April 25, 2026

Oleh Yusuf Achmad

Keluh, bisikan, ujian tak henti.
Mereka meragu, menilai, menguji.
Pujian dan rayuan berlalu bersama angin,
Namun hatiku tetap teguh, berdetak pasti.

Jiwaku berbicara, bertarung melawan batas,
Mereka memandangku kecil, terbatas oleh ruang.
Namun mimpi melampaui cakrawala,
Seperti embun yang tak gentar di pangkuan pagi.

Mereka hanya berdiam dalam ragu,
Langkahnya rapuh seperti kabut, tak mampu maju.
Hasrat yang tersembunyi meredup tanpa cahaya,
Berbisik layaknya angin yang mencari jalan pulang.

Namun, langkah tak pernah mengancam,
Tak perlu mengusik malam dengan teriakan.
Cinta terlukis dalam tindakan yang nyata,
Bukan dalam suara yang memudar di kejauhan.

Tatapan tajam tak selalu membawa kebijaksanaan,
Bila pikiran terselubung kelam.
Sementara jiwa yang merenung dalam hening,
Menyalakan cahaya yang tak pernah padam.

Aku takkan menyerah, meski rintangan merapat,
Seratus, seribu, sejuta langkah takkan surut.
Janji yang dihembuskan angin tetap berpendar,
Takkan hilang, takkan redup.

Biar tubuh ini tak sekuat baja,
Namun keyakinan berpendar seperti bintang.
Walau cobaan menjelma arus yang menggulung,
Aku tetap teguh, menghadap cakrawala.

Hei, ketidakpastian yang menguji,
Minggirlah, jangan menghadang.
Diamku bukanlah keraguan,
Namun keteguhan jiwa yang tak tergoyahkan.

Andai kau sodorkan tantangan waktu,
Meski bisikan ragu mencoba menutup telinga,
Aku menerima, melangkah tanpa gentar,
Membuktikan bahwa semangatku takkan padam.

Surabaya, 3 November 2023