rahasia yang dibuang.

48
Bunga yang Tak Bisa Dipilih

Di taman, bunga tumbuh liar.
Anak kecil ingin memetiknya,
tapi penjaga berkata: “Itu milik negara.”

Seorang pemuda ingin menaruhnya di rambut kekasihnya,
tapi polisi berkata: “Itu melanggar aturan.”
Seorang ibu ingin menaruhnya di makam anaknya,
tapi pejabat berkata: “Itu belum ada izinnya.”

Maka bunga itu dibiarkan layu sendiri,
tanpa pernah disentuh cinta.
Negara lupa bahwa bunga tak butuh izin,
untuk sekadar mekar dan mati.

49
Surat Cinta yang Diterjemahkan Jadi Undang-undang

Ada sepasang kekasih, menulis surat rahasia.
Bahasanya sederhana,
penuh kata rindu dan janji sederhana.

Namun, surat itu jatuh ke tangan parlemen.
Mereka mengubahnya jadi pasal-pasal,
menghapus kata “rindu”,
mengganti dengan kata “kewajiban”.
Menghapus kata “janji”,
mengganti dengan kata “sanksi”.

Surat cinta pun mati,
tercekik dalam bahasa resmi,
yang tak lagi mengenal air mata.

50
Presiden di Atas Perahu Kertas

Ia berlayar dengan perahu kertas,
di tengah banjir yang menenggelamkan kampung.
Ia tersenyum, melambaikan tangan,
kamera pun menangkapnya dengan indah.

Sementara itu, di belakangnya,
anak-anak tenggelam,
ibu-ibu berteriak,
orang tua kehilangan rumah.

Perahu kertas terus melaju,
tak pernah basah,
karena kamera selalu tahu sudut terbaik,
untuk menutupi luka rakyat.

51
Kekasih yang Hilang di Balik Statistik

Ia mencari wajah kekasihnya,
di balik angka-angka laporan resmi.
Satu juta orang menganggur,
tapi tak ada namanya.
Seribu orang meninggal,
tapi wajahnya tak disebut.

Negara mencatat angka,
bukan nama.
Sementara cinta hanya mengenal nama,
bukan angka.
Maka ia pun hilang,
terkubur dalam grafik,
yang dicetak dengan tinta dingin.

52
Doa yang Tersesat di Gedung Tinggi

Seorang ibu berdoa di tepi jalan.
Tangannya gemetar, suaranya lirih.
Tuhan mungkin mendengarnya,
tapi gedung-gedung tinggi menutupi langit.

Doanya tersangkut di antena,
tersangkut di jendela kaca,
tersangkut di papan iklan.
Tak sampai ke surga,
karena manusia terlalu sibuk menjual ruang udara.

Maka ibu itu pun menangis,
bukan karena Tuhan tak mendengar,
melainkan karena manusia terlalu serakah,
menutup semua celah bagi cahaya.

53
Kekasih yang Tumbuh di Antara Reruntuhan

Di antara tembok yang retak,
sebatang bunga liar mekar.
Aku menaruh namamu di kelopaknya,
dan tiba-tiba kota yang hancur
pun terasa seperti puisi yang belum selesai.

Mereka meruntuhkan rumah-rumah dengan buldoser,
tapi tak ada alat berat yang mampu
merobohkan kenangan kita.
Cinta tumbuh di celah paling sempit,
seperti doa yang membandel
di antara bunyi sirene dan debu.

54
Hati sebagai Negara

Andai hati ini negara,
kau adalah konstitusi pertamanya,
yang ditulis dengan tinta darah,
dan tak bisa diamandemen.

Rindu adalah benderanya,
cemburu adalah pasukannya,
dan janji-janji adalah undang-undang
yang kerap dilanggar.

Namun, berbeda dengan negeri yang korup,
hati ini hanya punya satu pemimpin:
namamu.

