April 18, 2026

“Pesan Yang Terapung di Laut”: Kumpulan Puisi Pilihan (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI)

lina mata

Ilustrasi "Pesan Yang Terapung di Laut": Kumpulan Puisi Pilihan (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-90 (Assisted by AI).

/1/

Pesan Yang Terapung di Laut

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

<I>

Laut bukan hanya air, bukan hanya asin, bukan gelombang. Ia adalah rahim pertama, yang tidak pernah melahirkan, tetapi menelan, menyimpan segalanya— satu per satu, tak terhitung.

Layar yang tinggi, kapal-kapal yang gagah, tangan manusia yang berani menganggap angin adalah budaknya— semuanya hanyalah serpihan yang terkubur di dasar, oleh monster yang tak bernama, oleh arus yang menulis ulang sejarah dengan tinta yang larut, tak terjaga.

<II>

Malam ini, laut tidak sekadar bergerak—ia membuka matanya. Badai adalah kelopak matanya yang berkedip, dan di baliknya, gelombang menggeliat, seperti ular raksasa yang baru sadar lapar.

Ia tidak mengaum, tidak memperingatkan, tidak memberi tahu arah angin. Hanya satu suara yang memenuhi langit: suara rahasia yang ditulis di lidah petir, dihembuskan ke seluruh penjuru, menyentuh setiap gundah manusia, membuat mereka kerdil dalam perut perahunya.

<III>

Siapa yang kau panggil sekarang, manusia? Lidahmu dulu sibuk memuji kayu dan baja, mengukur langit dengan kompas dan rumus, mengira ombak hanyalah irama pelayaran. Namun sekarang, ketika ombak berubah menjadi mulut yang lapar, ketika angin mencabik tubuh kapal seperti kertas, ketika bintang bersembunyi dalam gulita, kau baru ingat siapa yang menguasai semua ini?

Laut tidak tertawa. Ia hanya mengangkat bahunya yang berupa gelombang, dan satu per satu, mereka yang serakah, ditelan dalam keheningan yang lebih dalam dari maut.

<IV>

Setelah itu? Langit kembali memintal awan, angin kembali berkelana, dan ombak kembali menyisir pantai, seperti jari raksasa yang kelelahan.

Hanya satu yang tersisa: serpihan kayu yang mengapung di bibir laut pada malam hari, meninggalkan pesan agar, manusia perlu belajar jadi lebih manusiawi.

_ Warnambool
Australia, 2012

/2/

Kedaulatan Yang Hilang

Puisi Zulkifli Abdy

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Aceh, Kreator Era AI]

Wahai laut Sahabatku Kau adalah air kami Seperti juga pulau Adalah tanah kita Kau seperti arus Bercumbu mesra Di bibir pantai senja Kini kau terbawa arus Karena kelancangan itu Ibu Pertiwi menangis sedu Mengapa kau hanya terdiam Telah dipagar orang tak dikenal Karena itu kita tak lagi bersahabat Apakah kau telah pikun atau pelupa Di antara kita kini telah jadi kau dan aku Kau turut menghilangkan kedaulatan kita.

_ Banda Aceh,
26 Januari 2025

/3/

Buih-Buih Yang membeku

Puisi Zulkifli Abdy

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Aceh, Kreator Era AI]

Tatkala buih-buih di laut membeku, akan jadi karang di bibir pantai Tatkala hati nurani telah membatu, orang akan buta terhadap nilai Usahlah sia-siakan hidup ini berlalu, jadilah berarti bagi orang ramai Hati nan buta tidak mengenal malu, Hati nan ikhlas hidup pun damai.

_ Beranda Senja, Aceh November 2023

————

Zulkifli Abdy lahir di Jambi dan berdomisili di Aceh sejak tahun 1970. Ia seorang Sarjana Ilmu Komunikasi; menekuni dunia kepenulisan secara otodidak sejak remaja; menghasilkan artikel dan menulis puisi dengan semangat sastra yang kuat. Menulis baginya bukan sekadar aktivitas, tetapi juga cara menuangkan perasaan dan menggantikan catatan harian.

/4/

Laut, yang Menguyah Nama-Nama

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Laut tidak lagi berbisik—ia menyergap suara, mengunyah nama-nama yang kau seru dalam doa, melumatnya menjadi buih yang pecah sebelum sempat tiba. Laut bukan sekadar air yang menampung luka, ia adalah palu yang menempa kita antara karam dan keteguhan.

Di tubuhnya, mimpi-mimpi tidak tenggelam dengan damai— mereka diremukkan, dihanyutkan, diuji dalam pusaran, sebelum akhirnya lahir kembali sebagai tekad yang lebih keras. Harapan, katamu, masih mengapung, tapi apakah kau pernah melihat bintang yang diam dalam badai? Bahkan cahaya pun harus berjuang untuk tetap bercahaya.

Namun kita bukan kayu rapuh yang hanyut tanpa nama. Lengan kita masih mengayuh, menerjang gelombang yang ingin menghapus jejak. Kita meninju laut dengan dada terbuka, menyerap asin ke luka, tapi tidak membiarkan luka menjadi nisan bagi langkah kita.

Kita bertahan— seperti ikan yang melawan jaring, seperti perahu yang menolak karam, seperti pasir yang dikhianati gelombang, tapi kembali membangun daratan dari setiap reruntuhan.

Kehilangan bukan hanya laut yang luas, ia adalah jantung yang memompa asin ke nadi kita. Laut ini lebih mengenal kita daripada dunia yang kita tinggalkan, lebih jujur dalam menenggelamkan daripada manusia dalam mencintai. Tapi kita bukan hanya buih, kita adalah tangan yang tetap mendayung, kita adalah nama yang tak akan hilang.

_Warnambool
Australia, 2012

——–

Kumpulan puisi no. 1 & 4 di atas awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2012, saat penulis menjalani program Master of Writing and Literature (Literary Studies, Creative Writing & Children’s Literature) di Australia, dengan beasiswa pemerintah Indonesia. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta mulai tahun 2024 dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital/ kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)

Baca a-message-floating-on-the-sea-the-selected-poetry-collection-ppipm-indonesia-poetry-pen-ic-indonesian-writers-of-satu-pena-indonesian-creators-of-ai-era/