Yongky Souisa: Negara Harus Hadir dengan Data yang Jujur untuk Memuliakan Rakyat Miskin
Oleh : joko
Dari Ruang Kerja Yongky Souisa: Mengawal Data, Menjemput Mimpi Anak Miskin di Tanimbar, Sekolah Rakyat adalah Janji Negara pada Wong Cilik
Wawancara eksklusif bersama Kepala Dinas Sosial Kepulauan Tanimbar mengungkap peran daerah dalam memastikan bantuan sosial tepat sasaran dan pendidikan gratis berasrama untuk anak-anak miskin, sebuah catatan dari ruang kerja di Saumlaki tentang integritas data dan keberanian memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan.
http://suaraanaknegerinews.com | Sabtu pagi, 9 Agustus 2025, di Jalan Ir. Soekarno, Kelurahan Saumlaki, Kecamatan Tanimbar Selatan, udara sejuk masuk melalui jendela pendingin ruangan dan diatas meja kerja dipenuhi peta wilayah, papan strategi, dan tumpukan dokumen, Yongky Souisa, S.STP, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kepulauan Tanimbar duduk tegak. Tatapannya tajam, tetapi hangat ketika menyambut kami.
“Negara harus hadir dengan data yang akurat, valid, dan menyatu, agar tidak ada lagi rakyat kecil yang tercecer dari hak-haknya,” ujarnya membuka pembicaraan, mengutip arahan Menteri Sosial dalam Rakornas Dinas Sosial se-Indonesia di Jakarta, Juli lalu.
Bagi Yongky, data bukan sekadar deretan angka dalam tabel. Ia menyebutnya sebagai “nadi kebijakan” sesuatu yang harus dijaga dengan kejujuran, dirawat dengan integritas, dan digunakan dengan hati nurani.
DTSEN: Tulang Punggung Kebijakan Sosial
Pembicaraan segera mengalir ke DTSEN, Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025 menugaskan seluruh pemerintah daerah untuk memutakhirkan dan memanfaatkan data ini sebagai acuan utama bantuan sosial dan pemberdayaan.
“Kalau datanya keliru, ada yang seharusnya tidak menerima bansos malah dapat, dan yang benar-benar miskin malah terlewat,” kata Yongky.
Ia menjelaskan mekanisme ground check di lapangan, verifikasi bersama BPS, hingga sistem sanggah yang memungkinkan masyarakat mengoreksi data.
Di tangannya, kebijakan ini bukan sekadar administrasi, melainkan upaya menutup celah ketidakadilan. “Tiap rupiah bantuan harus tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat jumlah,” tegasnya.
Sekolah Rakyat: Mimpi yang Mulai Terwujud
Namun, bukan hanya bantuan sosial yang menjadi fokus pembicaraan. Yongky berbicara penuh semangat tentang Sekolah Rakyat, program nasional untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan berasrama gratis bagi anak-anak keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Ia menggambarkan sekolah ini sebagai rumah harapan: tempat anak-anak belajar akademik, karakter, keterampilan hidup, hingga kepemimpinan.
“Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar, tapi tempat mereka belajar bahwa mereka layak untuk bermimpi,” ucapnya sambil menatap keluar jendela.
Di Kepulauan Tanimbar, rencana ini akan disambut dengan penyediaan lahan, sarana, dan tenaga pendidik. Pemerintah daerah, kata Yongky, siap mendukung penuh.
Menghadapi Tantangan di Lapangan
Yongky tak menutup mata bahwa program seperti ini akan berhadapan dengan tantangan. Dari masalah data, pergeseran kuota bansos, hingga temuan penerima bantuan yang menyalahgunakan dana untuk judi online. “Itulah pentingnya integritas data dan pengawasan ketat,” katanya serius.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan program nasional seperti DTSEN dan Sekolah Rakyat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat. “Tidak ada satu pihak pun yang bisa bekerja sendiri. Semua harus terlibat,” tuturnya.
Catatan Akhir dari Saumlaki
Wawancara ini berakhir dengan senyum, tetapi juga dengan catatan yang berat. Di luar, langit Saumlaki memantulkan warna kecerahan siang hari, seolah mengamini tekad seorang pejabat daerah untuk menjaga amanah negara.
Yongky Souisa bukan sekadar mengurus bantuan sosial. Ia mengawal mimpi, menjaga data, dan mengingatkan bahwa kebijakan publik harus berpihak pada yang paling lemah. “Memuliakan wong cilik bukan pilihan. Itu kewajiban negara,” katanya, menutup perbincangan.