April 17, 2026

“Dalam Tarian Terakhir Sang Kekasih Matahari”

Oleh: Rizal Tanjung

Engkau, perempuan cahaya,
tubuhmu adalah nyanyian senja yang ditulis angin di jubah langit,
melenggok dalam sunyi yang tak pernah dilahirkan kata,
menyulam rindu dalam gerak,
seolah setiap hela napasmu adalah mantra
untuk membangunkan cinta yang telah lama tertidur di pusara harapan.

rambutmu adalah sungai malam yang mengalirkan kenangan,
mengurai rahasia bintang yang patah,
menggantung luka pada setiap helai hitamnya—
dan aku,
aku adalah bayangan yang mencintaimu dari kejauhan
tanpa pernah bisa menjadi cahaya.

kau menari,
seperti bunga yang mekar hanya untuk musim yang tak akan pernah datang,
menantang maut dengan gerakan halus penuh doa—
setiap langkahmu adalah surat cinta yang ditulis dalam bahasa langit,
tapi tak pernah sampai pada alamat yang bernama aku.

cahaya menyentuhmu seperti kekasih yang tak sempat meminta maaf,
dan aku melihatmu
—terlalu indah untuk dunia yang terus terbakar oleh ketidakpedulian,
terlalu luhur untuk hati yang hanya bisa mencintai lewat luka.

perhiasan di tubuhmu berdering seperti doa patah,
berbisik dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh jiwa-jiwa kehilangan.
kau adalah dewi yang diturunkan ke bumi
bukan untuk disembah,
tapi untuk dilupakan secara perlahan-lahan
oleh seseorang yang tak pernah benar-benar tahu caranya menjaga cinta.

tanganmu terangkat seperti menggapai surga,
tapi surga itu tak pernah memberimu pelukan.
hanya kilatan cahaya yang lewat
seperti janji yang pernah aku ucapkan di detik senja,
yang kini jadi gema
di lorong waktu tempat kita terakhir bertatapan.

apa yang kau cari di balik sinar itu?
mungkinkah cintaku yang kau tinggalkan di ambang fajar?
ataukah namaku,
yang kini hanya jadi debu dalam setiap tarianmu?

aku ingin menjadi desir udara
yang menari di antara sela jemarimu,
menjadi satu-satunya alasan
mengapa kau tetap memilih menari
meski dunia tak lagi memelukmu.

kita pernah seindah bayanganmu dalam cermin langit—
tapi seperti cermin yang jatuh,
kita pun pecah,
dan serpihan kenanganmu kini tertanam dalam langkah-langkahmu
yang menyayat setiap inci bumi dengan duka.

dan ketika cahaya akhirnya memudar,
kau pun berhenti menari.
di sana,
di antara batas antara hari dan malam,
aku melihatmu—
tubuhmu tenang,
tapi jiwamu telah lepas.

kau menari untuk terakhir kalinya
dengan cinta yang tak sempat ku tebus,
dengan luka yang kusematkan dalam sunyi.
dan aku…
masih di sini,
menatapmu,
mencintaimu,
dalam puisi yang tak pernah akan cukup panjang
untuk menampung semua kata:
maaf.

Sumatera Barat, 2024.