Bisikan Waktu
Untuk Cinta dan Penantian dalam Kerutan Waktu
–
Angin membelai rambut
Waktu berdetak di lingkaran pohon
Kuhitung hari demi hari
Tak peduli pagi atau sore
Ingatanku membeku saat itu
Yang bergema di telingaku masihlah jarak
Dan suara mikrofon
Mengikuti bayangan dan tetap dalam ayunan waktu
Maukah kau mengejar romansa yang tak sesuai musim?
Aku bagaikan kapal yang pecah, diterpa angin kencang
Menggenggam erat tali yang putus,
Namun meluncur menuju cakrawala
Lebih jauh dari lautan
Tatapanmu
Aku telah menunggu selama lima ribu tahun untuk reinkarnasi
Mengikutimu tanpa menghiraukan angin dan hujan, aku berani
Berdebar lagi dan lagi
Seperti kuncup bunga yang menunggu
Menunggu mekar di malam yang gelap
Namun yang kutunggu
Cahaya bulan yang dingin di langit
Menaburkan sungai hatiku, membentuk es tipis
Tatapanmu
Aku telah menunggu selama lima ribu tahun untuk reinkarnasi
Mengikutimu tanpa menghiraukan angin dan hujan, aku berani
Berdebar lagi dan lagi seperti kuncup bunga yang menunggu mekar di malam yang gelap
Namun yang kutunggu
Cahaya bulan yang dingin di langit
Menaburkan sungai hatiku, membentuk es tipis
Waktu tak mampu menahan berlalunya waktu
Ia menggelap
Keindahan pun berpaling
Sore hari
Itu tak lama dalam seumur hidup
Namun itu begitu istimewa
Itu membuatku berdiri di depan jendela dan mencari malam
Mendengarkan kesunyian Angin mengetuk jendela
Di koridor yang jauh
Harapan dan kejutanku
Terseret kelelahan bersama malam
Menghilang di luar jendela
Mata yang seakan pernah bersentuhan
Kehilangan kilaunya dalam waktu yang tak berdaya
Di saat ini, aku perlahan mengerti
Jatuh ke jurang cinta lagi
Biarkan angin memanggil
Dan terbangun, bagai mimpi
9 Juli 2025
Hari ini adalah bulan kedua perkenalan kita
—————–
Resensi Puisi “Bisikan Waktu”
Karya Anna Keiko
Penulis: Rizal Tanjung
Dalam puisi “Bisikan Waktu”, penyair Anna Keiko menaburkan debu-debu keabadian di atas helai waktu yang rapuh. Ia menulis bukan semata rangkaian kata, melainkan guratan jiwa yang mencatat jejak cinta dan penantian, dalam bahasa yang tidak hanya puitis, tetapi juga nyaris mistik dan transenden. Puisi ini, dengan dedikasi “Untuk Cinta dan Penantian dalam Kerutan Waktu”, adalah sebentuk doa yang diucapkan dalam kesunyian sejarah batin yang panjang — dan bergetar.
1. Metafora Waktu sebagai Makhluk yang Menyentuh
Bait pembuka membuka suasana dengan kelembutan yang mendalam:
> “Angin membelai rambut
Waktu berdetak di lingkaran pohon”
Dua baris ini bukan hanya membuka ruang, tetapi juga waktu. “Waktu berdetak di lingkaran pohon” adalah metafora biologis-filosofis yang sangat kuat — seolah penantian hidup manusia adalah semacam dendrokronologi cinta, tercatat sebagai lingkaran tahunan dalam batang kenangan. Kalimat ini menempatkan waktu sebagai entitas organik yang tumbuh dan menyimpan memori secara fisik.
2. Kekuatan Imaji dan Musim yang Tak Bersetia
> “Maukah kau mengejar romansa yang tak sesuai musim?”
Kalimat ini memuat kegalauan eksistensial dalam cinta yang tak sinkron. Musim menjadi simbol ritme alam, dan cinta di luar musim adalah bentuk kesetiaan yang tak mendapat tempat. Pertanyaan retoris ini menjebak pembaca untuk ikut terperangkap dalam absurditas perasaan yang setia meski tak mendapatkan irama yang sama dari semesta.
