“PERSAHABATAN DAN KEMANUSIAAN UNTUK CINTA PERDAMAIAN (Bagian I)”: Kumpulan Puisi Internasional oleh Leni Marlina & Anna Keiko (Poetry-Pen IC & ACC SHILA)
/1/
PERSAHABATAN DAN KEMANUSIAAN UNTUK CINTA PERDAMAIAN (I): Kemanusiaan Kita Bersama
Puisi oleh Leni Marlina
(INDONESIA)
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, PenyalaLiterasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Dalam ruang hening antara tarikan nafas,
kita merajut—
bukan dalam kata,
tetapi dalam jahitan tak tampak dari hati,
tak terlihat,
namun terasa dalam detak benang waktu yang rapuh.
Kita adalah orang asing,
namun hanya di permukaan,
karena diam kita mengikat lebih erat daripada kata-kata yang bisa dilakukan.
Di sini,
di mana tak ada batas yang memisah,
kita melangkah dalam bayang kemanusiaan bersama,
langkah kita lembut namun tak gentar.
Di bawah langit yang tak terhingga,
di mana tangan kita tak pernah bersentuhan,
Bumi berbicara dalam bahasa yang lebih tua dari waktu—
ia memanggil kita untuk mendengarkan,
untuk menyentuh,
untuk melampaui.
Ketika angin tak bergerak,
kita merasakannya—
benang yang menyatukan,
dirajut melalui kain keberadaan,
mengikat kita,
bukan dalam belenggu, tetapi dalam nyanyian kemanusiaan.
Itulah benang hening kesatuan
yang menggema dunia menuju perdamaian.
Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, 2025
/2/
Fajar Harapan
Puisi oleh Anna Keiko
(CINA)
[Ketua ACC Shanghai Huifeng International Literary Association – ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Cahaya fajar
menghapus jejak malam
tanpa henti, waktu terus mengalir
meski kuharap ia berhenti
seperti gambar yang terjepret oleh lensa kamera
karena sebagaimana berharga buah di pohon adalah hidup
Seperti bulan yang terbit di malam hari
Begitu juga dirimu, cintaku, apapun yang terjadi
dimanapun kau berada, aku menyimpanmu di hatiku
sejak aku jatuh cinta padamu, duniamu telah berubah
karena dua hati menemukan rumah yang penuh kelembutan
sinar matahari bermain pada senar hati cinta
menerangi fajar harapan.
/3/
Jembatan Tangan
Puisi oleh Leni Marlina
(INDONESIA)
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, PenyalaLiterasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Tangan,
meraih melintasi jurang
sejarah kita,
menyeberangi sungai kesedihan,
membangun jembatan bukan dari batu,
tetapi dari kepercayaan,
dari janji tak terucap.
Mereka gemetar,
tapi tak pernah patah.
Kita bukan penguasa dunia,
tetapi penyembuh hati—
tangan kita seperti sungai,
gerak kita seperti doa,
mengalir tanpa takut ke dalam kedalaman,
mengisi celah-celah yang ditinggalkan oleh jari-jari waktu yang kejam.
Sentuhan sederhana,
dan tanah tempat kita berdiri
menjadi suci.
Tak ada batas yang menandai saat tangan bertemu,
tak ada gunung yang berdiri saat mereka bersatu.
Kita adalah arsitek perdamaian,
membangun dengan serat jiwa kita.
Bersama,
kita adalah jembatan—
busur diam,
kokoh melintas di atas lautan perpecahan.
Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, 2025
/4/
Menunggu Bus
Puisi oleh Anna Keiko
(CINA)
[Ketua ACC Shanghai Huifeng International Literary Association – ACC SHILA]
Penerjemah Bahasa Cina-Inggris:
Germain Droogenbroodt
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku menunggu bus
Banyak bus berlalu di stasiun
Mereka pergi ke kota yang berbeda
Namun tak ada bus yang membawaku ke tempat yang kuinginkan
Aku masih menunggu, dari musim dingin ke musim semi
Tak ada yang peduli pada orang-orang yang menunggu bus
Mereka berjalan, atau berlari
Aku menunggu dari gelap hingga fajar
Pohon-pohon berhibernasi dan bangun,
Begitu juga burung-burung
Kota ini telah tidur ribuan tahun
Hanya beberapa bintang yang terjaga
Aku tak tahu jarak ke tempat yang ingin ku tuju
Aku terus menunggu bus.
