Puisi yang Mengadu
yusuf achmad
Puisiku merintih dalam jerit sunyi tak bertepi,
Batuknya menggema, setiap subuh jadi mimpi ngeri,
Menggetarkan dinding batu yang diam membisu,
Dan aku berkata, “Carilah kesembuhan, tinggalkan dukun dan jualan jalanan itu.”
Dengan lirih, puisiku terbata-bata,
“Tak ingin ke dokter,” katanya.
“Kenapa? Apakah kau lemah, gemetar karena lapar?” tanyaku,
“Dokter itu keras, dingin, dan tanpa simpati,
Seperti cakar tajam yang menyakiti,” jawabnya pedih.
Sesaat, ia bersuara jelas dalam kepedihan,
Mengisahkan dokter yang jemu oleh kunjungannya.
Permintaan rujukan disambut amarah,
“Batukmu ini abadi,” kata sang dokter tanpa empati,
Mengapa tiada kata penghibur yang menenangkan hati?
Puisiku bertanya pada penyakit yang makin mencengkeram,
Adakah dokter takut rugi?
Ataukah izin klinik tak diperpanjang lagi?
Sumbangsihnya kepada BPJS selalu ada,
Namun, tanpa bayar, nyawa pun terasa tiada.
Tenggelam dalam kebingungan yang gelap dan pekat,
Puisiku datang padaku, penuh tanda tanya,
“Adikku pernah terganggu jiwanya,
Namun rumah sakit menuntut tuntasnya tunggakan BPJS segera.
Kebingungan itu membuatnya makin tersesat,
Terperangkap dalam sistem yang kabur dalam hitungan.”
Kini puisiku hanya meratap dalam bayangan malam,
Nasibnya terapung, batuk tak kunjung padam.
Dengan tangan gemetar, wajahnya ia basuh dengan pilu,
Mencari kehangatan di balik tembok batu.
Namun, yang ditemui hanyalah batuk yang kian memburu.
Adiknya pun berkeliaran, mencari jawaban dalam ketidakpastian hukum.
BPJS, mengapa beban ini menjadi hukum yang menghukum?
Surabaya, 29-12-2024