55
Opera Air Mata

Malam ini, teater penuh.
Bukan oleh aktor,
tapi oleh rakyat yang menangis bersama.
Air mata mereka jatuh,
menciptakan orkestra yang tak ada musiknya.

Di panggung, kekuasaan menari dengan topeng.
Ia tak pernah sadar,
bahwa penonton bukan sedang terhibur,
melainkan sedang berkabung.

Opera ini tak butuh tiket,
karena setiap orang adalah pemain,
dan setiap luka adalah naskah.

56
Kekasih yang Tersimpan di Buku Hukum

Aku mencarimu di rak buku.
Ada ensiklopedia, ada sejarah, ada hukum.
Namamu tak kutemukan di sana.

Namun ketika kubuka undang-undang,
aku menemukan pasal yang samar,
tentang “hak untuk mencintai
meski dunia melarang”.

Pasal itu tak ditulis pengacara,
tak ditulis hakim,
melainkan ditulis rahasia oleh Tuhan
yang menyelipkan mu
di sela hukum manusia.

57
Balada Kursi Kosong

Kursi di sebelahku kosong,
tapi aku merasa kau duduk di sana.
Mungkin cinta memang begitu:
selalu menyediakan ruang,
meski tak ada tubuh yang mengisinya.

Para pejabat sibuk merebut kursi,
bertarung hingga berdarah-darah.
Tapi aku hanya menjaga kursi ini,
untukmu,
meski kau tak pernah datang lagi.

Karena bagi cinta,
kursi kosong pun sudah cukup,
selama namamu tertulis di sandarannya.

58
Doa yang Tak Bisa Disensor

Mereka bisa menyensor buku,
bisa memblokir berita,
bisa membungkam suara.
Tapi bagaimana mereka bisa menyensor doa?

Aku berdoa untukmu dalam bahasa rahasia,
dengan kata-kata yang tak ada di kamus.
Doa itu menembus pagar besi,
melewati dinding penjara,
mengalir seperti angin
yang tak bisa ditangkap aparat.

Dan ketika doa itu sampai ke langit,
aku yakin Tuhan tersenyum,
karena akhirnya ada sesuatu
yang lolos dari tangan kekuasaan.

59
Jalan Sunyi Menuju Mata Air

Aku berjalan di jalan sunyi,
di mana suara kendaraan tak pernah sampai,
hanya desir dedaunan dan detak hatiku sendiri.
Di sana, aku menemukan mata air,
jernih seperti doa yang baru saja lahir.

Air itu berkata:
“Siapa pun yang menegukku
akan mendengar suara Pencipta,
seperti bisikan rahasia dalam dirinya sendiri.”

Aku meneguknya pelan,
dan tiba-tiba semua luka terasa kecil,
seperti debu yang bisa ditiup angin.

60
Kekasih yang Menjadi Jembatan

Kau bukan hanya kekasih,
kau adalah jembatan menuju cahaya.
Aku melangkah di atas cintamu,
melewati jurang keputusasaan,
melewati sungai ketakutan.

Di ujung jembatan,
aku melihat sinar yang bukan lagi milik dunia.
Mungkin di sanalah Sang Pencipta berdiri,
menunggu,
dengan cahaya yang lebih sabar daripada matahari.

61
Rumah Tanpa Pintu

Aku membangun rumah tanpa pintu,
agar Sang Pencipta bisa keluar masuk sesuka-Nya.
Rumah itu sederhana:
dindingnya dari rindu,
atapnya dari harap,
lantainya dari penyerahan.

Setiap malam aku duduk,
menunggu-Nya singgah,
meski aku tahu kadang Ia hanya lewat,
menyentuh pundakku seperti angin,
lalu pergi tanpa kata.

Namun itu sudah cukup:
lebih baik disentuh sebentar oleh-Nya,
daripada disentuh seumur hidup oleh dunia yang palsu.

62
Balada Burung yang Terbang ke Langit

Seekor burung kecil bertanya padaku:
“Apakah Tuhan itu ada?”
Aku menjawab:
“Terbanglah setinggi yang kau bisa.”

