April 17, 2026

 Yusufachmad Bilintention

Peluit berbunyi saat Pak Nizam, seorang polisi berwibawa, memberhentikan motor yang dikendarai Anto dan Anas. Dengan tenang, ia meminta Anto menunjukkan SIM dan STNK. Setelah memeriksa dokumen, Pak Nizam menjelaskan pelanggaran yang telah mereka lakukan.

“Pak, saya tidak melihat tanda larangan karena terhalang pohon,” Anto berusaha menjelaskan, suaranya menahan frustrasi.

“Tidak ada alasan untuk melawan hukum. Anda salah jalan,” tegas Pak Nizam.

“Saya juga mahasiswa, Pak. Saya tidak bersalah. Apa yang Bapak inginkan dari kami?” Anto mulai emosi. Anas segera turun tangan. “Maaf, Pak. Teman saya sedang banyak pikiran,” katanya, mencoba meredam situasi.

Anto tak bisa menahan diri. “Saya tidak takut dengan polisi!”

“Anto, biarkan aku yang bicara,” Anas menenangkan.

Pak Nizam, yang sebenarnya berhati lembut, akhirnya menunjukkan sisi manusiawinya. “Saya mengerti. Tapi jangan ulangi kesalahan ini,” katanya sambil mengembalikan dokumen. Sebelum mereka pergi, ia bertanya, “Kalian tahu di mana saya bisa mendapatkan buku ini?” Ia menunjukkan secarik kertas berisi judul buku yang dicari anaknya.

“Oh, buku itu? Saya tahu tempatnya, Pak,” jawab Anas, menyebut toko buku di Jl Semarang. Pak Nizam mengangguk penuh terima kasih.

“Itu tadi kamu? Gila, aku nggak percaya polisi bisa lunak begitu,” kata Anto takjub.

“Ah, Bro. Kadang, yang dibutuhkan cuma ketenangan,” jawab Anas sambil tertawa ringan.

Anto mengenang masa lalunya. “Dulu, aku dan teman-temanku lebih suka melawan. Kami muak dengan perilaku polisi.”

“Tapi nggak semua polisi seperti itu. Pak Nizam tadi buktinya,” Anas menimpali.

Anas lalu bertanya, “Apa yang kamu lakukan dengan teman-teman lamamu?”

Anto tersenyum. “Kami anak muda. Begadang, main catur, merokok, berbagi cerita. Tapi kami nggak pernah ganggu orang. Bahkan sering bantu acara kampung.”

Ia memberi nasihat, “Jangan mencintai seseorang 100%. Cinta yang terlalu dalam bisa berubah jadi benci.”

Anas terkejut. “Apa salahnya mencintai Wati sepenuh hati?”

“Cinta dan benci itu tipis, Bro. Jangan sampai kamu hancur karena harapanmu sendiri.”

Beberapa bulan kemudian, Anas dan Anto mengalami kecelakaan kecil. Anas dirawat di rumah sakit. Di kamar, ia berkata pelan, “Andai aku dengarkan kamu, mungkin nggak begini jadinya.”

Anto menenangkan, “Yang penting kamu sembuh. Kita kuliah bareng lagi. Semua orang pernah salah.”

Anas mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Aku cuma ingin semuanya kembali seperti dulu.”

Anto tersenyum, menepuk bahunya. “Persahabatan kita lebih kuat dari apapun. Dan tentang Wati… mungkin dia bukan yang terbaik buatmu.”

Anas menarik napas dalam. “Terima kasih, Bro. Aku beruntung punya sahabat kayak kamu.”

Setelah sembuh, Anas mencoba bangkit. Ia aktif di kampus, ikut organisasi, dan berusaha melupakan Wati. Tapi bayang-bayang cinta yang tak terbalas terus menghantuinya.

Suatu malam, di acara kampus, ia melihat Wati berdansa dengan pria lain. Hatinya hancur, tapi ia menahan diri. Ia pergi ke sudut sepi, duduk di bawah pohon besar.

Anto menemukannya. “Bro, kenapa kamu di sini?”

“Aku cuma butuh waktu sendiri,” jawab Anas pelan.

“Kamu masih mencintainya, ya?” tanya Anto.

Anas mengangguk. “Sulit untuk melupakan.”

Anto menarik napas panjang. “Cinta itu rumit. Tapi kamu harus belajar melepaskan.”

Anas menatap langit. “Mungkin kamu benar. Tapi aku merasa ada yang belum selesai.”

“Kalau begitu, temui dia. Katakan isi hatimu. Setidaknya kamu nggak akan menyesal.”

Keesokan harinya, Anas menunggu Wati di tempat biasa mereka bertemu.

“Wati, aku perlu bicara,” katanya saat Wati tiba.

“Apa yang ingin kamu katakan, Anas?”

“Aku masih mencintaimu. Aku tahu mungkin kamu sudah punya yang lain, tapi aku ingin kamu tahu perasaanku.”

Wati terdiam, lalu menatap Anas dengan mata berkaca. “Aku juga pernah merasakan hal yang sama. Tapi keadaan sudah berubah. Aku mencoba move on.”

Anas mengangguk, meski hatinya perih. “Aku mengerti. Terima kasih sudah mendengarku.”

“Kamu orang baik, Anas. Suatu hari nanti, kamu akan temukan cinta yang tepat.”

Anas tersenyum pahit, tapi lega. “Semoga kamu bahagia, Wati.”

Setelah pertemuan itu, Anas mulai menemukan dirinya kembali. Ia menekuni musik dan seni, aktif di kampus, dan perlahan melepaskan bayang-bayang masa lalu.

Suatu malam, ia duduk di bawah pohon besar, memainkan gitar. Melodi mengalir, membawa kedamaian yang belum pernah ia rasakan.

Anto datang dan duduk di sampingnya. “Kamu kelihatan lebih bahagia sekarang, Bro.”

Anas mengangguk. “Aku belajar melepaskan dan menerima kenyataan. Hidup ini masih panjang dan penuh kejutan.”

Anto menepuk bahunya. “Itulah semangat yang kuinginkan dari sahabatku. Ayo, kita jalani hidup ini dengan penuh semangat.”

Anas tersenyum. Ia tahu, meski cinta tak selalu berakhir seperti yang diharapkan, ia masih bisa menemukan kebahagiaan dalam bentuk lain. Dan dengan sahabat seperti Anto di sisinya, ia siap menghadapi dunia.