“Papan Tulis Digital di Desa yang Buta Huruf”
Esai Puitis-Satiris
Oleh: Rizal Tanjung
–
Ada sebuah ironi yang terus menetes seperti air mata yang tak pernah kering di wajah republik ini: betapa banyaknya papan tulis digital dipasang di sekolah-sekolah negeri yang gentengnya bocor, betapa berkilauya proyektor-proyektor impor dipasang di ruang kelas yang bahkan tak punya listrik tetap menyala.
Pemerintah, dengan gagah di layar televisi, berbicara tentang revolusi pendidikan, tentang era digitalisasi, tentang pencairan dana triliunan yang katanya demi masa depan anak-anak bangsa. Angka-angka itu melayang di udara seperti balon pesta ulang tahun pejabat—indah dipandang, tetapi hampa di dalamnya.
Namun, mereka lupa satu hal: anak-anak di desa tidak makan balon, tidak belajar dari angka-angka kertas, dan tidak bisa menulis dengan tinta anggaran. Mereka hanya tahu bahwa guru mereka jarang datang, jaringan internet hanya sebatas bayangan antena, dan buku bacaan hanya satu-dua lusuh yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Panggung Ironi Pendidikan
Di sebuah desa yang jauh dari gedung kementerian, sebuah sekolah dasar berdiri dengan dinding papan yang hampir roboh. Atapnya bocor, lantainya tanah, namun di dalamnya pemerintah telah menghadiahkan satu set komputer baru dengan logo kementerian yang masih berplastik.
Ironi pun menari: komputer itu menjadi meja makan tikus sawah, karena listrik padam sepanjang hari.
Anak-anak desa hanya bisa menatap mesin asing itu seperti menatap meteor jatuh: indah, asing, dan tidak berguna.
Bukankah ini sama dengan menghadiahi sapu lidi kepada orang yang rumahnya terbakar? Atau memberi jam tangan emas kepada orang yang tak pernah tahu waktu?
Menengadah ke Langit, Melupakan Akar
Pemerintah kita selalu suka menengadah, mengintip ke negara-negara maju, menyalin blueprint mereka dengan terburu-buru. Seolah-olah, kalau Finlandia punya kelas digital, maka di pelosok Mentawai pun harus ada; kalau Jepang memakai robot untuk belajar, maka murid-murid di Sumba pun harus ditemani layar.
Padahal, lupa mereka bahwa SDM bangsa ini tidak merata. Di kota, guru-guru mungkin mampu memeluk teknologi, meski dengan segala keterbatasan. Tetapi di desa, guru yang masih bingung menghidupkan proyektor dipaksa untuk mengajar dengan aplikasi asing yang bahkan menelan kuota seminggu hanya untuk membuka satu halaman.
Apalah artinya papan tulis digital bila murid-muridnya belum bisa membaca huruf dengan lancar? Apalah artinya ruang kelas ber-AC bila anak-anak datang dengan perut kosong karena sarapan hanya berupa seteguk air sumur? Modernitas di atas kertas hanyalah sandiwara, bila akar kehidupan rakyat dibiarkan layu.
SDM yang Retak, Bangsa yang Pincang
Mari kita katakan dengan jujur, dengan nada getir sekalipun: fasilitas modern tanpa manusia yang mampu mengoperasikannya hanyalah monumen kebodohan.
Lihatlah, di kota—guru sibuk dengan pelatihan daring, murid sibuk dengan tablet dan smartboard. Tapi di desa, guru sibuk mencari tumpangan untuk datang ke sekolah, murid sibuk mengantar adik ke sawah sebelum belajar, dan buku menjadi kemewahan.
SDM ini retak. Retak karena ketidakadilan. Retak karena lupa bahwa bangsa tidak hanya berdiri di atas Jakarta dan kota-kota besar.
Bangsa ini berdiri di atas desa-desa sunyi yang setiap paginya mendengar ayam berkokok, bukan dering bel sekolah yang megah.
Satire Anggaran: Dana yang Mengalir ke Jurang
Dana triliunan itu mengalir, seperti sungai besar yang berbelok arah menuju lautan para kontraktor dan pejabat. Di desa, yang tersisa hanyalah riak-riak kecil yang bahkan tidak cukup untuk membeli kapur tulis.
Apa gunanya gedung sekolah dua lantai dengan cat baru, bila tidak ada guru yang betah mengajar di sana? Apa gunanya laboratorium komputer bila murid-murid lebih mahir memegang cangkul daripada tetikus?
Anggaran menjadi mitos, seperti dongeng yang dibacakan pejabat di podium.
Sementara rakyat, terutama di pelosok, hanya merasakan sisanya: angka-angka kosong di papan baliho proyek.
Pendidikan Bukanlah Barang Pameran
Pendidikan bukanlah pameran teknologi. Pendidikan adalah pertemuan mata seorang guru dengan muridnya, adalah kehangatan membaca buku lusuh di bawah pohon beringin, adalah proses pelan-pelan membentuk manusia, bukan sekadar memamerkan alat canggih.
Selama pemerintah sibuk meniru negara maju tanpa menengok ke ladang-ladang yang melahirkan anak bangsa, maka semua papan tulis digital itu hanyalah papan iklan proyek, semua komputer itu hanyalah peti mati yang berlapis plastik, dan semua anggaran itu hanyalah air yang menguap di langit birokrasi.
Dan rakyat di desa? Mereka akan tetap menatap langit yang sama, sambil bertanya: “Apakah pendidikan ini benar-benar untuk kami, atau hanya untuk laporan rapat para pejabat?”
Sumatera Barat,2025