Puisi Jadzab
yusuf achmad
Kerumunan puisi, serupa kambing gembala. Mereka minum
gahwa bersama di warung, di sudut jalan Ampel Kusumba.
Populer disebut Sarkam, alias pasar kambing. Tak berjual-beli kambing.
Puisi-puisi mengunyah, minum, dan bicara riuh. Tentang presiden sampai tukang warung. Pemimpin terus mengungkung. Mereka bicara tentang ajib dan nasib. Yang sedang di atas tanduk kambing sohib. Tentang fulus dan mampus, tak berdaya karena virus. Tentang derita dan cinta, yang lembek mengembek kambing suara embek. Tentang segala, tentang masih dan sudah.
Tiba-tiba salah satu puisi menjerit. Mengata-ngatai si lalu-lalang. Ia sejenis puisi jadzab, “Ente kambing gelap” katanya. Pada perempuan lewat bercadar, berwarna serba cokelat kambing. “Ia melihat aura kesedihan.”
Lalu, laki-laki memegang sebungkus rokok, berpakaian putih keemasan domba. Ia menyodorkan rokok bercap kambing. Ia cium tangan si puisi jadzab, “Ente akan bahagia,” jerit si jadzab. Sontak sastra lainnya berkata “Mabruk.” “Ia menangkap aura cerah.” Mereka tetap duduk melihat, menikmati semua, dan berharap, menunggu jeritan berikutnya.
Juni 2023