Penjarah dan Hak yang Terjarah
Karya Heri Haliling
–
Kamis siang, langit Kota Sine Qua Non pecah kaca. Hujan berhamburan. Desau desing campuran air dan gema. Luka dan melukai di mana-mana. Kemudian Jalan Nomaden mulai bergetar. Gedung Dewan yang biasa pongah menatap tanpa mata mulai meraba peluhnya. Pukul sepuluh, suara sepatu berhentak-hentak di aspal. Mereka berbaris, meneriakkan janji, dan mengibas-ngibaskan spanduk. Kibasan elang yang ringkih dalam sakit. Elang tua yang terlalu erang menyandang Saptasila di dadanya.
Mahasiswa, pelajar, buruh, dan rakyat kecil menjelma bah. Orang-orang yang haus kata-kata. Mereka berdiri di gerbang besi, membawa poster lusuh, dan doa penghancuran. Kericuhan mengombak gila! Hantam bebatuan dan karang. Pengaman berderap. Gas air mata menari di udara. Batuk. Pekik. Sumpah! Tangan-tangan saling tarik. Batu melayang. Pentungan berayun. Jeritan lagi membalut nyeri.
Di sudut lain, Lindu sedang mengikat kotak makanan di jok motor. Ditutupi plastik sebab guruh air benar-benar mencubiti wajahnya. Celaka bila makanan itu hancur, begitu yang Lindu cemaskan. Tujuannya sederhana, nasi goreng ayam, minuman dingin, sambal yang baunya menusuk; hidupnya hanya jalur antar jemput garis lurus dari aplikasi ke perut orang lain. Hanya ingin lewat. Lalu menyerahkan makan siang pada seseorang yang tak mengenalnya. Dan terima salam aplikasi untuk nafkah keluarga yang menunggu di rumah.
Tak jauh dari sana, keramaian kian caos. Namun pekerjaan tetap pekerjaan. Ia harus melintas berdansa dengan hujan. Lalu lintas membeku. Motor-motor berhenti, bingung seperti ikan di akuarium yang berair kuning pucat. Lindu menoleh. Laut manusia di depannya. Spanduk, teriakan, drum plastik. Ia menghela napas. Menyusup basah kuyup. Mencoba menyeberang kabut.
Mendadak langkahnya goyah. Mungkin aspal licin. Sepatu terpeleset. Tubuhnya pun jatuh. Detik itu, waktu berhenti sekejap. Kemudian rona jingga menyambut begitu garang!
Brakkk!!! Brusss!!!
Mobil rantis pengaman melesat. Besi hitam, roda raksasa, amarah mesin. Dentum tak terelakkan dalam hujan. Lindu bahkan tidak sempat hanya untuk bangun. Ia tidak sempat menoleh. Tubuhnya hanya angka kecil di antara massa. Dan roda itu memilihnya. Melindas!
“Akhh!!! Tolongg!!” pekik Lindu tak kuasa.
Rantis berhenti oleh pengganjal tubuh Lindu. Darah meluber dari hidung dan mulutnya. Dadanya remuk. Pencari nafkah itu menggelepar sejenak. Sebelum kini tubuhnya lunglai bersapu air dan ceceran merah kehitaman.
Orang-orang berteriak. Getaran berubah jadi amarah. Roda yang menghancurkan daging berubah jadi pemicu. Para driver ojol meloncat. Helm hijau, jaket sobek, tangan-tangan memukul. Batu terlempar. Massa mengamuk. Rantis dilempari, denting kaca pecah. Kota Sine Qua Non terbakar oleh dada-dada yang tersayat.
Dan iblis apa yang mengisi mesin pelindas itu. Tanpa ba bi bu, rodanya kian melaju.
“Setan!!” umpatan massa dicampur dengan sumpah kebinatangan yang keras meledak dari mulut mereka. Rantis menggerum tak peduli. Meninggalkan Lindu yang terkapar tanpa daya.
Lindu, sudah tak ada. Napasnya tertinggal di aspal. Kotak makanan terlempar, nasi goreng tumpah, sambal merah bercampur darah. Aroma cabai dan besi. Mereka membawanya ke rumah sakit, RSCM. Tergesa, sirine melolong. Namun ajal sudah menunggu di pintu. Perawat tak bisa mengejar waktu. Lindu pergi. Sunyi.
Sementara itu Bu Suarsih menunggu di rumah. Menyapu lantai. Mengira Lindu, puteranya akan membawa pulang uang kecil untuk beli minyak goreng. Namun telepon berdering. Suara samar berkata pelan, “Bapak ata ibu, Lindu kena musibah. Dia di RSCM, mohon segera ke sini.”
Kontrakan sederhana itu seolah bergoyang. Udara susut pada titik terendah. Bukan hangat, tapi sesak. Lalu lantai mulai amblas. Dinding ikut menghimpit. Kecemasan meledak dalam kepalanya. Bu Suarsih meremang. Perempuan tua itu sempoyongan lalu menepi cegat angkutan.
“Emak, ke mana?” tegur Rustam, Kakak Lindu.
Bu Suarsih menceritakannya. Rustam mulanya menolak informasi itu. Dengan sigap ia menelpon Lindu. Namun tak aktifnya hp adiknya itu memaksa Rustam mau tak mau harus ikut.
