Simbol Keberadaan
Yusuf Achmad
Di bawah langit yang terbentang luas, O mengambang seperti bulan purnama yang memantulkan cahaya bebas.
Aku menggali lebih dalam, tanpa batas. Kuukir makna yang lebih dalam dan luas, menghadirkan keindahan yang lebih abadi, bagai putih kertas.
Kutatap engkau, O yang tak terbayang. Kuajak berdialog denganmu, mengurai misteri yang tersembunyi atau hilang.
Di balik bentukmu, kukatakan O, bukan hanya bulatan kosong yang melayang. Melihatmu bukan semata O, kau adalah pintu menuju alam semesta yang tak terhingga, di angan-bayang.
Kuingin mengisi O-mu dengan kata-kata, dengan rasa, dengan segala yang ada dalam diriku. Namun, kutak mampu.
O, kau adalah teka-teki yang tak pernah selesai, pertanyaan tanpa jawaban yang menggoda imajinasiku.
Andai O-mu tak bulat, mungkinkah? Mungkinkah kau menjelma menjadi pengetahuan, udara, air, kehidupan, bahkan kematian?
O, kau adalah segalanya dan tak ada apa pun. Kau adalah ketiadaan juga keberadaan. Ketika mereka mencari sesuatu, lalu katanya O, hidupku dan hidupmu bergantung padamu.
O, kau adalah banjir yang membawa malapetaka, tetapi juga keberkahan. Kau adalah pusat dari segala yang ada.
O, engkau adalah puisi yang tak pernah selesai, melambung tinggi di angkasa. Kau adalah nada terakhir dalam simfoni keabadian.
O, kau adalah greget yang menggetarkan jiwa.
Surabaya, 4-3-2024