April 18, 2026

anto narasoma
(kepadamu Chairil)

seperti angin membawa rasa, mengelus getaran cinta yang memburu tajam ke padamu,
sri ayati

sebab kobaran asmara dalam tatapan mata
si binatang jalang,
tetap menyala dari tahun ke tahun di atas perapian cinta

saling bertatap mata
ketika perjuangan asmara itu mendebarkan kisah ke dalam sajak-sajak cinta

sri ayati !, teriak chairil anwar

wanita berwajah mimpi di balik cermin kaca yang tergantung pada dinding kamar tidurmu,
selalu tersenyum dan merangkul ide ke dalam sajak kerikil-kerikil tajam

sayang,
tali percintaan panjang yang kau ikat ke dalam puisi-puisi hatimu, terlepas kandas dan hilang ke liang kuburmu

Palembang, 05 Januari 2025

-000-

Anto Narasoma

BARA APIMU, CHAIRIL

seni dan sastra adalah nyawamu. tatkala api perjuangan itu berkobar pada sumbu obor di jantung hatimu, panasnya meranggas dendam

dalam kobaran asmara dari berbagai cinta,
kau kejar wanita itu setelah menjelma sebagai binatang jalang

sumirat, sumirat !
jangan kau lempar kerinduanku sebelum aku pulang ke liang kuburku sendiri

suaramu membombardir zaman. meski berbeda waktu dan jam yang bergulir tajam ke dalam catatan puisiku,
namun gejolak karya cinta itu masih menyebut-nyebut namamu

maka puisi dan cinta yang berjalan cepat
dari waktu ke waktu,
tak pernah lepas dari panasnya semangat yang memancarkan api

Palembang, 10 Januari 2025

-000-

Anto Narasoma

ISTRI ABADIMU ADALAH PUISI

anjing-anjing menggonggong dalam teks puisi malam, setelah kau hadirkan wajah baru puisi kita

di antara kata-kata
memelas seperti peminta-minta,
kau pun menyalak
dan menggigit diksi
ketinggalan kereta terakhir yang tewas
di dalam sastra kita

seperti binatang jalang dalam kerumunan anjing-anjing belanda,
kau tembus segala kata setelah merebut bentuk sajak abadi,
sebelum hengkang dari tanah merdeka

lalu,
kau sebut binatang jalang meski ratusan bunga-bunga melambaikan aroma percintaan : tapi kau acuhkan karena istri abdimu adalah puisi

Palembang, 18 Januari 2025