April 17, 2026
guru gugur

Bangku Kosong di Negeri Banjir

Nita Lusaid

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

Bencana ekologis di Sumatera tidak hanya merenggut rumah dan kampung, tetapi juga dunia pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat sekitar 67–70 guru gugur akibat banjir dan longsor, dan jumlah ini diperkirakan masih bertambah. Sekolah rusak, murid-murid kehilangan ruang belajar, dan banyak anak kehilangan guru yang seharusnya menuntun masa depan mereka.

oooOOOooo

Pagi itu,
lonceng sekolah tidak sempat berbunyi.
Papan tulis basah oleh lumpur,
kapur kehilangan putihnya,
dan halaman sekolah
menjadi ladang sunyi
yang tak selesai dieja.

Bencana tidak bertanya usia.
Ia tidak menimbang tua atau muda,
tidak menyeleksi profesi.
Ia datang sebagai kalimat panjang
tanpa tanda baca,
memutus pelajaran
di tengah baris.

Maka gugurlah para guru.
Bukan karena mereka ingin pergi,
melainkan karena alam
menarik mereka lebih dulu
dari ruang kelas.
Mereka wafat
tanpa sempat menutup buku nilai,
tanpa sempat menulis pesan terakhir:
belajarlah dengan sabar.

oOo

Di antara tubuh-tubuh yang terbaring,
Budi berdiri gemetar.
Tangannya kecil,
pakaiannya penuh lumpur,
dan matanya mencari satu wajah
yang paling ia kenal.

β€œIbu… Bu Tika…”
suaranya pecah
seperti kapur jatuh ke lantai.
β€œIbu bangun, Bu…
hari ini kan jadwal matematika.”
Ia mengguncang bahu itu pelan,
takut kalau suara keras
akan membuat gurunya sakit.

β€œIbu janji…
Ibu janji mau ajarin aku
pembagian,”
katanya sambil terisak.
β€œAku belum bisa, Bu…
yang dibagi tiga itu
aku masih salah.”

Bu Tika diam.
Diam yang tidak mengajar apa-apa.
Tubuhnya terbujur kaku,
seperti kalimat
yang berhenti sebelum titik.
Di sakunya,
mungkin masih tersimpan
kapur terakhir
yang tak sempat ia pakai.

oOo

Orang-orang menunduk.
Para dewasa menahan tangis
karena merasa kalah
di hadapan duka seorang anak.
Sebab tak ada pidato
yang mampu menandingi
air mata Budi
yang meminta satu hal sederhana:
seorang guru kembali bernapas.

oOo

Sekolah bukan hanya bangunan.
Ia adalah tempat anak-anak
belajar menamai dunia:
ini angka, ini huruf,
ini masa depan.
Ketika sekolah hanyut,
dan guru ikut gugur,
yang runtuh bukan sekadar dinding,
melainkan jembatan
menuju hari esok.

Setiap hari,
jumlah guru yang wafat bertambah.
Tak ada seleksi umur.
Tak ada pengumuman perpisahan.
Yang tertinggal
hanya murid-murid
dengan buku basah
dan bangku kosong
yang tak tahu
siapa akan duduk di sana.

oOo

Budi pulang
membawa tas yang berat
oleh lumpur dan tanya.
Di kepalanya, satu pertanyaan
berputar seperti hujan
yang tak berhenti:
jika Bu Tika tak ada,
siapa yang akan mengajarku
membagi angka,
membagi kesalahan,
membagi hidup?

Di ujung pintu,
sebuah gugatan berdiri,
tanpa menunjuk wajah,
tanpa menyebut nama:
ketika guru gugur
dan anak kehilangan arah,
ketika kapur basah
dan kelas menjadi sunyi,
siapa yang seharusnya
paling dulu
merasa bertanggung jawab?

Jakarta, 29 Desember 2025

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

Catatan Kaki
1. Kompas, β€œPuluhan Guru Gugur akibat Bencana di Sumatera”, 10 Desember 2025, Pendidikan & Kebudayaan.

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