Laporan Eka Teresia
–
Padang, 21 November 2025 – Kompetisi bergengsi Pemilihan Duta Penyala Literasi Provinsi Sumatera Barat 2025 menghadirkan dewan juri yang mewakili perpaduan akademisi, praktisi seni, dan inovator budaya. Salah satunya adalah Muhammad Ridho, M.Pd, seorang sosok yang dikenal karena inisiatif tinggi dan dedikasi penuh dalam memajukan Budaya, Seni Tari, Teater, dan Desain Busana .Ridho juga merupakan Pengurus komunitas Penyala Literasi Sumbar dan GLN Gareulis.Audisi Penyala Literasi Sumbar ini direncanakan tanggal 7 Desember 2025
Muhammad Ridho adalah seorang yang berkomitmen kuat pada dunia pendidikan dan kebudayaan. Setelah menamatkan studi S1 dan S2 Pendidikan Seni dari Universitas Negeri Padang, kini ia mendedikasikan dirinya sebagai Guru Seni Budaya dan Keminangkabauan di SMKN 6 Padang sekaligus Dosen Luar Biasa Pendidikan Tari di Universitas Adzkia Padang. Peran ganda ini menunjukkan kemampuannya menyalurkan ilmu teoretis ke praktik nyata.
Rekam jejaknya sebagai seorang kurator budaya sangat menonjol. Ia tidak hanya mendirikan Sanggar Tari Kulintang Kayu dan Laberta Fashion and Boutique, tetapi juga aktif menciptakan karya-karya yang diakui secara nasional. Di bidang tari, ia merupakan koreografer di balik karya seperti “Taratik” dan “Cahayo Palito,” serta telah tampil di ajang besar seperti Pembukaan MTQ Nasional. Di dunia teater, ia adalah Aktor utama dalam karya “ROH” dan Sutradara untuk lakon “Ayahku Pulang” di FTR Pekan Kebudayaan Daerah SUMBAR 2023.
Kehebatannya tak berhenti di panggung pertunjukan. Sebagai desainer busana etnik, Muhammad Ridho adalah Juara 1 SISSCA 2023, Juara 1 Padang Young Modest Fashion Design Competition, dan langganan penghargaan di ajang bergengsi seperti Minang Fashion Festival dan Bank Indonesia Design Competition. Puncaknya, ia dipercaya merancang National Costume Puteri Indonesia Sumatera Barat 2023.
Deretan prestasi ini mengukuhkan Muhammad Ridho, M.Pd, bukan hanya sebagai seniman, tetapi juga sebagai Finalis Pemuda Pelopor tingkat Kota Padang. Jiwa pelopor dan inisiatif tingginya inilah yang akan menjadi kriteria penting dalam menilai calon Duta Literasi. Ridho diharapkan mampu memilih duta yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga memiliki inisiatif tinggi untuk “menyala” dan menggerakkan literasi di tengah masyarakat, sejalan dengan dedikasi pribadinya yang tak pernah padam di kancah seni dan budaya.