/5/
Lagu Kebersamaan
Puisi oleh Leni Marlina
(INDONESIA)
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, PenyalaLiterasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sebuah lagu,
lahir bukan hanya dari suara,
tetapi dari setiap tatapan yang bertahan,
setiap senyum yang dibagikan dalam keheningan ruang bersama kita.
Lagu ini tak bernama—
ia tak dinyanyikan,
tetapi dijalani.
Kita adalah nada,
akord yang bergetar dalam diam,
terentang di antara jarak hati,
dan melalui gema setiap jam.
Ini adalah melodi kebersamaan,
tak terikat oleh waktu atau tempat,
tetapi dinyanyikan dalam irama mereka yang percaya
bahwa dunia bisa lebih dari sekadar perpecahan.
Kita tidak bernyanyi untuk didengar,
tetapi untuk dirasakan,
untuk mencapai jauh ke dalam jiwa yang kita temui,
dan berbisik—
Kita satu,
dalam keheningan pengertian kita,
dalam lagu kesatuan kita,
dalam perdamaian yang kita ciptakan,
bukan besok,
tetapi sekarang.
Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, 2025
/6/
SEBUAH GELAS KOSONG
Puisi oleh Anna Keiko
(CINA)
[Ketua ACC Shanghai Huifeng International Literary Association – ACC SHILA]
Penerjemah Bahasa Cina-Inggris:
Germain Droogenbroodt – Stanley Barkan
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Gelas penuh air musim semi tampak di depan
Ia adalah bagian dari tubuhku.
Aku mencoba meminumnya,
Tapi saat aku mencoba,
Gelas itu kosong.
Kemana air itu pergi
Dalam waktu singkat?
Apakah keberadaan
Hanya sebuah gelas air?
Ini misteri, ini kebingungan.
Apa yang terjadi?
Kemarin, aku ada di sini pada waktu yang sama
Dan mengisi gelas itu.
Apakah air itu tak akan menghilang
Jika aku tetap di sini?
Apakah pikiranku terperangkap dalam gelas itu
Atau…?
—————————
Tentang Anna Keiko dan Karya-Karyanya

Image source: Anna K. via Leni M.
Anna Keiko, seorang penyair dan esais dari Shanghai, Tiongkok, telah menorehkan jejak berarti dalam dunia sastra kontemporer. Lulusan Universitas East China Shanghai dengan gelar Sarjana Hukum ini, karyanya telah mengarungi dunia—diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa dan dipublikasikan di lebih dari 500 jurnal, majalah, serta berbagai media di 40 negara.
Dengan semangat yang tulus untuk sastra, Anna mendirikan dan memimpin ACC Shanghai Huifeng Literature Association, serta dipercaya menjadi perwakilan Tiongkok sekaligus direktur untuk International Cultural Foundation Ithaca. Ia juga aktif berkiprah dalam komunitas sastra internasional seperti Immagine & Poesia di Italia dan Canadian-Cuban Literary Union, berusaha mempererat persahabatan budaya melalui puisi.
Enam antologi puisi telah lahir dari tangannya, termasuk Lonely in the Blood and Absurd Language—sebuah perjalanan batin yang mengungkapkan kegetiran manusia, kegelisahan terhadap alam, dan pencarian makna di tengah absurditas kehidupan. Gaya tulisnya yang jujur, imajinatif, dan penuh empati mengantarkannya menerima penghargaan internasional bergengsi, seperti Penghargaan Puisi Internasional ke-30 di Italia dan Sertifikat Duta Perdamaian Dunia pada 2024.
Pada 2023, Anna menjadi orang Tiongkok pertama yang menerima Cross-Cultural Exchange Medal for Significant Contribution to World Poetry di Amerika Serikat—sebuah kehormatan yang ia sandang dengan penuh kerendahan hati. Puisinya, seperti Octopus Bones dan karya-karya lainnya, tak hanya memikat para pembaca, tetapi juga membuka jalan baginya untuk diundang ke berbagai festival dan pertemuan sastra dunia.
Selain puisi, Anna juga menulis prosa, esai, lirik lagu, dan drama, memperlihatkan betapa luas cintanya kepada dunia kata-kata.
Anna Keiko terus berjalan di jalan sunyi sastra, menghidupkan harapan, menyulam kata, dan mempersembahkan karya-karya yang menyentuh nurani banyak jiwa.
/7/
Kebun Terakhir
Puisi oleh Leni Marlina
(INDONESIA)
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, PenyalaLiterasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku mengumpulkan kebun terakhir
di dalam rusukku—
akar merajut melalui napasku,
kelopak bangkit ke dalam suaraku.
