April 18, 2026

Esai Karya: Wina Zakinah

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen International Community, Poetry-BLaD & IOSoP 2025]

—————————

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa puisi itu penting? Di dunia yang sering kali terburu-buru dalam mengejar perasaan dan impian, puisi mengajarkan kita untuk melambat – untuk berhenti sejenak, untuk melihat, dan untuk merasakan. Puisi membuka mata kita terhadap kebenaran yang sering tersembunyi di bawah permukaan kehidupan sehari-hari. Ketika kita mempelajari puisi, kita tidak hanya membaca kata-kata; kita memasuki sudut terdalam dari hati manusia. Kita belajar empati, ketangguhan, dan keberanian untuk menghadapi keindahan dan kepedihan yang ditawarkan oleh kehidupan. Melalui puisi, kita diajak untuk hidup dengan lebih sadar dan terhubung lebih dalam dengan orang lain. Dalam semangat ini, saya ingin berbagi tiga puisi yang luar biasa: “Buih Buih yang membeku” (2023) karya Zulkifli Abdy, dan “Gunung yang Menyimpan Rahasia Waktu” (2012) serta “Jendela yang memantulkan kehilangan” (2018) karya Leni Marlina. Puisi-puisi ini bukan hanya karya sastra yang indah; puisi-puisi ini merupakan jendela ke dalam kehidupan itu sendiri, menawarkan pelajaran yang akan terus membekas di benak kita setelah bait-bait terakhir.

Pertama, puisi “Buih-buih yang Membeku” (2023) karya Zulkifli Abdy mengajarkan kita tentang bahaya ketidakpedulian. Sang penyair melukiskan gambaran keindahan yang menghantui, yang menawan sekaligus cepat berlalu-seperti buih di atas ombak lautan. Di balik gambaran ini terdapat peringatan yang lebih dalam: ketika kita mengabaikan masalah-masalah nyata di dunia, seperti ketidakadilan dan penderitaan manusia, kita berisiko membekukan rasa belas kasih kita sendiri. Puisi ini mengingatkan kita bahwa kebisuan dan kebutaan terhadap perjuangan orang lain akan menyebabkan hilangnya rasa kemanusiaan kita. Puisi ini mengajak kita untuk bangkit-melihat, peduli, dan bertindak.

Kedua, puisi Leni Marlina “Gunung yang Menahan Rahasia Waktu” (2012) membawa kita pada sebuah perjalanan kekuatan dan kebijaksanaan. Dalam puisi ini, gunung lebih dari sekadar puncak yang megah; gunung menjadi simbol ketenangan dan pemahaman yang mendalam. Kebesaran sejati, kata Marlina, tidak diukur dari kebisingan atau tepuk tangan, tetapi dari seberapa tabahnya kita menghadapi badai kehidupan. Gunung menyimpan rahasia waktu bukan melalui kata-kata, tetapi melalui ketangguhannya yang sunyi. Ia mengajarkan kita bahwa hati yang tetap sabar dan rendah hati akan membawa kebijaksanaan yang lebih lama dari waktu itu sendiri.

Terakhir, dalam “Jendela yang Memantulkan Kehilangan” (2018), Leni Marlina membawa kita ke dalam momen penantian dan harapan yang lembut. Melalui gambar seorang ibu yang duduk di dekat jendela berdebu, menenun tikar dan mimpi, ia menangkap ikatan cinta yang tak terpatahkan. Bahkan ketika waktu berlalu dan jarak semakin jauh, hati sang ibu tetap teguh, diam-diam percaya, diam-diam mencintai. Puisi ini membisikkan kebenaran yang kuat: tidak peduli seberapa jauh kita pergi atau berapa lama kita pergi, selalu ada seseorang yang menyimpan ruang untuk kita di dalam hatinya.

Kesimpulannya, mempelajari puisi mengajarkan kita lebih dari sekadar cara menghargai keindahan; puisi mengajarkan kita bagaimana menjadi hidup sepenuhnya. Puisi mendorong kita untuk membuka mata, merasakan lebih dalam, dan menjalani hidup dengan empati dan pengertian. Puisi-puisi ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap wajah, setiap keheningan, dan setiap hati yang menunggu, ada sebuah cerita yang layak untuk dilihat dan dihargai. Jika kita membiarkan puisi membentuk hati kita, kita tidak hanya akan ada-kita akan benar-benar hidup.

Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 2025

——————————————

Info Penulis:

Wina Zakinah adalah mahasiswa yang terdaftar pada tahun 2024 di Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Ia lahir di Ranah Pantai Cermin pada tahun 2007, dan sekarang tinggal di Padang, Sumatera Barat. Wina merupakan alumni Sekolah Menengah Atas SMA N 3 Solok Selatan.

Selain itu, Wina Zakinah juga merupakan anggota dari beberapa komunitas sastra dan kreatif, antara lain PPIPM-Indonesia (Komunitas Puisi Inspirasi Masyarakat Indonesia), PPIC (Poetry-Pen International Community), Littalk-C (Literary Talk Community), dan EL4C (English Language Learning Literary and Literacy Community).

Referensi:

Abdy, Zulkifli (2023). “Buih-buih yang Membeku”. Sebuah Pesan Mengapung di Atas Laut – Kumpulan Puisi Pilihan di Media suaraanaknegerinews.com. Publikasi digital pertama: 23 Maret 2025. [Diakses April 2025].
Tautan:

“Pesan Yang Terapung di Laut”: Kumpulan Puisi Pilihan (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI)

Marlina, Leni (2012). “Gunung yang Menahan Rahasia Waktu”. Wahai Pencari Kebahagiaan – Kumpulan Puisi di Media suaraanaknegerinews.com. Publikasi digital pertama: 23 Maret 2025. [Diakses April 2025].
Tautan:

“Hujan dan Usia Senja”: Kumpulan Puisi Leni Marlina “(PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

Marlina, Leni (2018). “Jendela yang Memantulkan Kehilangan”. Namamu Masih Hidup – Kumpulan Puisi. Publikasi digital pertama: 23 Maret 2025. [Diakses April 2025].
Tautan:
https://bonuasastra.kim.id/berita/read/namamu-tetap-hidup-kumpulan-puisi-k25727-720104103102/0

Karya Wina di atas dipresentasikan secara virtual dalam acara Peluncuran dan Diskusi Buku Puisi (Poetry-BLaD) dan International Online Seminar on Poetry (IOSoP) yang diselenggarakan pada tanggal 31 Mei lalu di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, yang diselenggarakan oleh Media Suaraanaknegerinews.com bekerja sama dengan UNP.

Video presentasi Wina dalam acara tersebut dapat diakses oleh publik melalui tautan resmi berikut ini:

Please read the English version of Arlita’s essay by accessing the official link below:

Poetry and Life: Why Studying Poems Teaches Us to Truly Understand