April 19, 2026
b19ad843-6b97-49b9-9b15-bbe96204381a_11zon

Oleh: Ilhamdi Sulaiman

Namanya Pak Marwan. Usianya enam puluh delapan, atau mungkin lebih.Ia sendiri sudah lupa sejak kapan berhenti menghitung. KTP nya hilang saat banjir besar sepuluh tahun lalu, bersama foto istrinya yang tersenyum di depan rumah kontrakan pertama mereka. Sejak itu, negara seakan ikut hanyut, tak pernah lagi mampir dalam hidupnya kecuali lewat suara sirine dan pengumuman penggusuran.
Pak Marwan datang ke Jakarta di usia muda, membawa ijazah SMP dan mimpi yang terlalu besar untuk kota yang terlalu kejam. Ia pernah menjadi kuli bangunan, tukang sapu pasar, penjaga malam ruko. Apa saja. Asal bisa pulang membawa nasi. Istrinya, Bu Aminah, membantu dengan mencuci pakaian orang-orang perumahan. Mereka tak pernah kaya,tak pula dikaruniai anak.Suatu hari Bu Aminah sakit dan meninggal tanpa pernah sempat dirawat di rumah sakit. Uang tak cukup, kartu apa pun tak ada.
Sejak itu Pak Marwan hidup sendiri.

Rumah di bantaran kali itu ia bangun perlahan, sepotong demi sepotong. Seng yang bocor ditambalnya dengan plastik spanduk bekas kampanye. Triplek lapuk diganti dengan papan reklame yang huruf-hurufnya masih menyisakan janji manis tentang masa depan. Rumah itu sempit, panas, dan bau sungai selalu masuk lewat celah dinding,tapi di sanalah ia bisa rebah tanpa diusir.
Sampai banjir datang.

Air naik cepat malam itu. Hujan tak berhenti, dan kali yang selama ini ia anggap tetangga, berubah menjadi musuh. Saat subuh, rumahnya sudah miring. Seng-seng terlepas. Triplek mengambang seperti bangkai kayu.
Pagi berikutnya, bantaran Kali Krukut kembali ramai. Warga berdatangan, sebagian membersihkan lumpur, sebagian lain membongkar sisa rumah yang tak lagi bisa diselamatkan. Seng-seng disusun, triplek dikeringkan. Tapi satu hal tak ditemukan.
Pak Marwan tidak ada.

Tas kainnya tertinggal di bawah pohon waru. Di dalamnya hanya ada baju lembap dan Al-Qur’an lusuh yang masih berbau sungai. Tak ada pesan. Tak ada jejak. Tak ada yang tahu ke mana lelaki tua itu pergi. Ada yang bilang ia ikut truk relawan. Ada yang yakin ia terseret arus saat malam. Sebagian lain menduga ia memilih pergi sebelum digusur, sebelum dicatat, sebelum diberi nomor antrian bantuan.

Hari-hari berlalu. Rumah-rumah darurat kembali berdiri. Kali Krukut mengalir seperti biasa, seolah tak pernah menelan apa pun. Nama Pak Marwan perlahan menghilang dari percakapan, tak pernah tercatat di laporan kehilangan, tak masuk berita, tak menjadi angka statistik.
Ia lenyap begitu saja seperti hidupnya selama ini
“ada, tapi tak pernah dianggap ada.”

Dan di bantaran kali itu, orang-orang tetap tinggal, membangun rumah dari sisa-sisa, menunggu banjir berikutnya, sambil tanpa sadar menempati tempat yang pernah disebut rumah oleh seorang lelaki tua yang kini hanya tinggal ingatan.
30 Januari 2026.