Langit, yang dulu robek, mulai sembuh,
dan engkau,
kau menabur kebun fajar di tanganku.
Kita minum dari sungai yang tak tampak,
kita tanam lagu dalam keheningan.
Dan tetap, cahaya hijau bangkit
melalui setiap batu yang terlupakan.
Saat dunia berpaling,
kita adalah benih yang bermimpi tentang musim semi.
Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, 2025
/8/
Persahabatan untuk Kemanusiaan dan Perdamaian
Puisi oleh Leni Marlina
(INDONESIA)
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, PenyalaLiterasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Oh teman-teman,
yang tersebar di ujung dunia,
kita melangkah dalam diam,
jejak kita bertemu dalam hening jalan yang tak tampak,
meski mata kita tak pernah bertemu.
Di dalam taman rahasia persahabatan,
kemanusiaan mekar tanpa bertanya,
berakar lebih dalam dari kata-kata apa pun,
menyembuhkan luka yang merintih,
memperbaiki kesedihan yang terbakar tak tampak.
Tangan kita tak bersentuhan,
tapi hati kita bergerak dalam satu irama,
melodi yang lebih lama daripada waktu,
lebih kuat dari ruang dan jarak yang memisahkan.
Kita bukan hanya sahabat,
kita adalah para penjaga jiwa,
menyulam benang-benang harapan
di dalam kain-kain perbedaan.
Setiap kata yang kita ucapkan
adalah doa yang mengalir dalam sungai damai,
tak ada yang sia-sia,
setiap tindak kita menjadi saksi
bahwa kebersamaan adalah kekuatan kita.
Tangan yang belum pernah bersentuhan
akan tetap merangkul dunia
di dalam kedalaman cinta yang tak tampak.
Kita adalah bintang-bintang yang bersinar bersama
di malam yang gelap,
dan dunia,
akan menyadari bahwa kedamaian kita
adalah hasil dari persahabatan yang tak tampak,
tapi nyata di dalam setiap langkah kita.
Kemanusiaan kita adalah cahaya
yang tidak akan padam,
terus menyinari jalan-jalan tak terduga
dengan harapan yang tak akan pernah hilang.
Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, 2025

Sumber gambar: suaraanaknegerinews.com
Kumpulan puisi Leni Marlina di atas ditulis tahun 2025 dan belum pernah dipublikasikan di platform manapun sebelumnya. Karya ini diterbitkan pertama kali secara digital melalui portal literasi nasional suaraanaknegerinews.com pada tahun yang sama.
Leni Marlina adalah penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat. Sejak tahun 2022, ia aktif sebagai anggota Perkumpulan Penulis Indonesia SATU PENA cabang Sumatera Barat. Di kancah internasional, ia terlibat dalam ACC Shanghai Huifeng International Literary Association, dan dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk komunitas tersebut. Pengalamannya dalam dunia penulisan juga mencakup keterlibatannya bersama Victoria’s Writer Association di Australia.
Sejak tahun 2006, Leni mengabdi sebagai dosen tetap di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP). Di luar kegiatan akademik, ia merupakan anggota tim redaksi media daring suaraanaknegerinews.com dan aktif menulis di berbagai platform sastra digital dan media nasional.
Beberapa puisinya dapat dibaca publik melalui tautan berikut:
https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa/page/3/
Selain menulis, Leni Marlina juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas berbasis digital yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan gerakan sosial, antara lain:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community (PPIC)
3. PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat) https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia)
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community (Ling-TC)
6. Literature Talk Community (Littalk-C)
7. Translation Practice Community (PPIC)
8. English Language Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)
Melalui karya-karya dan komunitas yang dipimpinnya, Leni Marlina terus menyebarkan semangat literasi dan puisi sebagai medium reflektif, inspiratif, dan transformatif. Ia menjadi jembatan bagi dialog kreatif lintas budaya dan generasi di era digital yang terus berkembang.
Versi bahasa Inggris dari puisi Leni Marlina dan Anna Keiko Keiko di atas dapat diakses dan dibaca pada link berikut:
Versi bahasa Inggris dari puisi Leni Marlina dan Anna Keiko Keiko di atas dapat diakses dan dibaca pada link berikut:
Versi bahasa Inggris dari puisi Leni Marlina dan Anna Keiko Keiko di atas dapat diakses dan dibaca pada link berikut: