Penantian di Batas Cahaya
Oleh: Rizal Tanjung
–
Di bawah langit Papua yang luas membentang,
Aku berdiri, menjahit rindu di tepi senja,
Laut mengirimkan pesan dalam gemuruh gelombang,
Bahwa penantian ini tak bertepi, tak berbatas masa.
Aku menunggu, seperti pasir yang merindu ombak,
Seperti rembulan yang mengecup mentari di ufuk pagi,
Aku menunggu, dengan hati setia bak akar Sagu,
Menggenggam tanah nenek moyang, walau sendiri.
Tahukah kau, kekasih, mengapa hatiku luka?
Mengapa waktu mengiris janji menjadi bayang-bayang?
Aku gadis yang menanam cinta di ladang harapan,
Namun hujan tak turun, dan kau tak datang.
Janji yang Ditiup Angin
Pertama kali aku mengenal namamu,
Kau datang bagai fajar yang membasuh malam,
Suaramu mengalun seperti nyanyian Sagu,
Menari lembut di angin, mengisi ruang hening.
Kau bisikkan janji di antara debur ombak,
“Aku akan kembali,” katamu dengan mata berbinar,
Lalu kau pergi, membawa separuh cahayaku,
Meninggalkanku di dermaga doa dan penantian.
Kedua kalinya, aku menghitung bintang,
Satu, dua, tiga, sampai gelap tak bersisa,
Di antara waktu yang bergulir tanpa suara,
Aku tetap di sini, memeluk bayanganmu.
Ketiga kalinya, angin membawa kabar,
Tentang engkau yang kini menggenggam jemari lain,
Aku bertanya pada langit yang dulu saksi janjimu,
Apakah cinta bisa berdebu, hilang di udara?
Keempat kalinya, aku marah pada laut,
Mengapa ia tak menenggelamkan ingatan ini?
Mengapa ombak terus membawa suaramu?
Padahal hatimu telah mengembara, jauh dari pantai ini.
Kelima kalinya, aku sadar, aku bukan karang,
Aku bisa pecah, bisa hancur, bisa hilang,
Aku mencintaimu seperti laut mencintai pantainya,
Tapi kau seperti badai, datang hanya untuk pergi.
Melepaskan yang Tak Pernah Menggenggam
Kini aku tak lagi menunggu fajar membawamu,
Aku bukan akar yang harus tertanam selamanya,
Aku bukan nyanyian yang bergema di hatimu,
Aku bukan gadis yang kau ingat dalam sunyi malam.
Aku lepaskan kau seperti burung Cendrawasih,
Biarkan sayapmu menari di langit yang kau pilih,
Tak ada lagi luka yang kutabur di pasir,
Tak ada lagi rindu yang kutanam tanpa harap.
Dan jika suatu hari kau kembali ke pantai ini,
Mencari jejak yang dulu kau tinggalkan sendiri,
Jangan bersedih jika kau tak menemukanku,
Aku telah pergi, tapi cintaku tetap abadi di angin Papua.
17 Maret 2025