April 18, 2026

(Untuk yang pernah singgah sebagai senandung, lalu menjelma sunyi)

Oleh: Rizal Tanjung

Jika perpisahan adalah angin,
biarlah ia datang dari utara yang lembut,
menyusuri jendela pagi tanpa mengetuk,
agar kata-kata kita tidak gugur
dari dahan kenangan yang belum sempat berbunga.

Aku ingin perpisahan menjadi sesuatu yang tidak menyakitkan,
seperti senja yang tahu caranya meredup
tanpa membuat langit menangis.

Jika kau harus pergi,
pergilah seperti daun tua yang jatuh ke pelukan sungai,
perlahan,
tanpa suara,
tanpa dendam,
tanpa perlu membawa apapun selain diam yang tenang.

Aku tak ingin luka menjadi rumah,
biarlah kenangan tinggal sebagai burung
yang sekali waktu berkicau di ranting pikiranku
saat pagi terlalu sunyi untuk dibuka.

Jangan tinggalkan luka seperti batu
yang dilemparkan ke danau ingatan—
cukup satu riak kecil saja,
yang mengembang perlahan,
dan hilang dalam waktu
seperti namamu di ujung doaku.

Kita pernah jadi dua musim yang tak sempat bersalaman,
kau gugur saat aku mekar,
dan aku datang ketika kau telah pergi.
Namun tak apa,
setidaknya semesta pernah menjahitkan kita
dalam satu halaman yang sama—
meski hanya untuk dibaca sekali,
lalu dilipat pelan dalam ingatan.

Jika esok kau rindukan aku,
carilah aku di antara puisi-puisi yang tak selesai,
sebab di sanalah aku menyimpan mu
dengan sunyi yang paling setia.

Sumatera Barat, 2025