SEGALANYA UNTUKMU
Oleh: Rizal Tanjung
–
Di dalam gelap yang menelan dunia,
aku temukan cahaya yang bukan dari bintang,
melainkan dari garis tipis siluetmu—
yang bersinar di mataku seperti puisi tuhan yang jatuh diam-diam ke bumi.
kau dan aku,
dua bayang yang saling mencari dalam sunyi,
bertemu pada detik yang tak dijanjikan waktu,
namun abadi dalam takdir yang ditulis angin.
tatapanmu seperti senandung senja,
membasuh luka yang tidak pernah punya suara.
dan ketika kau mendekapku dalam pandangan itu,
aku merasa seakan seluruh semesta berhenti berputar,
memberi ruang bagi cinta kita
untuk menari dalam keabadian yang tak terucap.
tanganku adalah bumi yang gersang,
dan kau adalah hujan pertama setelah kemarau bertahun-tahun.
setiap sentuhanmu menumbuhkan bunga di dada,
bunga yang hanya bisa tumbuh dari peluh rindu
dan benih harapan yang kupelihara di bawah langitmu.
aku telah menjadi petualang sunyi,
menyusuri malam demi malam
tanpa arah dan peta.
namun ketika kau hadir—
dengan rambutmu yang berkisah tentang lembutnya badai,
dan napasmu yang lebih syahdu dari bait-bait penyair mati—
aku tahu, rumah bukan tempat.
rumah adalah kamu.
kau adalah kata yang belum sempat kutuliskan
karena terlalu indah untuk dikecilkan menjadi huruf.
dan aku, adalah pena yang terus bergetar,
menunggu keberanian untuk menyusunmu menjadi kalimat
yang bisa dikenang abadi dalam tubuh langit.
jika seluruh langit bisa kugenggam,
akan kutuliskan namamu di tiap bintang,
agar semesta tahu siapa yang kusebut
dalam setiap doa,
dalam setiap tarikan napas,
dalam setiap keheningan yang terlalu dalam untuk dimengerti manusia.
dan jika waktu ingin mengujiku,
biarkan ia menenggelamkanku dalam ribuan musim—
asal kau tetap di pelukanku,
seperti saat ini,
di mana dunia memudar
dan hanya kita yang bercahaya.
karena aku ingin menjadi apa pun untukmu:
angin di rambutmu,
embun di bibirmu,
bayang dalam pelukmu,
dan langit di matamu yang tak pernah kutemukan ujungnya.
segalanya untukmu—
bukan hanya kata.
tapi takdir yang kusebut dengan seluruh denyutku.
karena mencintaimu bukan lagi pilihan,
melainkan cara semesta menulis ulang arti dari keberadaan.
Padang, 4 September 2024.