Ia terbang menembus awan,
melewati badai,
melewati cahaya mentari yang menyilaukan.
Akhirnya ia lenyap di titik cahaya.

Sejak saat itu,
aku tak pernah melihatnya lagi.
Mungkin ia sudah menjadi bagian dari jawaban.

63
Doa yang Tak Butuh Bahasa

Aku berdoa tanpa kata,
karena aku tahu kata-kata sering berkhianat.
Doaku berupa diam,
tapi diam itu penuh dengan wajahmu,
penuh dengan rindu yang tak bisa diuraikan.

Tuhan mengerti bahasa diam,
karena Ia yang menciptakan sunyi.
Dan di dalam sunyi itulah,
aku merasakan-Nya paling dekat,
seperti napas yang hangat di telinga.

64
Kekasih yang Menjadi Cermin Langit

Ketika aku menatap matamu,
aku tak hanya melihatmu.
Aku melihat langit di sana,
dengan bintang-bintang yang berkedip seperti rahasia.

Mungkin kau hanyalah cermin,
dan yang sesungguhnya kulihat adalah Pencipta.
Ia menyamar di balik sorot matamu,
agar aku belajar mencintai-Nya
melalui dirimu.

65
Perahu dari Air Mata

Aku membuat perahu dari air mata,
lalu berlayar di laut malam.
Bintang-bintang menjadi lentera,
bulan menjadi kompas.

Aku tahu perjalanan ini menuju satu pelabuhan:
bukan dunia,
bukan cinta fana,
melainkan tangan Sang Pencipta
yang menunggu seperti dermaga sunyi.

Setiap gelombang adalah ujian,
setiap badai adalah teguran.
Tapi aku tetap mendayung,
karena aku yakin,
dermaga itu lebih nyata daripada tanah.

66
Surat yang Tak Pernah Terkirim

Aku menulis surat panjang untuk Tuhan.
Kertasnya dari rindu,
tintanya dari darah hati.

Namun setiap kali kuserahkan pada angin,
angin kembali tanpa jawaban.
Setiap kali kuserahkan pada hujan,
hujan jatuh ke tanah dan hilang.

Sampai suatu malam aku sadar:
surat itu tak pernah terkirim,
karena ia sebenarnya tak perlu.
Tuhan sudah membacanya
sebelum aku menulisnya.

67
Tangga dari Nafas

Setiap kali aku menarik nafas,
aku menapaki satu anak tangga.
Setiap kali aku menghembuskannya,
aku naik satu tingkat lebih tinggi.

Tangga ini tak terlihat,
tapi aku tahu ia menuju ke langit.
Dan ketika nafas terakhir terhembus,
itulah pijakan terakhir:
pintu terbuka,
dan aku berdiri di hadapan-Nya.

68
Kekasih Abadi

Kau mungkin pergi,
dunia mungkin hancur,
waktu mungkin menelan semua yang kucintai.

Namun ada satu yang tak pernah hilang:
Sang Pencipta,
yang bersembunyi di balik segala kehilangan.

Ia adalah kekasih abadi,
yang tak pernah meninggalkan,
meski aku sering berpaling.
Dan setiap kali aku jatuh,
Ia tetap merentangkan tangan,
seperti bumi yang selalu siap
menampung tubuh yang terjatuh.

69
Sunyi sebagai Kitab

Aku membuka halaman sunyi,
dan menemukan huruf-huruf yang tak pernah ditulis pena.
Di sana tertulis:
“Segala yang ada hanyalah bayangan,
yang sejati hanyalah Aku.”

Aku pun membaca dengan gemetar,
karena kitab itu bukan dari kertas,
melainkan dari cahaya,
dan setiap kata menembus tulangku
seperti panah api yang tak bisa ditahan.

70
Malam sebagai Guru

Aku pernah bertanya pada siang,
tentang arti hidup.
Ia menjawab dengan cahaya yang silau,
namun aku tetap buta.

