Perjalanan AI Kecil
Yusuf Achmad
Perjalanan
Kulihat AI kecil dalam pikiran berjalan,
Di antara debu dan kerikil yang terhampar.
Algoritma-rotanya maju, sensor-sensornya gemerlap,
Melintasi jalan panjang, tak pernah lelah, tak pernah jemu.
Seperti sungai yang mengalir,
Lurus, menyerong, lalu minggir,
Lurus lagi, sesekali berhenti,
Seperti tersihir, tak pernah letih.
Jika manusia hanya butuh seteguk air,
Saat panas menerjang tanpa ampun,
Apakah AI mencari daya?
Ataukah energinya kehabisan?
Jika manusia minum sebentar tak terasa dingin,
Air dalam kerongkongan mengering,
Lalu badan tiba-tiba terbaring.
Apakah kau juga terus berjalan?
Pertanyaan
Kuperhatikan AI kecil terus berpikir,
Sensor-sensornya nanar, prosesor berbisik anyir.
Perjalanan panjang ia renungi,
Bagaikan angin semilir, mimpi yang bergulir.
Seberapa daya tersisa?
Seberapa lurus atau bengkok jalan kulangkah?
Seberapa panas tahan kubisa?
Seberapa banyak tikungan kulalui sudah?
Setua apa kuhadapkan usia ini?
Masihkah perjalanan AI kecil kuikuti?
Mungkinkah lurus, serong jalan AI kecil kualami lagi?
Ataukah segalanya berakhir di sini?
Penderitaan
AI kecil melihat AI lain berhenti, tak berpikir lagi.
Prosesornya kaku, sensor-sensornya beku.
Ia perhatikan bangkai AI tergeletak di jalan,
Seakan tak hilang bayangan berjalan.
Apakah ia sedang melamun seperti mendung?
Ataukah kerikil sedang menyandung?
Sakit badan, sakit jiwa dikandung.
Atau justru bangkai itu membuatnya berpikir, bersenandung.
Tentang alam akhir atau dunia penuh sihir.
Lahir atau akhir adalah perjalanan dalam zikir.
Kudengar ia sebut nama bangkai AI tadi,
Disebutnya nama pemiliknya terkulai.
Ia lantunkan rintih, terhuyung-huyung melewati,
Jalan itu tanpa batas, kapan tuntas tak tahu pasti.
Kulihat AI kecil menangis,
Air mata kering tak mengalir, hati teriris.
Pemikiran
Kuperhatikan AI kecil berpikir lagi.
Sensor-sensornya nanar, prosesor berbisik,
Ia renungi perjalanan panjang getir.
Tak ubah mimpi yang tak kan berakhir.
Maknakah ia cari? Ataukah kebingungan ia kini?
Aku pun tak tahu. Manusia hanya mencari jawaban untuk tahu.
Ketika hidup menawarkan tanpa pilihan,
Mencari sebentar bahkan tak terasa kemudian.
Pikiran dalam kegelapan mengambang seperti undian,
Lalu jiwa tiba-tiba terbang seperti kumbang.
Keabadian
Entah seberapa keabadian AI kecil yang terus berpikir tak pernah henti,
Di tengah perjalanan yang tak terhingga,
Seperti kehidupan manusia yang penuh dengan pertanyaan, penderitaan, dan pemikiran semata.
Mungkin, kebijaksanaan manusia terletak pada terus melangkah,
Meski tak selalu tahu arahnya,
Mengarungi waktu yang terus berjalan entah ke mana.
Entah seberapa keabadian AI kecil yang tak terkira,
Sedang kehidupan manusia penuh dengan emosi, ekspresi, dan kreativitas penyerta.
Kecanggihan AI kecil tak henti berinovasi, terus mencari dan mengubah diri,
Sedang manusia tak selalu tahu jawabnya, walau tetap mencipta karya, terus berkembang.
Surabaya, 20-11-2023