RINDU YANG TAK PERNAH SAMPAI
Oleh: Rizal Tanjung
–
di batas cakrawala yang sendu,
di antara desir angin yang membisu,
kutemukan rindu yang dulu bernyawa,
kini terbaring kaku dalam sepi yang hampa.
aku memandang langit yang berpendar,
mencari jejak bayangmu yang samar.
namun, awan hanya berbisik lirih,
membawa namamu dalam desir perih.
di mataku, ada hujan yang tertahan,
tapi ia enggan jatuh ke pangkuan.
sebab di dadaku, ada luka yang tertulis,
tentang rindu yang kau tinggalkan tragis.
aku bertanya pada angin malam,
adakah kau masih mendengar namaku disebut?
ataukah hanya gema yang menggema,
mengulang sunyi tanpa ada yang menjawab?
seperti dedaunan yang gugur di musim rindu,
aku meranggas dalam kenangan sendu.
tiada lagi kehangatan yang menghidupkan,
hanya rindu yang membisu dalam kefanaan.
aku pernah mencintaimu dengan nyawa,
namun kau pergi tanpa sisa kata.
kini yang tertinggal hanya bayang-bayang,
rindu yang telah mati, tak bernyawa lagi.
tapi jika malam kembali berbisik,
dan angin membawa namamu pelan,
aku tetap akan mendongak ke langit,
meski tahu kau takkan kembali pulang.
rindu ini seperti surat tanpa alamat,
terus kukirim namun tak pernah kau balas.
ia menari di udara, mengembara sendiri,
mencari hatimu yang telah pergi.
aku menunggu di peron kenangan,
menanti kau pulang dalam bayangan.
tapi waktu adalah gerbong yang berlalu,
meninggalkan aku dalam rindu yang bisu.
jika suatu saat kau temukan sepi,
bukalah jendela dan dengarlah hati.
di sana ada suaraku yang memanggil,
meski kau tak lagi ingin kembali menggenggam.
malam demi malam aku bergulat,
dengan ingatan yang terus mengikat.
seperti ombak yang mencium pantai,
datang dan pergi tapi tak pernah sampai.
aku titipkan rinduku pada rembulan,
agar cahayanya menyentuh hatimu perlahan.tapi langit terlalu luas dan dingin,
pesanku hilang, tenggelam tak tergenggam.
bintang-bintang berkedip sendu,
seakan tahu kisah pilu yang ku rindu.
namun mereka tak bisa membawamu,
hanya diam dalam cahaya semu.
bahkan ketika pagi kembali berseri,
bayangmu tetap di sudut memori.
aku menulis namamu di setiap senja,
namun angin menghapusnya tanpa sisa.
kini rindu ini menjadi abu,
tertimbun waktu yang berlalu.
tapi meski kau tak pernah tahu,
aku tetap menyebut namamu, selalu.
2024.