Tapak Senyap di Hamparan Sembahyang
Yusufachmad Bilintention
Tentang yang menantang—
langkah kecil menantang pagi yang pura-pura tenang,
sepele yang menyimpan belati di balik senyum.
Lupa: kabut di ujung sajadah,
dosa… suara bisu dalam batin yang retak.
Ada yang mengingat—
seperti bulan yang tak lelah menengok,
berkat itu jatuh perlahan dalam detak,
tertanya dalam sunyi:
tertentangkah jejak yang tak sempat berpulang?
Luang,
bukan sekadar waktu yang terurai.
Uang,
perahu yang mengapung tanpa arah,
tenggelam oleh keinginan yang tak tahu pantai.
Tentang yang hilang,
bagai nama di gerimis sore,
hirup yang meminjam hidup,
duka tertanam di balik senyum warisan,
perih yang bertumbuh tanpa suara,
seperti luka yang belajar diam.
Sendiri,
adalah ruang berbatu dalam hati,
derita yang menyulam harapan dengan benang yang nyaris putus.
Cinta: tak selalu berumah,
dan bersama: belum tentu berakar.
Tentang nasib,
tak serupa utara—
karib yang pulang sebagai kenangan,
dan yang tertinggal hanya bayang-bayang
di dinding doa yang tak selesai.
Semua tentang itu,
berderet, bergugus, bertanya:
tertantangkah oleh waktu yang terus berjalan?
Sudah—
tapi bayangnya masih menempel di dinding doa.
Lagi—
tapi tak pernah utuh.
Mati—
namun rindu tak ikut terkubur.
Illahi—
yang menjadi awal dari segala akhir.
Dan kita:
hanya tamu dalam waktu yang tak pernah selesai.
Surabaya, 9–11–2013
(direvisi-28 September 2025)