Papua Merdeka?
Alex Runggeary*)
_
“Kalau saya orang Papua saya pasti berpikir untuk merdeka”, mas driver Grap Car Yogyakarta
Ketika kemarin saya pesan grabcar hendak ke Stasiun Tugu, saya numpang dengan mas ini. “Bapa asal mana?”
“Aku asal Papua”
Kami kemudian diskusi tentang topik Raja Ampat dan bagaimana Papua yang kaya SDA tetapi rakyatnya tetap miskin. Bahkan termiskin seIndonesia. Seharusnya negara menyadari – ada yang salah –
Papua punya Otonomi Khusus yang memiliki dana Triliunan dari 2,5% Dana Alokasi Umum APBN untuk membangun rakyat Papua. Tetapi dalam kenyataannya dana besar itu, dalam 23 tahun ini, tidak sampai ke masyarakat. Tidak ada bukti keberhsilan yang bisa diverifikasi secara independen.
Apalagi bicara pengerukan SDA (baca: minyak bumi, panas bumi, nikel, emas dan tembaga) Papua yang pada dasarnya dikuasai Pusat. Karena memang procedurnya dirancang lewat Undang Undang dan aturan aturan dibawahnya (sengaja) memberikan ruang kekuasaan kepada Pusat.
Lalu apakah kalau kewenangan perizinan SDA diberikan kepada daerah akan lebih baik? Saya pastikan akan lebih buruk. Kita punya bukti kuat – Kegagalan Otsus – So facts speak for themselves. No argue to this ends. Kecuali bagi mereka yang – asal bunyi.
Dalam kasus 4 pulau yang dipersengketakan antara Aceh dan Sumut memberikan gambaran menarik yang juga tak dapat disangkal siapapun bahwa itulah gambaran bagaimana negara kita yang kita cintai ini dikelola. Andai saja tidak ada keputusan tegas Presiden, saya tidak bisa membayangkan Atjeh Merdeka di ambang pintu. Atjeh dan Paoua, entah bagaimana selalu punya koneksi, semangat Merdeka.
If so, then what else we can talk about? Nothing else then – Papua Merdeka – It will only happens when there is no serious correction on the way the Goverment handling its own mistakes and make correction. To this end there are applied methods available to be used.
Anyway, Andai suatu ketika Papua tetap harus Merdeka, itu bukan semata karena; (1) semangat Papua Merdeka yang sulit dipadamkan. Perang OPM sebentar lagi akan memasuki 100 tahun. Perang terlama sepanjang sejarah modern Indonesia. (2) Kegagalan Pembangunan dengan bukti Otonomi Khusus yang secara ideologi sangat brilian, tetapi secara praktis prosedural birokrasi pemerintah dalam hal pengelolaannya justru terperangkap dalam – TATAKELOLA Pemerintah. Upaya perbaikan sudah ada tetapi mereka yang diberikan tanggung-jawab, terus terang tidak memahami konsep pembangunan masyarakat secara utuh apalagi teknis upaya – problem solving terhadap kendala nyata di depan mata. (3) Kegagalan Pembangunan akan tetap meredam kemajuan untuk menyejahterakan Rakyat Papua akan menciptakan kemiskinan akut. Sejarah dunia telah membuktikan bahwa kemiskinan adalah awal bara api pemberontakan. (4) Walaupun ketiga unsur pencentus Papua Merdeka di atas terpenuhi saya percaya ini akan sulit terjadi. Kalau orang percaya bilang kalau tak ada kehendak Tuhan apapun tidak akan terjadi. Selain itu saya punya satu hal yang saya percaya sangat mungkin menentukan Papua Merdeka adalah adanya – Persetujuan dari Saudara – Saudaranya Orang Jawa.
Hari ini orang orang terdidik seluruh Indonesia juga ikut mengamati perkembangan di Tanah Papua. Andai saja mereka ini sampai pada titik pemahaman Penderitaan KEMANUSIAAN di Papua, bersama dengan Sudara Orang Jawa akan merestui Papua Merdeka
We never know ! But for sure things are still happening around this focal issue. Better do something now or els will happen !
———————
Jakarta, 19 June 2025
*) Pengamat Pembangunan Papua, Penulis Satupena Wilayah Papua.