Oleh : Eka Teresia
–
Sumatera Barat— suaraanaknegerinews.com|Ranah Minang kini diselimuti kabut kelabu, bukan dari mendung, melainkan debu dan lumpur sisa amukan galodo (banjir bandang) dan longsor yang datang tanpa permisi. Bencana maha dahsyat ini telah mengubah lansekap elok menjadi tumpukan puing, menyisakan trauma mendalam. Data sementara menyebutkan ratusan jiwa telah ditelan bumi, meninggalkan duka yang tak terperikan. Ribuan sanak saudara kini harus hidup dalam ketidakpastian, kehilangan bukan hanya harta benda, tapi juga atap perteduhan yang kini hanya tinggal kenangan.
Di tengah palagan penderitaan ini, muncul seruan kemanusiaan yang menggema. Panggilan nurani untuk berempati, uluran tangan untuk saling meringankan beban, menjadi mandat moral yang tak terhindarkan. Para relawan, dengan semangat jiwa ksatria yang tak kenal lelah, bahu-membahu menembus medan berat, menjadi mercu suar harapan di tengah kegelapan. Mereka adalah cerminan dari kedermawanan hakiki.
Namun, ironi menggores luka. Di sisi lain, terlihat bayang-bayang kekikiran yang memilukan. Di tengah jeritan pilu korban, masih ada segelintir manusia yang terperangkap dalam belenggu hitungan duniawi. Mereka enggan menyisihkan sepeser pun, diliputi fatamorgana bahwa memberi akan menggerus pundi-pundi tabungan yang telah dikumpulkan. Pikiran sempit dan materialistis ini menjadi kontras yang menyakitkan di hadapan skala bencana yang begitu massif.
Padahal, langit telah bersaksi dan Al-Qur’an secara gamblang menegaskan pentingnya ta’awun (saling menolong) dan takaful (saling menjamin). Bencana ini sejatinya adalah ladang amal, sebuah momentum emas untuk membuktikan keimanan yang sesungguhnya. Nafsu duniawi seharusnya tidak boleh mengebiri kepekaan rohani kita. Setiap butir beras, setiap helai kain, setiap rupiah yang disumbangkan, bukanlah sekadar donasi, melainkan investasi abadi di sisi Tuhan.
Saat ini, Sumatera Barat tidak butuh ratapan, melainkan aksi nyata. Mari kita bersihkan karat kekikiran dari hati, dan biarkan cahaya empati menerangi langkah kita. Sebab, sesungguhnya, kekayaan sejati bukanlah pada yang tersimpan di rekening, melainkan pada jejak kebaikan yang kita tinggalkan di hati sesama.
Padang ,2 Desember 2025