Pejuang Tanpa Pamrih: Jejak Joseph Afaratu di Ulang Tahun ke-75
Oleh : joko
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki – Di sebuah rumah permanen di Jalan Bhineka, Saumlaki, suasana syukur dan haru menyelimuti peringatan ulang tahun ke-75 seorang tokoh bersejarah yang dikenal sebagai “Bapak Konga” Joseph Afaratu.
Dalam doa syukur yang dipimpin Pendeta Welnince Noya/Sabonu, keluarga, kerabat, dan sejumlah tokoh masyarakat hadir bukan sekadar untuk memberi ucapan selamat, tetapi juga untuk mengenang perjalanan panjang dan tak ternilai dari sosok yang menjadi salah satu penggagas terbentuknya Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Rumah yang Menjadi Saksi Sejarah
Rumah Joseph Afaratu tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga saksi bisu berbagai pertemuan penting para inisiator perjuangan pemekaran daerah.
Di situlah diskusi, perencanaan, dan aksi dilakukan tanpa pamrih, dengan satu tekad: membebaskan masyarakat Tanimbar dari ketimpangan pembangunan dan pelayanan publik yang terpusat di Tual, Kabupaten Maluku Tenggara kala itu.

“Kami Tidak Diperhitungkan, Tapi Kami Berjuang”.
Dalam wawancara eksklusif bersama suaraanaknegerinews.com, Yoseph menyampaikan rasa syukurnya atas kesempatan hidup hingga usia 75 tahun, yang bertepatan pula dengan Hari Kebangkitan Nasional.
Namun di balik syukur itu, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan yang nyaris terlupakan.
“Selama ini kami tidak pernah diperhitungkan. Tapi hari ini saya bersyukur bisa menceritakan kenapa kami dulu harus berjuang membentuk Kabupaten Maluku Tenggara Barat,” ujarnya.
Sebagai kontraktor sukses di Tual saat itu, Yoseph memilih meninggalkan pekerjaan dan proyek besar demi perjuangan pembentukan kabupaten baru.
Ia menyaksikan langsung bagaimana masyarakat Tanimbar sulit mengakses pelayanan dasar seperti KTP, SIM, hingga legalisir ijazah semua harus ke Tual.

Pengorbanan Tanpa Balas
Joseph mengungkapkan, seluruh perjuangan dilakukan dari rumahnya, dengan dana pribadi, tanpa sepeser pun meminta sumbangan masyarakat.
Bahkan hingga kini, ia mengaku tak pernah mendapat proyek pemerintah di daerahnya sendiri meski pernah menjabat dua periode sebagai anggota DPRD.
“Saya bersumpah, tidak satu proyek pun saya pegang di Maluku Tenggara Barat, bahkan setelah berganti nama menjadi Kabupaten Kepulauan Tanimbar,” ungkapnya dengan nada tegas namun tenang.

Dokumen Perjuangan yang Terlupakan
Joseph menyayangkan sikap pemerintah daerah yang tak pernah mengundangnya untuk berdiskusi atau mengenang kembali sejarah pembentukan kabupaten ini.
Padahal, dokumen penting perjuangan masih tersimpan rapi di arsip, termasuk surat penyerahan lahan 1 juta meter persegi yang menjadi cikal bakal pusat pemerintahan.
Ironisnya, ia menyebut pernah digugat terkait tanah tersebut karena pemerintah tidak mengetahui sejarah dan dokumennya, padahal semua bukti masih ia simpan.

“Bukan untuk Kami, Tapi untuk Rakyat”
Joseph menekankan bahwa perjuangannya tidak pernah ditujukan untuk kepentingan pribadi.
Bahkan ketika dituduh sebagai provokator dan diperiksa polisi selama seharian, ia tetap pada pendiriannya: menolak reformasi yang menyimpang dari cita-cita rakyat.
“Saya bekerja demi rakyat, bukan untuk diri sendiri,” katanya.
Gagasan Besar yang Diabaikan
Salah satu gagasan besar Yoseph yang belum pernah terwujud adalah program tanam kelapa.
Ia pernah mengusulkan agar setiap desa menyiapkan 100 hektar lahan untuk ditanami kelapa, dengan perhitungan sederhana, 125.000 pohon bisa menghasilkan miliaran rupiah sekali panen.
“Kalau ini diterima, sekarang satu kampung bisa hasilkan Rp200 miliar per tahun dari kelapa,” ujarnya.
Refleksi dan Harapan
Di usia senja, Joseph tak menyimpan dendam. Ia hanya berharap generasi muda dan para pemimpin hari ini mau belajar dari masa lalu.
“Saya tidak menuntut hormat. Saya hanya ingin masa depan rakyat Tanimbar lebih baik,” katanya.
Ia pun menekankan pentingnya pelestarian bahasa daerah di tengah arus globalisasi, serta mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan menjual tanah kepada investor seperti INPEX, melainkan memilih skema kontrak agar generasi mendatang tetap memiliki warisan.

Mengenang Para Pejuang
Joseph juga mengenang rekan-rekan seperjuangannya yang telah berpulang, Bapak Dang Lerhulur, Yance Binanlole, Nani Taborat, dan lainnya.
Hanya segelintir yang masih hidup seperti Izak Angwarmase dan Bapak Luturmas, yang bersama Joseph pernah mengalami kerusakan mobil di desa terpencil dan harus kembali dengan perahu motor warga.
Sebuah Warisan yang Tak Terlihat, Tapi Hidup
Perayaan ulang tahun ini menjadi momen refleksi mendalam bagi masyarakat Tanimbar untuk mengenang jasa Yoseph Afaratu.
Ia mungkin tidak mendapat penghargaan resmi, tetapi warisan perjuangannya tetap hidup dalam setiap jengkal tanah Tanimbar yang hari ini menjadi kabupaten sendiri.