Karya : Siska Armelia S.Pd
–
Disudut tanah yang dulu subur oleh tumpahan darah pahlawan,
terdengar lirih suara sayu…
“apakah Semua suara akan dihitung? ”
keriput wajah Pertiwi terus mendengar nurani
ada yang aneh dari jiwa ini..
ada gema yang tak pernah tiba di ruang keputusan.
Ada bisik-bisik dari pelosok negeri,
yang terhenti di meja rapat berpendingin udara.
Di layar kaca,
janji berlari-lari seperti iklan,
sementara di jalanan,
anak kecil memungut sisa spanduk dan bertanya:
> Apakah ini wajah bangsaku?”
Langit merah putih tampak pudar sore itu,
bukan karena debu atau kabut,
melainkan karena kita lupa,
bahwa warna merah berasal dari keberanian,
dan putih dari kejujuran.
Namun di sela reruntuhan pidato,
masih terdengar suara kecil … lirih, tapi jujur.
Suara seorang ibu di pasar,
seorang guru di desa,
seorang bidan yang merenangi sungai
seorang mahasiswa yang menolak diam.
Mereka menulis ulang makna kebangsaan
di atas kertas yang kusam tapi tulus.
Sebab demokrasi bukan sekadar pilihan,
melainkan ingatan tentang siapa kita
dan harapan tentang siapa kita ingin menjadi
Dan mungkin,
suara itu memang belum selesai dihitung
karena ia tak bisa dijumlahkan,
ia hanya bisa didengar
Padang , Oktober 2025