Surga Jamaah atau Jawa
Oleh Yusuf Achmad
–
Entah, ini titah sudah tumpah. Pada hidupku berubah-ubah Ini
bukan masalah sekolah, kerja. Atau hal-hal biasa.
Ini luar biasa. Karena aku dianggap bukan orang biasa. Ketika di
keluarga dari ayah. Kata mereka aku tak serupa.
Mereka bilang, “Kau Jamaah.” Kemudian kelakar bersambung.
Katanya wajah ayah bukan Jawa. Setelah ibuku dinikahinya.
Di kampung halamanku aku serba salah. Ketika pemilik warung
peracangan Jawa mendesak. Katanya, “Kamu orang Jawa,
harus bisa berbahasa krama Jawa. Jika tidak, kamu ndak boleh
beli barang kebutuhan sehari-hari.”
Entah kok bisa begini. Aku tak pasti meski tetap kujalani. Saat
ekonomi menjepit aku menjadi penjaga toko tanpa kredit.
Ini bukan toko milik orang bermata sipit. Toko ini ramai berada
di kampung sempit. Kanan-kiri diapit pernak-pernik dan barang
dagangan unik. Menarik dan banyak orang melirik.
Barang dari Timur Tengah. Pemiliknya berhidung mancung
megah. Mirip milikku walau masih sepertiga. Lalu katanya,
“Ente Jamaah bukan Jawa. Hanya Jamaah yang masuk surga,”
katanya sambil minum gahwa. Kujawab, “Kok bisa.”
“Itu sudah dari surga” lanjutnya, “Jamaah dijamin surga.”
Batinku meronta meski aku belum dewasa. Untuk hal ini aku tak
boleh berubah-ubah. Jawa Jamaah sama tidak berbeda.
Walau Nabi juga Jamaah.
Di mata-Nya manusia sama tak berbeda. Karena kedudukan ras bahasa bangsa atau sejenisnya. “Kecuali mereka bertakwa berakhlak mulia.” Untuk hal ini,
kuyakin sudah, tanpa bertanya-tanya.
Aku Jamaah-Jawa sama. Haruskah surga berbeda-beda