Merah menyala di langit Sine Qua Non. Sirine meraung di mana-mana. Penjarahan tampak di beberapa istana yang dipunyai dewan. Keluar masuk angkat barang. Toh semua yang Tuan besar itu punya adalah hasil upeti yang kami bayar, gumam Rustam dalam angkutan.
Masih tumpah ruah perjuangan demi penghapusan prilaku bidah dalam tanah yang suci ini. Hingga kumandang Isa menandai ibu dan anak itu sampai di rumah sakit. Terseok dengan irama gusar yang bertumpuk-tumpuk. Rustam menerebas ke barisan depan. Beberapa kesatuan baju hijau mengerumun di depan ruang UGD. Wajah mereka pucat kabut.
“Lindu!!” teriak Bu Suarsih yang berlari menuju seonggok tubuh dingin di atas bangsal.
Rustam yang melihat keadaan nanar itu spontan terduduk lemas. Pria tak akan menangis, tahan tubuhnya yang gemetar. Tak urung semua percuma. Hakikat jiwa manusia, kabar dadakan itu pun tak berhasil enyahkan duka. Rustam yang melihat emaknya menggelijang dengan berontak, padahal kerumunan ojek online telah memeganginya segera bangkit.
“Istigfar, Mak. Istigfar,” peluk Rustam yang tercerai berai.
Tak lama media sosial segera meledak oleh kabar kematian Lindu. Foto-foto, video, dan berita terburu-buru. Orang-orang menulis status. Orang-orang mengetik doa. Orang-orang mengutuk. Kobar menjalar ke mana-mana. Merah bukan hanya di langit Sine Qua Non. Jogetan setan di sana menyemai berontak untuk segera adili para binatang. Kumpulkan dalam satu kubangan. Dan jangan ada secuil pun keraguan.
Presiden Marudut Nasution segera titahkan untuk penangkapan para penjarah. Meski ada rasa linu dalam lidahnya mengingat penjarah itu hanya menjarah secuil upeti yang ubah jadi gunung. Dari yang penjarah itu sejak dulu mulai tanam.
Petugas mulai bergerak gempita. Intel tersebar di mana-mana untuk amankan para penjarah. Hari demi hari, merah tetap nyala. Satu persatu penjarah istana Tuan besar diamankan. Kilat dan begitu akurat. Inilah kinerja top yang diharapkan. Tetapkan segera tersangka. Bekuk lalu adili.
Sebuah hari yang masih sangit, jalan tetap dipenuhi sisa hangus ban. Bau gas air mata menempel di daun. Spanduk koyak. Sepatu hilang sebelah. Bekas darah di aspal. Tak ada lagi gaung. Hanya angin yang berbisik, satu lagi tumbang.
Di sudut komplek kontrakan, Rustam selesai taburkan bunga di atas pusara Lindu. Ada-ada saja hal yang terus mengobar. Rustam hela napasnya, hembuskan penungguan yang mungkin bermuara lupa. Menyungging hina.
Adili penggilas yang mencabut nyawa adiknya nyatanya sepoi ketimbang gesitnya para penjarah yang telah dijebloskan ke penjara.
Matanya melinang. Luka itu dalam, sayangnya berharga murah.
Selesai!
Biodata Penulis
Heri Surahman memiliki nama pena Heri Haliling. Pria kelahiran Kapuas, 17 Agustus 1990 itu adalah seorang guru di SMAN 2 Jorong di Kalimantan Selatan. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif sebagai penulis.
Beberapa karyanya antara lain:
- Novel Perempuan Penjemput Subuh (PT Aksara Pustaka Media, 2024)
- Novelet Rumah Remah Remang (J-Maestro, 2024)
- Buku kumpulan cerpen Perempuan Penggenggam Pasir (Guepedia, 2025)
Heri Haliling juga gemar mengikuti penulisan antologi, di antaranya:
- Buku antologi puisi Abad Burung Gagak di Palestina (Lintas Aksara, 2015)
- Buku antologi cerpen Senandung Cinta (Redirzen, 2024)
- Buku antologi cerpen Tuhan, Aku sedang Berusaha. Bantulah Aku (Teori Kata, 2024)
- Buku antologi cerpen Liliy dalam Dekapan Laut (PT Binar Cipta Pratama, 2024)
- Buku antologi cerpen Goresan Perasaan Kita (Ka’ros’ Publisher, 2024)
- Buku antologi cerpen nasional guru dan dosen (Sediksi Publisher, 2024)
Keikutsertaan Heri Haliling dalam lomba tulis menulis akhirnya membuahkan hasil, di antaranya:
- Novel Perempuan Penjemput Subuh menjadi juara ke-2 Lomba Cipta Novel Guru dan Dosen yang diselenggarakan PT Aksara Pustaka Media.
- Cerpen Sekuntum Mawar dengan Tangkai yang Patah mendapat juara ke-3 Lomba Cipta Cerpen Nasional Guru dan Dosen dari Sediksi Publisher.
- Cerpen Kasih dalam Sebuah Boneka memperoleh harapan terbaik pada lomba cerpen Poetry Publisher.
Selain gemar mengikuti antologi, Heri Haliling juga kerap mengirim sejumlah tulisannya ke media cetak atau digital.