Pada perayaan ulang tahun keenam Ikatan Dosen Katolik Indonesia (IKDKI) di Auditorium Universitas Tarumanagara, Jakarta, Sabtu 22 November 2025, suasana acara yang semula formal berubah menjadi hangat dan penuh haru ketika Prof. Dr. Robert Hammar, S.H., M.H., M.M., Rektor Universitas Caritas Indonesia (UNCRI) Manokwari, menutup sambutannya dengan cara yang tak terduga: menyanyikan sebuah lagu secara acapella, tanpa musik pengiring, namun dengan kekuatan moral yang mengalir dari timur Indonesia.

Dalam pemaparannya, Prof. Robert membawa hadirin pada sebuah perjalanan batin yang menggugah. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, suaranya hadir seperti angin sejuk dari Papua, membawa pesan mendalam bahwa pendidikan di tanah Papua, bahwa fenomena dulu dan kini menuntut sebuah kebijakan dan panggilan moral dan kemanusiaan. Ia menegaskan, para dosen di Papua yang bekerja dalam kesunyian dan keterbatasan, adalah para penjaga lentera peradaban. Lentera itu mungkin kecil, tetapi tetap menyala dan melalui peran IKDKI, juga komitmen kolektif para akademisi, cahaya itu akan tumbuh semakin terang, menerangi masa depan Papua yang lebih adil, lebih cerdas, dan lebih manusiawi.
Momen emosional itu mencapai puncaknya ketika Prof. Robert secara spontan menyanyikan bait lagu persaudaraan nasional: https://youtu.be/gfdpLm9T2j8
“Dari ujung Tanah Aceh sampai Tanah Papua kita semua satu saudara… Indonesia tempat kita bekerja… Biar pun banyak tantangan kita Bersatu sebagai satu bangsa… Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia Nan Jaya…”
Tanpa alat musik, tanpa iringan apa pun, suaranya mengalun jernih dan penuh ketulusan. Hadirin terdiam sejenak, bukan karena keheningan formal, tetapi karena tersentuh oleh kesederhanaan yang justru memancarkan kekuatan. Momen itu mengingatkan kembali pada hakikat acapella, sebuah tradisi musik yang mengandalkan suara manusia sebagai satu-satunya instrumen, tradisi yang pertama hadir di gereja-gereja Italia abad ke-15 sebelum berkembang menjadi genre global melalui grup-grup seperti Barbershop Quartet, The Persuasions, The Manhattan Transfer, The Nylons, hingga grup kontemporer Bahiyya Haneesa dari Malaysia.

Ketika Prof. Robert bernyanyi, sejarah panjang acapella seakan beresonansi dalam ruang auditorium itu. Suaranya membentuk jembatan antara berbagai zaman dan tempat dari lorong-lorong gereja Italia, dari panggung musik Amerika, dari ruang-ruang latihan grup vokal Asia Tenggara, hingga akhirnya tiba ke Jakarta untuk menyampaikan pesan persatuan. Acapella, yang intinya adalah harmoni yang lahir dari suara manusia, menemukan makna baru dalam konteks Indonesia: suara yang mengajak bangsa ini untuk terus menjaga persaudaraan dari barat hingga timur.
Para hadirin menyambut akhir sambutan itu dengan tepuk tangan panjang, beberapa bahkan terlihat menahan haru. Lagu sederhana itu telah menjadi penegas bahwa Indonesia tidak hanya dipersatukan oleh kebijakan atau struktur formal, tetapi oleh perasaan yang dinyanyikan bersama oleh kesadaran bahwa di setiap sudut negeri, dari Aceh sampai Papua, kita tetap satu saudara.
Dengan refren yang merdu dan pesan yang membahana, Prof. Robert bukan hanya menutup sambutan, tetapi menanamkan kembali keyakinan bahwa suara manusia tanpa alat musik, tanpa kemewahan, tetap mampu menyatukan bangsa.