April 18, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

di balik jendela yang basah oleh gerimis senja,
kau duduk diam, melukis sunyi di pipi kaca.
rinai hujan bagai simfoni yang lirih,
mengalun lembut bersama detak rindu yang tak habis.

wajahmu remang dalam cahaya bulan,
seperti lukisan malam yang jatuh dari langit harapan.
matamu menerawang jauh ke dalam peluk hujan,
mencari seberkas cahaya dari cinta yang kau simpan.

kau adalah puisi yang ditulis langit dengan air,
tiap tetes hujan adalah bait tentang rasa yang tak pandir.
kau menunggu—bukan sekadar hadir,
tapi menunggu dengan sabar, seindah akar mencintai tanah yang tak terlihat.

angin meniup rambutmu seperti bisikan pujangga,
mengulang nama yang kau eja dalam dada.
ada nyala dalam diam,
ada doa dalam tatapmu yang padam.

“datanglah,” katamu dalam senyap,
pada kekasih yang dijanjikan waktu dalam harap.
“bawalah pelangi setelah lelah ini reda,
bawalah hangat pada hati yang setia menimba.”

langit ikut menangis melihat rindumu yang sabar,
bulan menyelimutimu agar luka tak terlalu lebar.
dan setiap petir adalah jerit rindumu yang terbakar,
namun kau tetap diam, menunggu dengan sabar.

kau tak tahu apakah ia akan kembali dari badai,
tapi hatimu tetap bertahan, tak ingin lari dari janji yang pernah sampai.
cinta bagimu adalah memilih untuk tetap tinggal,
meski waktu menyeretmu ke dalam ruang yang tenggelam dan tinggal.

kau menunggu seperti laut menanti ombak pulang,
seperti malam menanti pagi yang benderang.
seperti bunga menunggu matahari datang,
seperti aku… menunggumu dalam setiap bintang.

karena mencintaimu adalah tak perlu bertanya kapan,
cukup aku di sini, dalam kesetiaan yang diam-diam menelan zaman.
jika kau datang, maka waktu akan berhenti sejenak,
menyaksikan dua jiwa yang tak pernah lelah menapak.

aku percaya, cinta yang sabar tak pernah sia-sia,
Ia akan tumbuh meski dalam kehampaan yang tiada suara.
seperti hujan yang setia jatuh tanpa pamrih,
cintaku akan tetap menunggu, dalam sunyi yang paling lirih.

Sumatera Barat,2025.