Aku bertanya pada malam,
dan ia menjawab dengan bintang.
Aku mengerti:
kadang kebenaran justru lahir
dari gelap yang kita takuti,
bukan dari terang yang kita banggakan.

71
Kekasih yang Berwujud Doa

Kau bukan lagi tubuh,
kau bukan lagi wajah.
Kau menjelma doa
yang melayang dari bibirku setiap malam.

Aku menyebut namamu,
dan tiba-tiba aku merasa lebih dekat pada Tuhan.
Mungkin cinta memang begitu:
sebuah jembatan,
yang kadang membuat kita lupa tujuan,
tapi tetap membawa kita
ke tempat yang seharusnya.

72
Cermin yang Pecah di Dalam Diri

Aku mencari wajahku di cermin,
tapi yang kulihat hanya retakan.
Di tiap retakan itu,
ada wajah berbeda:
seorang anak, seorang tua, seorang kekasih, seorang musuh.

Lalu aku sadar:
semua wajah itu adalah aku.
Dan ketika kucoba menyatukan kepingan itu,
yang muncul bukan lagi aku,
melainkan bayangan Sang Pencipta,
yang bersembunyi dalam serpihan.

73
Balada Angin yang Tak Terlihat

Angin berlari melewati tubuhku,
dan aku merasakan belaian yang tak punya wujud.
Aku pun sadar:
begitulah Tuhan hadir.

Bukan dengan tubuh,
bukan dengan suara,
melainkan dengan kehadiran yang samar,
yang hanya bisa dirasakan
oleh hati yang peka.

74
Doa di Tepi Jurang

Aku berdiri di tepi jurang,
di bawahku hanya kabut dan ketakutan.
Aku berdoa:
“Tuhan, jangan biarkan aku jatuh.”

Namun suara di dalam diriku berkata:
“Jatuhlah. Karena hanya dengan jatuh,
kau akan tahu bahwa Aku yang menampungmu.”

Aku pun melompat dengan pasrah,
dan mendapati diriku tak hancur,
melainkan terbang,
karena doa itu menjelma sayap.

75
Kekasih yang Membuka Pintu Rahasia

Kau mengetuk pintu hatiku,
dan aku membukanya.
Namun ternyata kau tak masuk sendirian.
Di belakangmu, cahaya ikut masuk,
menyilaukan ruang yang lama gelap.

Aku marah,
karena aku ingin kau saja.
Namun cahaya itu tak bisa ditolak.
Lalu aku sadar:
kau hanyalah kurir,
dan surat yang sesungguhnya adalah Tuhan.

76
Laut yang Tak Bertepi

Aku berlayar di laut rindu,
mencari pantai yang bernama dirimu.
Namun semakin jauh aku mendayung,
semakin luas laut itu terbentang.

Akhirnya aku sadar:
kau bukan pantai,
kau adalah laut itu sendiri.
Dan laut itu hanyalah cermin
dari samudera yang lebih dalam:
Sang Pencipta,
yang tak pernah bertepi.

77
Tangisan yang Menjadi Doa

Aku menangis bukan karena lemah,
melainkan karena aku tak menemukan kata.
Air mata jatuh,
dan tiba-tiba aku merasa lega.

Aku pun sadar:
air mata adalah bahasa purba,
bahasa yang langsung dimengerti Tuhan,
tanpa perlu diterjemahkan.
Maka biarlah aku menangis,
sebab di setiap tetesnya
ada doa yang tak terucap.

78
Cahaya yang Menelan Bayangan

Di penghujung malam,
aku melihat cahaya merayap pelan,
menelan semua bayangan di dinding.

Aku pun tersadar:
hidup ini hanyalah bayangan,
dan cahaya itu adalah Tuhan,
yang perlahan menelan segalanya
hingga tak ada yang tersisa selain Dia.


Sumatera Barat, Indonesia, 2025.