Jamu Bakar di Hamparan Suci
Yusuf Achmad
–
Ramadhan itu, kubakar dosa-dosaku di tanah mulia.
Hatiku ciut, menganyam malam sunyi, penuh rajutan doa.
Para jamaah datang silih berganti, masjid tak kenal jeda,
Aku berdiri terpaku, di depan hotel—diam tanpa kata.
Di keramaian hotel, kuhisap jamu bakar dengan asa,
Tamu datang dan pergi, damai berpendar di wajah mereka.
Seperti bara jamu bakar, perlahan menghangatkan bibir mengembus asa
Seorang pemuda Arab hadir, memicu renungku yang bergetar.
Kuulurkan sebatang jamu bakar, memberi tanda dalam diam yang terhantar.
Bahasaku mencoba berlari dalam Inggris, namun “No English,” katanya tegas.
Ia menggeleng pelan, seperti abu yang disapu angin malas.
Namun, seperti isapan jamu bakar yang menenangkan jiwa,
Pemuda itu tertawa ramah, menawarkan gahwa dengan sukacita.
“Aku traktir,” katanya, imbalan sebatang jamu bakar di bibir terbuka.
Di depan hotel lain, petang menjadi sunyi dalam asap hampa,
Jamu bakar menemani, namun kesepian menjemput tanpa sapa.
Tiba-tiba hadir pemuda Arab lain, matanya melotot penuh bara,
“Mengapa bibirmu menyalakan api?” tanyanya penuh curiga.
“Haram, Jahannam akan melahapmu,” katanya menghujam penuh luka.
Aku diam, hatiku tak sejalan dengan pikirnya yang terbakar,
Seolah ia malaikat penjaga api, menjadikan dosa sebagai bara yang memagar.
Namun, aku tetap pada jiwa—jamu bakar bukan sekadar penawar,
Melainkan nyala kecil di tanah suci, menghangatkan harapan yang tak pudar.
Madina, Februari 2018