Seni Pertunjukan di Indonesia Masih Mencari Identitas Diri
Oleh: Rizal Tanjung
–
Di tanah yang dijahit oleh ribuan pulau dan bahasa, di mana laut bersuara seperti nyanyian ibu, seni pertunjukan Indonesia masih melangkah dalam kabut. Ia bukan anak yang tak berbakat, melainkan anak yang tak tahu dari mana harus mulai berjalan. Di antara bunyi talempong dan denting piano, antara bunyi bedug dan bunyi digital, seni kita seperti bayang-bayang yang memeluk dirinya sendiri: samar, gamang, dan terus-menerus bertanya, “Aku ini siapa?”
Sementara di Barat, seni pertunjukan tumbuh dalam tradisi yang terstruktur. Ada rute, ada kerangka. Ada Shakespeare yang tak habis dikaji, ada sistem konservatori, ada kritik yang menjadi cermin dan bukan hanya bayang-bayang. Seni pertunjukan di Barat berjalan dalam garis yang meskipun berliku, tetap menuju satu tujuan: pematangan estetika dan pengakuan institusional.
Namun di sini—di Nusantara yang lembab dan gaduh—seni kita seperti tersesat dalam labirin. Ia terus berputar, melahirkan bentuk-bentuk baru yang belum selesai dimaknai, sembari kehilangan fondasi yang dulu menjadi pijakan. Kita begitu cepat mengagumi apa yang datang dari luar, hingga lupa menggali sumur di pekarangan sendiri.
Pada 14 Mei 2025, di Auditorium FBS Universitas Negeri Padang, gema kegelisahan itu bergema dalam seminar seni pertunjukan—sebuah ruang yang tak hanya menyuarakan kritik, tapi juga menjadi tempat luka-luka lama dibuka agar bisa sembuh. Dalam rangkaian Kaba Festival X, nama-nama seperti Prof. Indrayuda, Dr. Roza Muliati, dan Armeyn Sufhasril menjahit perbincangan yang pedih dan penuh cahaya. Di hadapan mahasiswa, seniman, dan para pemikir, mereka bicara tentang seni sebagai cermin zaman, bukan sekadar hiburan yang ditonton dan dilupakan.
Indrayuda menyebut: “Tari Galombang yang dahulu milik masyarakat kini menjadi properti kaum menengah kota.” Sebuah pernyataan yang, bila dibaca dengan rasa, lebih menusuk dari pisau. Tradisi bukan lagi napas, melainkan kosmetika. Ia dipentaskan dalam pesta pernikahan hotel berbintang, bukan lagi di halaman rumah tempat anak-anak tumbuh bersama bunyi.
Seni kita, kata beliau, telah tercerabut dari ritus menjadi tontonan. Dari roh menjadi rupa. Sementara seni kontemporer—yang semestinya menjadi kanal protes dan tafsir zaman—malah terjebak di ruang akademik, jauh dari pasar, dari sawah, dari ibu-ibu yang menumbuk padi sambil bersenandung.
Barat membentuk seni sebagai institusi. Kita melemparkannya ke panggung dan berharap keajaiban terjadi. Tapi panggung tanpa akar hanyalah kayu. Dan pertunjukan tanpa makna hanyalah ilusi.
Dr. Roza Muliati membawa kita menyeberang ke sisi tubuh. Tubuh perempuan Minangkabau. Tubuh yang lama dibungkam oleh norma, kini mulai menari, melompat, menendang. Tapi ia bertanya, “Apakah kebebasan itu benar-benar lahir, atau hanya bentuk baru dari dominasi?”
Perempuan Minang yang menari seperti laki-laki—apakah itu merdeka, atau hanya menukar pakaian patriarki dengan kostum avant-garde? Inilah kerumitan yang tak mudah diselesaikan dengan tepuk tangan penonton. Dalam tarian, tubuh bukan sekadar gerak, tapi sejarah. Luka. Perlawanan. Dan dalam tubuh yang bergerak itulah, identitas seni kita sedang diuji: apakah ia tumbuh dari tanah, atau sekadar meniru langkah kaki orang lain?
Prof. Indrayuda berkata lirih namun dalam, “Di Minangkabau, seni lebih sebagai permainan daripada ritual.” Kalimat yang tampak ringan, tapi mengandung beban berabad-abad. Di Jawa, gamelan adalah doa. Wayang adalah filsafat. Tapi di ranah ini, seni lebih lentur, mudah berubah bentuk. Adaptif, tapi juga mudah hilang. Kita menari untuk menyenangkan, bukan untuk menyembuhkan.
Dan dalam adaptasi yang terlalu cepat itulah kita kehilangan arah. Seni kita, alih-alih menjadi jangkar, malah seperti layang-layang putus. Meliuk-liuk di langit globalisasi, tapi tak tahu bagaimana caranya pulang.
Lalu muncul suara Suhendri, seorang datuk penghulu sekaligus pegawai Taman Budaya. Ia bertanya: “Bagaimana seniman memainkan perannya dalam membangun ekosistem kesenian?”
Pertanyaan ini bukan sekadar kritik, melainkan jeritan sunyi yang datang dari dalam. Sebab terlalu sering kita menyuruh seniman menjaga budaya, tapi lupa memberinya roti untuk makan. Ia yang menari di panggung kita puja, tapi esok paginya ia tetap harus mengais proyek untuk menyambung hidup.
Di Barat, seniman memiliki perlindungan. Di sini, seniman adalah pejuang yang menari di atas luka. Dan dalam sistem yang tak menopang, seni tak bisa hidup dengan sehat. Ia tumbuh, ya, tapi seperti rumput liar yang tak sempat dirawat.
Melati Suryodarmo menutup sesi dengan suara hati. Ia, yang besar dalam sistem seni Eropa, justru rindu pulang. Tapi ia tak ingin pulang ke rumah yang telah berubah jadi panggung komersial. Ia ingin pulang ke rumah di mana seni adalah peristiwa kehidupan, bukan hanya acara.
“Teori-teori seni Barat,” katanya, “tak bisa selalu diterapkan di tanah ini. Kita bisa menjelajah, tapi jiwa kita tetap akan rindu pulang.”
Dan barangkali, rindu pulang itulah yang seharusnya menjadi kompas seni pertunjukan Indonesia. Bukan untuk kembali ke masa lalu, tapi untuk kembali ke makna. Agar setiap gerak, nyanyian, dan pertunjukan bukan hanya untuk difoto, tapi untuk dirasakan.
Maka kita harus jujur mengakui: seni pertunjukan kita hari ini sedang berjalan dalam labirin. Tak jelas pintu masuknya, tak pasti pula di mana keluar. Tapi selama masih ada yang bertanya, selama masih ada yang menari meski lapar, masih ada harapan. Identitas bukanlah sesuatu yang ditemukan, melainkan sesuatu yang terus diciptakan.
Seni kita belum selesai. Tapi ia hidup. Ia luka. Ia resah. Ia mencari. Dan dalam pencarian itu, barangkali, kita justru menemukan cermin yang memperlihatkan siapa diri kita sebenarnya.
Sumatera Barat, 2025.