CINTA
anto narasoma
(kepadamu Chairil)
–
seperti angin membawa rasa, mengelus getaran cinta yang memburu tajam ke padamu,
sri ayati
sebab kobaran asmara dalam tatapan mata
si binatang jalang,
tetap menyala dari tahun ke tahun di atas perapian cinta
saling bertatap mata
ketika perjuangan asmara itu mendebarkan kisah ke dalam sajak-sajak cinta
sri ayati !, teriak chairil anwar
wanita berwajah mimpi di balik cermin kaca yang tergantung pada dinding kamar tidurmu,
selalu tersenyum dan merangkul ide ke dalam sajak kerikil-kerikil tajam
sayang,
tali percintaan panjang yang kau ikat ke dalam puisi-puisi hatimu, terlepas kandas dan hilang ke liang kuburmu
Palembang, 05 Januari 2025
-000-
Anto Narasoma
BARA APIMU, CHAIRIL
seni dan sastra adalah nyawamu. tatkala api perjuangan itu berkobar pada sumbu obor di jantung hatimu, panasnya meranggas dendam
dalam kobaran asmara dari berbagai cinta,
kau kejar wanita itu setelah menjelma sebagai binatang jalang
sumirat, sumirat !
jangan kau lempar kerinduanku sebelum aku pulang ke liang kuburku sendiri
suaramu membombardir zaman. meski berbeda waktu dan jam yang bergulir tajam ke dalam catatan puisiku,
namun gejolak karya cinta itu masih menyebut-nyebut namamu
maka puisi dan cinta yang berjalan cepat
dari waktu ke waktu,
tak pernah lepas dari panasnya semangat yang memancarkan api
Palembang, 10 Januari 2025
-000-
Anto Narasoma
ISTRI ABADIMU ADALAH PUISI
anjing-anjing menggonggong dalam teks puisi malam, setelah kau hadirkan wajah baru puisi kita
di antara kata-kata
memelas seperti peminta-minta,
kau pun menyalak
dan menggigit diksi
ketinggalan kereta terakhir yang tewas
di dalam sastra kita
seperti binatang jalang dalam kerumunan anjing-anjing belanda,
kau tembus segala kata setelah merebut bentuk sajak abadi,
sebelum hengkang dari tanah merdeka
lalu,
kau sebut binatang jalang meski ratusan bunga-bunga melambaikan aroma percintaan : tapi kau acuhkan karena istri abdimu adalah puisi
Palembang, 18 Januari 2025