April 18, 2026

Oleh Era Nurza

Sudut malam, enggan pulang

kupeluk sepi seperti sahabat lama

di mana nyeri paling dalam

bersembunyi tanpa suara

 

Langit menggantungkan bayang luka

di antara desir angin dan desir dada

ada getir yang tak sempat kuterjemah

menjadi tangis

karena dunia terlalu bising untuk mendengar

jerit yang bisu

 

Kupijak waktu dengan langkah genting

menghindari retak yang kutinggalkan sendiri

Namun jejaknya memburu

seperti kabut yang tak pernah benar-benar

pergi melekat di sela napas

menggerogoti bening mata yang pura-pura kuat

Aku, adalah puing yang menyusun dirinya sendiri

dari serpih cahaya

dan reruntuhan peristiwa

Tapi tak semua terang sanggup memulihkan

sebab beberapa luka

memilih menetap

 

Dan malam, ah …malam

ia selalu tahu

bahwa hening pun bisa tersayat

oleh kenangan yang tak kunjung sembuh

meski waktu terus menjahitnya

dengan benang harapan

Padang, 29 Mei 2025

Edrawati, M.Pd. nama pena Era Nurza berasal dari Padang. Baginya, menulis bukan sekadar hobi, tapi cara abadi untuk meninggalkan jejak. Setiap kata adalah luapan jiwa, cermin perasaan yang tak selalu bisa diucap. Menulis menjadi ruang bebas untuk menyimpan kenangan, merawat luka, atau sekadar bicara dengan diri sendiri, dan tulisan hari ini bisa jadi pelukan hangat untuk hari esok.

WA 08126757708