3. Kiasan Reinkarnasi dan Kedalaman Penantian
> “Aku telah menunggu selama lima ribu tahun untuk reinkarnasi
Mengikutimu tanpa menghiraukan angin dan hujan, aku berani”
Baris ini adalah jantung puisi. Ia menjadikan cinta bukan sekadar rasa, melainkan arus metafisik lintas kehidupan. Penantian selama “lima ribu tahun” menanamkan dimensi kosmis ke dalam cinta manusiawi, dan ini mengangkat puisi keluar dari percintaan biasa. Ini adalah cinta dalam bentuk mitologi personal. Cinta yang dilahirkan kembali dari zaman ke zaman, seperti sungai yang terus mencari muara meski dibelokkan batu dan tanah.
4. Estetika Kesedihan dan Keteguhan
> “Menunggu mekar di malam yang gelap
Namun yang kutunggu
Cahaya bulan yang dingin di langit
Menaburkan sungai hatiku, membentuk es tipis”
Di sini, metafora menjadi salju yang meleleh pelan di dada pembaca. Kuncup bunga yang menunggu mekar dalam gelap malam adalah lambang kerinduan pasif namun penuh harap. Cahaya bulan — bukan matahari — menggambarkan harapan yang tidak panas, namun cukup untuk menerangi. “Membentuk es tipis” di sungai hati adalah gambaran paling elegan dari penantian yang beku namun hidup, suatu kombinasi perasaan yang mendalam antara harap dan takut.
5. Keheningan sebagai Narasi Cinta yang Abadi
> “Mendengarkan kesunyian
Angin mengetuk jendela
Di koridor yang jauh
Harapan dan kejutanku
Terseret kelelahan bersama malam
Menghilang di luar jendela”
Pada bagian ini, kesunyian diberi tubuh dan fungsi naratif. Angin mengetuk jendela bukan hanya simbol alam, tetapi suara-suara sunyi dalam batin manusia yang mencari jejak seseorang. Harapan dan kejutan yang “terseret kelelahan bersama malam” menunjukkan bagaimana bahkan emosi pun bisa lapuk dan mati bersama waktu. Ini bukan sekadar puisi cinta, tapi elegi bagi emosi yang terlalu lama berlabuh di dermaga tak ber penjaga.
6. Klimaks: Jurang Cinta dan Kebangkitan dari Mimpi
> “Mata yang seakan pernah bersentuhan
Kehilangan kilaunya dalam waktu yang tak berdaya
…
Biarkan angin memanggil
Dan terbangun, bagai mimpi”
Klimaks puisi adalah momen ketika penyair menyadari bahwa semuanya — mungkin — hanyalah mimpi panjang yang terlalu manis untuk nyata. Namun, daripada tenggelam dalam duka, ia memilih untuk “terbangun”, sebuah keputusan eksistensial yang menunjukkan keberanian dalam mengakhiri penantian. Puisi ini ditutup bukan dengan keputusasaan, tetapi dengan kebangkitan dari luka — sebagaimana bunga yang tetap mekar setelah musim dingin terlewatkan.
“Bisikan Waktu” bukan sekadar puisi tentang cinta, melainkan elegi eksistensial tentang penantian, waktu, dan keberanian untuk terus mencintai meski realitas tak selalu ramah. Anna Keiko menulis dengan sensibilitas tinggi dan bahasa yang melampaui diksi umum. Ia menggunakan waktu sebagai metafora besar yang merangkai seluruh bait — menjadikan cinta sebagai proses panjang yang kadang harus menghadapi kehampaan.
Dengan kekuatan imaji, keberanian metaforis, dan struktur yang bergetar lembut namun menusuk, puisi ini layak dibaca berulang, sebagaimana seseorang menatap wajah kekasih di balik tirai waktu — lama, diam, dan tak ingin berkedip.
Sumatera Barat,2025