May 26, 2026
riri5

Penulis : Ririe Aiko

Kau pergi tanpa pesan terakhir,
hanya bayangmu yang tersisa di ambang pintu.
Pagi itu kau berkata,
“Aku akan kembali seperti biasa”
Aku percaya, kita akan tetap menghadapi hari bersama…
Namun, takdir berbicara dengan cara yang tak ku mengerti.

Di sudut jalan yang biasa kita lewati,
hidupmu direnggut
bukan oleh takdir yang lembut,
tapi oleh tangan yang menggenggam kebencian.
Manusia jahat merenggut sadis satu nyawa
Satu nafas yang menaungi banyak kehidupan

Anak-anak kita memanggil namamu,
“Di mana Ayah?”
Aku menggigit bibir, mencoba menahan dunia
agar tak runtuh di hadapan mereka.
Mata kecil mereka polos, penuh tanya dan harapan,
Menjadi belati yang menujam dadaku.
Rasanya, aku pun ingin pergi denganmu.
Tapi, tangan-tangan mungil itu akan semakin lemah, jika aku menyerah…
Aku tetap harus tampak kuat meski rasanya berantakan…

Malam-malam kini ku lalui dengan sunyi,
aku memandang tempatmu di meja makan
dan bayanganmu yang tertinggal di kursi kayu.
Piringmu tetap di sana, tak ku sentuh.
Kopi yang biasa kau teguk dingin begitu saja.
Bagaimana mungkin rumah ini tetap berdiri,
ketika fondasinya telah pergi?

Aku mengutuk kebencian yang menorehkan luka ini,
mengeja setiap kenanganmu
seperti doa yang tak selesai ku bisikkan.
Kau teman perjalananku,
Melalui kerasnya bahtera rumah tangga,
Kadang kita tertawa bersama
Saling memeluk saat dunia terasa keras.
Kini aku berdiri sendiri,
terhuyung di tengah puing-puing harapan.
Bersembunyi di balik airmata yang tak berhenti

Aku menatap anak-anak kita,
mencari wajahmu dalam setiap senyum mereka.
Tiada hati yang lebih hancur selain hatiku saat ini
Tapi inilah dunia,
Tempat dimana kita harus tetap berjalan
Saatnya rasanya ingin berhenti.

Di depan pusaramu,
aku menaburkan bunga terakhir.
Aku bicara padamu dalam diam,
berharap angin membawa pesanku.
Aku akan bertahan.
Bukan karena aku kuat,
Tapi karena cintamu yang mengajarkan,
Bahwa bahkan di tengah kehancuran,
Ada kekuatan untuk membuat kita harus bertahan.

Catatan kaki: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250113093516-12-1186457/fakta-fakta-aktor-sandy-permana-tewas-penuh-luka-tusuk