Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: ”Untukmu Para Penyintas Banjir Bandang”
Illustrasi Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina "Untukmu Para Penyintas Banjir Bandang". Sumber gambar: © Starcom Indonesia, Book Cover Collection No. 41_12122025 & IG@lenimarlina_starmoonsun.
/1/
Untukmu Para Penyintas Banjir Bandang
Puisi: Leni Marlina
–
Wahai engkau Saudara, Saudari—
tubuh yang dulu ditopang tanah yang pasti—
kini berdiri di tepi arus yang tak lagi mengenal nama siapa pun.
Air bah itu datang tanpa suara:
seperti sebuah ingatan gelap yang pecah dari punggung bukit
dan menuruni lembah seperti sejarah yang kehilangan kendali.
Lihatlah gelondongan kayu melintas—
bagaikan rahang raksasa dari hutan yang diusir dari sunyinya,
menggulung apa saja yang mencoba bertanya.
Lumpur menempel di betismu—
laksana jam pasir yang tumpah,
membalikkan waktu, menenggelamkan masa kecilmu
yang pernah bermain di halaman rumah
yang kini tinggal garis samar di bawah kerak cokelat.
Rumah-rumah terseret pergi—
seperti selubung kehidupan
yang dituai terlalu cepat oleh tangan tak terlihat.
Engkau mencari suara keluarga
yang mungkin tersangkut di antara ranting dan pohon yang tumbang,
atau mungkin telah menjadi bayangan baru
di balik bebatuan yang tak lagi tenang.
Dengarlah, di tengah arus yang mencabik peta harapan,
ada sebutir nafas yang tetap menolak hanyut: nafasmu sendiri.
Engkau menggenggamnya
seperti sepotong bara yang ingin mati
namun masih merah di kedalamannya.
Engkau tahu: selama bara itu belum padam,
engkau bukan puing,
engkau bukan sisa-sisa.
Engkau adalah saksi yang menjemput hari esok
dengan telapak yang masih berlumpur,
karena hanya mereka yang pernah ditarik air
yang tahu bagaimana caranya bangkit dari dasar.
Dan ketika arus itu menghilang,
meninggalkan gurat panjang di wajah bumi,
engkau berdiri—
bukan sebagai korban,
melainkan sebagai jejak paling jujur:
bahwa engkau dapat diremukkan arus—
namun tetap berdiri sebagai suara yang tak bisa ditenggelamkan dunia,
bahwa tubuhmu mungkin tercabik lumpur—
tetapi jiwamu tetap tegak seperti akar yang tumbuh dan menolak meninggalkan tanahnya,
bahwa engkau pernah digilas gelombang—
namun bangkit kembali sebagai garis baru di peta keberanian manusia,
bahwa engkau bukan puing yang tersisa,
melainkan nadi yang terus berdenyut di tanah yang ingin menyerah.
bahwa engkau pernah jatuh sedalam arus,
namun tetap kembali dengan cahaya yang bahkan lumpur tak mampu memadamkannya.
Bangkitlah wahau Saudara, Saudariku, Kita bangkit bersama.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/2/
Sungai yang Mengingat Nama Kita
Puisi: Leni Marlina
–
Sungai itu masih hangat,
seperti tubuh yang baru saja melepaskan mimpi buruk.
Ia menyentuh telapak kakimu
dengan jari-jari air yang gemetar,
seakan meminta maaf
atas segala yang dihanyutkannya semalam.
Bau tanah basah menyeruak—
aroma pahit getir dari bumi
yang diguncang hingga pecah rasa.
Seperti kopi hitam yang diseduh tanpa gula:
menusuk, jujur, dan tidak menawarkan pelarian.
Gelondongan kayu tergeletak
seperti binatang raksasa yang kehilangan rumahnya.
Jika kau dekatkan telinga,
kau bisa mendengar geraman kecil
—suara hutan yang mengadu,
menyebut namamu dalam bahasa akar.
Lumpur itu hangat di betismu,
seperti tangan nenek yang menangis tanpa suara.
Ia memelukmu kencang
seakan tidak ingin ada lagi
yang terseret pergi tanpa pamit.
Engkau berdiri di sana—
bukan sekadar penyintas,
tetapi halaman baru
yang sedang ditulisi bumi
dengan tinta yang tak akan kering.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/3/
Bau Arus di Rambutmu
Puisi: Leni Marlina
–
Bau arus itu masih tertinggal di rambutmu,
bau logam yang getir
dan asin yang getir
yang saling bertabrakan seperti dua musim
yang dipaksa hidup dalam satu tubuh.
Jika angin lewat, ia mencium rambutmu pelan-pelan
seolah ingin membaca cerita
yang disembunyikan lumpur di sela-selanya.
Lihatlah tanganmu:
masih gemetar seperti dua burung kecil
yang kehilangan pohon untuk berteduh.
