April 17, 2026
leni2

Ilustrasi cerpen Leni Marlina: ”Ibu Puti Ambun dan Ruang Berpikir”. Sumber gambar: © Starcom Indonesia, Book Cover Collection No. 70_27122025

 

Cerpen: Leni Marlina

Ibu Puti Ambun, demikian nama yang akrap di kalangan civitas akademika di kampus ini. Rambutnya dulu hitam keperakan, matanya teduh, dan senyumnya membawa ketenangan. Setelah sekian tahun, ia mengenakan hijab pergi mengajar dan senyum lembut itu tidak pernah berubah. Namun yang paling menonjol bukan fisiknya, melainkan cara ia menghadirkan ruang berpikir.

Di Fakultas Humaniora, suasana kelas Ibu Puti selalu berbeda. Tidak ada jawaban pasti di papan tulis; yang ada hanyalah pertanyaan, percakapan, sedikit teori, banyak diskusi, dan… teh jahe.

Hari itu, matahari menembus jendela tinggi. Mahasiswa sibuk dengan buku dan catatan, sebagian ragu, sebagian penasaran.

“Ada yang ingin bertanya hari ini?” suara Ibu Puti memotong keramaian.
Rani, seorang mahasiswa, berdiri.

“Bu… apakah benar kami akan menjadi manusia yang jujur dengan semua teori ini? Atau hanya manusia yang pandai menyenangkan angka?”
Diam sejenak. Tiap kepala menunduk, menahan napas.
Ibu Puti menatap Rani, lalu seluruh kelas.

“Jujur adalah keberanian. Keberanian untuk bertanya, untuk ragu, untuk tetap manusiawi. Itu lebih penting daripada angka, meski dunia menilai angka lebih dahulu.”

Ia menuang teh jahe hangat ke cangkir enamel putih, aroma pedasnya meresap perlahan.
“Teh jahe tidak bisa dipaksa cepat. Sama seperti berpikir. Hangat akan datang setelah pedas.”

Arga, mahasiswa lain, berdiri dengan ragu.
“Bu… bagaimana jika keberanian itu justru membuat kami salah arah? Atau sistem menghukum kami karena terlalu banyak bertanya?”

Ibu Puti tersenyum lembut.
“Jika keberanian salah arah, kita perbaiki bersama. Tetapi jika takut bertanya, kalian kehilangan diri sendiri. Sistem boleh menilai, tapi nurani tidak bisa ditipu.”

Rani menatap Arga.
“Kau dengar itu? Tidak salah bertanya, bahkan kalau takut.”
“Ya,” kata Arga, “tapi takut tetap ada.”

Ibu Puti menatap mereka.
“Takut selalu ada. Keberanian bukan absennya rasa takut, tapi kemauan untuk bertanya meski takut.”

Beberapa minggu kemudian, kabar sampai ke ruang dosen. Dekan memanggil Ibu Puti untuk rapat. Suasana tegang, lampu neon memantul di meja panjang.

“Fenomena kelas reflektif Ibu Puti Ambun menjadi perhatian,” kata Dekan.
Seorang kolega senior menambahkan, “Ini bisa mengganggu akreditasi dan standar fakultas.”
Ibu Puti mengangkat tangan.

“Yang terjadi bukan ancaman, tapi percobaan memberi ruang berpikir. Tidak untuk melawan sistem, tapi untuk menjaga kemanusiaan tetap hidup di ruang kelas.”

Seorang kolega muda bersuara, cemas:
“Tapi mahasiswa terlalu banyak bertanya, Bu. Mereka menantang otoritas.”

Ibu Puti tersenyum tipis:
“Pertanyaan mereka bukan ancaman. Itu tanda pendidikan bekerja. Jika tidak ada pertanyaan, pendidikan mati.”

Setelah rapat, Ibu Puti duduk di kantin. Rani mendekat, wajah cemas.

“Bu… apa mereka marah?”
Ibu Puti menuang teh jahe.
“Bisa saja. Tapi mereka mendengar. Itu lebih penting daripada kemarahan.”
Rani menunduk.

“Saya… takut salah.”
Ibu Puti tersenyum.
“Takut itu manusiawi. Tapi keberanian untuk tetap bertanya, meski takut, itu pembelajaran sesungguhnya.”

Seorang dosen senior menatap Ibu Puti di lorong fakultas.

