April 17, 2026

Sebuah puisi tentang tanah yang bersinar di ujung timur, dibacakan penuh jiwa oleh penyair Jawa Timur, Mas Didik. Tradisi, alam, dan sejarah berpadu dalam gelombang kata yang tak pernah padam.

Puisi: Yusufachmad Bilintention

Gaung itu menggema, tangan-tangan diacungkan tinggi,
Di forum dunia, suara Biak berhembus tak henti.
Tangan yang berurat tradisi di sudut-sudut negeri,
Bukan sekadar wibawa, kehormatan, atau harga diri,
Namun jati diri—warisan anak kelahiran pertiwi.

Elok pertiwi menjuntai, laut biru melambai,
Berbatu cadas, namun berhati ayu nan damai.
Bosnik bersinar, Anggopi membiru, Samares mengundang,
Pasir bak berlian, berkilauan hingga tepian Pasifik terhampar panjang.

Gelombang bersuara, namun tiada gesekan,
Laut dan darat berpelukan dalam harmoni tak berlawanan.
Wafsarak mengalir lembut, Goa Binsari merajut kenangan,
Menjaga adat dan bahasa, bisikan budaya yang tak berpura-pura.

Mananwir Keret, Mananwir Mnu, Mambri, Konor, Mon, dan Korano, —
Nama yang megah, terpatri dalam sejarah bertaut rindu.
Seperti ikan Biak yang dibakar, kuah kuning dan papeda,
Atau bakar batu yang menyatukan hati dalam satu wadah.

Biak, kau mutiara timur yang terus berbenah,
Cahaya tradisi dan modernitas berpilin indah.
Di setiap suapan, di setiap gelombang, dalam setiap langkah,
Kau abadi dalam kenangan, bergema dalam hati, tak kan punah.

Surabaya, 26 April 2025

Biak bukan sekadar pulau di timur, ia adalah gema tradisi yang tak pernah padam, berlayar bersama gelombang menuju masa depan.