April 17, 2026

Yusuf Achmad

Mencari dua kata ini, kau mungkin mendesah,
Namun tahukah kau, got mencerminkan kasih dari Tuhan?
Got yang berlumpur, gelap tanpa cahaya,
Tetap menjadi cerminan keadilan Tuhan, yang tak pilih kasih.

Tiada kotoran yang ia tolak,
Sampah rumah tangga, ego pabrik yang pongah.
Ia merangkul semuanya dengan tangan terbuka,
Layaknya langit menerima hujan pertama yang jatuh dari surga.

Air jernih nan suci, atau keruh sehitam dendam,
Semuanya diterima, tak ada yang ditahan.
Luas hatinya seperti sungai tanpa ujung,
Mengalir dalam hening, sabar menjaga harmoni.

Ia bukanlah jalan berbatu yang menjebak pengendara,
Melainkan pelindung dari erosi yang tak kenal ampun.
Ia menjaga alirannya tetap selaras,
Tak seperti manusia yang sering culas.

Pabrik pongah, gedung berdiri tanpa jiwa,
Pejabat diam, menyulut bencana.
Namun murka got bisa seagung murka God—Tuhan,
Meluap, menenggelamkan, bumi bersaksi pada langit yang memerah.

Dan God, dalam kebijaksanaan-Nya, memberi izin pada murkanya,
Untuk menenggelamkan jagat raya—dan hatimu yang telah buta.

Surabaya, 12-3-2025