“Puti… ini berbahaya. Mahasiswa semakin vokal. Evaluasi kinerja bisa terganggu.”
Ibu Puti menatapnya tenang.

“Lebih berbahaya jika kita membungkam mereka. Ketakutan mereka akan menjadi kebisuan panjang yang menghancurkan integritas intelektual.”
Dosen itu terdiam.
“Puti… kadang keberanian itu mahal.”

Ibu Puti tersenyum pelan:
“Kalau begitu, biarkan saya membayar harga itu. Tapi harga yang membungkam mahasiswa? Tidak.”

Beberapa minggu kemudian, rapat fakultas kembali digelar. Tekanan lebih nyata. Beberapa dosen mendesak agar Ibu Puti mengikuti kurikulum ketat.

Ibu Puti berdiri, tatapan tegas:
“Saya menghormati kurikulum. Tetapi kurikulum itu untuk manusia, bukan manusia untuk kurikulum. Jika kita menghapus ruang bertanya, kita menghapus kemanusiaan mereka.”

Seorang dosen muda berbisik:
“Tapi Bu… akreditasi, publikasi, semua itu?”
Ibu Puti menunduk, lalu menatap mata mereka:
“Apa gunanya akreditasi tanpa integritas? Apa gunanya publikasi tanpa keberanian? Kita bisa menang di papan skor, tapi mahasiswa kehilangan diri mereka—dan itu tidak bisa diperbaiki.”

Dekan meneguk air. Sunyi. Tak satu pun berkata. Bahkan mereka yang menentang, terdiam oleh ketenangan dan ketegasan Ibu Puti.

Di kelas, Rani berbicara dengan lembut:
“Bu… saya dulu takut salah, tapi sekarang saya tahu bertanya itu penting, meski jawabannya tidak selalu benar.”

Arga tersenyum:
“Dan saya belajar, nilai tidak menentukan keberanian. Keberanian menentukan nilai kita sebagai manusia.”
Ibu Puti menatap mereka, tersenyum.

“Dan itulah tujuan saya. Bukan mengubah sistem dalam semalam, tapi menyalakan api yang tidak mudah padam.”

Di warung Pak Rahman, aroma teh jahe memenuhi udara. Ibu Puti meneguk perlahan.
Pak Rahman menatapnya:
“Puti… mereka mulai mengerti. Tapi ini baru permulaan.”

Ibu Puti mengangguk:
“Ya, Pak. Mereka mulai mendengar… mendengar diri sendiri. Dan itu jauh lebih penting daripada mendengar instruksi.”

Pak Rahman tersenyum di sudut:
“Seperti jahe, Bu. Pedas dulu, hangat kemudian. Tidak instan, tapi tetap memberi kehangatan.”

Fakultas memberi catatan evaluasi khusus untuk Ibu Puti. Mereka mengakui: metode reflektifnya membuahkan hasil nyata, meski berbeda dari standar konvensional.

Ibu Puti menerima keputusan itu dengan tenang, menyadari: kemenangan sejati bukan soal pengakuan resmi, tapi tentang keberanian menyalakan ruang berpikir yang aman bagi manusia.
Di kelas terakhir semester itu, ia menatap mahasiswa:
“Nilai kalian mungkin tercatat, tapi keberanian kalian tidak tercatat di dokumen. Itu akan tetap hidup, selamanya.”
Rani meneteskan air mata:
“Bu… terima kasih. Saya… belajar menjadi manusia.”
Arga tersenyum:
“Dan saya… siap bertanya, bahkan jika takut.”

Beberapa tahun kemudian, warung Pak Rahman sudah tiada. Tapi semua mahasiswa yang pernah duduk di kelas Ibu Puti membawa warung itu di hati mereka.
Ketika menghadapi dilema atau tekanan dunia, mereka menutup mata sejenak, meneguk imajiner teh jahe, dan berkata:
“Berani bertanya, tetap manusiawi, dan percayalah pada proses. Hangat akan datang setelah pedas.”

Ibu Puti Ambun pensiun sunyi, tanpa seremoni besar. Tapi setiap hujan, aroma jahe, dan diskusi yang tulus tetap hidup di hati mahasiswa.
Pendidikan bukan tentang angka, publikasi, atau standar formal. Pendidikan adalah ruang untuk manusia tetap manusiawi.

(Padang, Sumbar, 2006)