April 17, 2026

anto narasoma

1)
dari balik kaca bening yang menyingkap pertanyaan ; malam hanya ruang di dalam sebongkah pikiran

sebab,
dari kemarin, hari ini,
dan perjalanan esok hari, hanya berulang dari malam, pagi, siang, dan kembali rembulan memancarkan cahaya malam di mataku

lalu,
dari jejak ke jejak perjalanan itu, aku hanya seorang aku di balik cermin yang melafalkan pertanyaan tanpa jawaban

inikah hidup, Tuhanku?

2)
pertanyaan itu pun terbang di seputar pikiran, ketika harta
dan persiapan itu berkejaran dalam lomba lari tanpa batas

o, hanya angka kehidupan yang mengejar batas ajal
ketika kau mengucap-ucap kematian di tanah penghabisan

dalam tafsir yang kucari
dari balik kalimat firman-Mu : aku hanya aku, berkisar dari langkah ke langkah
yang mencari-cari jawaban

3)
sudah kukaji dari kata
ke kata, ketika kalimat yang memenuhi arti itu
sulit kuraba lewat hakikat yang bening
dari balik kaca jendela kamarku

sebab,
tiap kalimat dan daya ucap ketika ayat-ayat kehidupan itu menafsirkan hakikat
dari ada sebelum ada, hanya kelahiran, kehidupan, dan kematian yang menjadi raja di dalam pikiran

lalu,
kutundukkan kening
ini di hamparan doa-doa
dan kutebarkan jiwa dan sepotong rasa ke mulut-mulut orang kelaparan; itukah hakikat pertanyaan dalam takwaku?

Palembang
21 Juni 2025