Lebaran ini, aku datang, Ayah, menghampiri rumahmu yang berbeda, diantara hamparan luas yang berselimut tanah.
Aku terlambat, terlambat menyadari betapa rindumu tak pernah meminta banyak, hanya satu, kehadiran sederhana di pelataran rumah saat hari raya, di mana arang membara, dan berharap aroma lemang, menyatukan keluarga yang selalu lupa pulang.
Kini, rumah itu menjadi pelataran sunyi, tak ada lagi tanganmu yang melilit daun pisang, tak ada lagi suara tawa yang memecah pagi. Yang tersisa hanya tanah basah, menyembunyikan rindu yang tak bisa ku jamah.
Ayah, masih terbayang jelas, kau dengan baju lusuh beraroma arang, menjaga setiap bara agar lemang merekah sempurna, dan aku, selalu beralasan sibuk mencari dunia, lupa bahwa waktu ternyata sangat singkat. Merenggut paksa kesempatan yang masih ingin kusimpan dalam lembaran kenangan.
Kupikir rumah akan selalu menunggu. Ternyata, waktu berlalu seperti hembusan angin, sekejap yang tak pernah ku perhitungkan.
Kini, aku berdiri di sini, menghadiahkan doa-doa yang terlambat, mengantarkan airmata diantara nisan yang membisu.
Ayah, Semoga kau tak pernah kesepian lagi, sebab aku akan terus datang dengan doa, menjadikan pelataran sunyi ini, sebagai altar rindu yang tak pernah usai.