Dan ujung jarimu,
ah, mereka seperti seruling patah—
masih mencoba bernyanyi
meski suara dunia baru saja pecah di pangkuanmu.
Engkau melangkah, dan tanah di bawahmu berdenyut,
seolah memompa kembali keberanian
ke dalam tulang-tulangmu.
Rasanya seperti roti hangat
yang disentuh saat hujan deras—
kehangatan kecil yang mengalahkan dingin besar.
Di kejauhan, matahari pagi naik perlahan.
Ia tidak bersinar, ia menyentuh.
Cahayanya seperti lidah lembut
yang menjilat lumpur dari pundakmu,
mengembalikan warna
yang semalam dicuri arus.
Engkau tersenyum tipis,
dan dunia perlahan
belajar mengenalmu kembali.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/3/
Ketika Tanah Mengajar Kita Bernafas
Puisi: Leni Marlina
–
Sore itu, tanah berbau seperti kenangan:
asam, pahit, dan hangat sekaligus.
Langkahmu menimbulkan suara kecil—
seperti bumi sedang mengunyah duka
dengan giginya sendiri.
Pohon-pohon rebah dengan tubuh kusut basah,
napas mereka terdengar pelan
jika kau letakkan pipimu di batangnya:
sebuah dengkuran lembut
dari makhluk besar yang tidak ingin mati.
Langit memerah perlahan,
seperti wajah seseorang yang baru saja selesai menangis.
Cahaya jingganya menyapu tubuhmu dengan kelembutan yang pahit,
seolah berkata,
“Aku datang bukan untuk menghibur,
tetapi untuk menemani.”
Engkau duduk,
membiarkan tanah menempel di telapak tanganmu.
Rasanya seperti menggenggam detak jantung dunia—
berdenyut perlahan, pelan, tetapi terus berdenyut.
Lalu kau bertanya dalam diam:
“Seberapa dalam manusia bisa jatuh
sebelum ia berhenti menjadi dirinya?”
Bumi menjawab dengan getaran kecil di bawah kakimu:
“Manusia tidak jatuh.
Manusia kembali mencari pusatnya.”
Dan engkau pun berdiri,
membawa jawaban itu ke dalam tubuhmu sendiri.
Padang, Sumatera Barat, 2025
——

Tentang Penulis: Leni Marlina (UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, PIPF)
Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan kini menetap di Padang. Ia adalah penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (sejak 2006).
Sejak mulai menulis puisi pada tahun 2000, ia telah melahirkan ribuan karya yang merekam pergulatan batin, refleksi kontemplatif, isu-isu lingkungan alam dan sosial, gagasan kemanusiaan, serta kerinduan yang tak pernah padam akan perdamaian. Ketika menempuh studi Magister of Writing and Literature di Melbourne (2011–2013), ia terus menulis tanpa henti—menjadikan puisi sebagai ruang sunyi yang menyalakan kesadaran, menjaga kejernihan hati, dan menuntunnya menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan dunia. Sejak tahun 2024, ia mulai membuka “samudra kata”-nya kepada publik melalui berbagai platform digital.
Karya-karya terbarunya meliputi “The Beloved Teachers” (2025), “L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity” (2025), serta trilogi “English Stories for Literacy” (2024-2025)—perpaduan antara pengabdian, bahasa, dan nilai-nilai kemanusiaan. Selain menulis puisi, ia aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, ulasan karya sastra, serta menerjemahkan beragam teks sastra dan teks jurnalistik. Karyanya tersebar dalam berbagai antologi cerpen, antologi puisi, dan publikasi digital. Di luar aktivitas akademik di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Padang, ia terlibat dalam komunitas literasi nasional dan internasional, serta mendirikan sejumlah gerakan literasi yang relevan dengan dinamika era digital.
Sebagai pendiri sekaligus ketua berbagai gerakan sosial, literasi, dan sastra digital—seperti Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM-Indonesia): Komunitas Pembaca dan Penulis Puisi Indonesia, Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), dan EL4C (English Language Learning, Literature, and Literacy)—ia terus menjembatani berbagai generasi melalui sastra, menumbuhkan budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan merenung secara berkelanjutan.
Atas dedikasinya pada dunia literasi dan kesusastraan, ia menerima penghargaan Best Writer 2025 dari SatuPena Sumatera Barat pada International Minangkabau Literary Festival ke-3 (IMLF-3), serta ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre.
Tahun 2025, Leni ditunjuk dan dipercayakqn sebagai Indonesian Poetry Ambassador untuk ACC Shanghai Huifeng Internatioanl Literary Association (ACC SHILA), sekaligus the ASEAN Directors for ACC SHILA Poets. Di tahun yang sama, Leni ditunjuk dan dipercayakan oleh Capital Writers International Foundation sebagai National Director (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) Januari-Februari 2026 di India. (Informasi acara selengkapnya: www.panoramafestival.org).