Jeda Puisiku
Yusufachmad Bilintention
Puisiku meronta—bukan protes,
Bukan marah, bukan geram,
Apalagi luka hati, dendam,
Bukan itu yang ia simpan.
Ia hanya ingin rehat,
Menepi sejenak demi pikiran yang lebih sehat.
Katanya: “Aku tak jahat,”
Hanya jeda untuk bernapas,
Mengendurkan jidad yang tegang,
Meski persoalan terus merambat,
Menjalar seperti akar yang tak lelah.
Ia tambatkan semua, lalu ia ikat,
Seperti mengikat rambutnya yang hitam pekat.
Di kepalanya, ia simpan segala
Untuk kelak jadi bahan yang bernas dan hebat.
Meski dunia mendesaknya melesat,
Ia memilih diam yang bermakna.
Ia ingin jeda, sebagaimana judul puisinya:
“Ada Jeda, Ada Tiada.”
Namun ia tetap ada,
Selalu ada selama hari bersua.
Itulah sebabnya ia menyebut dirinya puisi hari ini.
Meski tak muncul beberapa hari,
Katanya: “Aku puisi yang punya nadi,”
Kadang berdetak, kadang berhenti,
Namun tak pernah mati.
Saintren, 9 September 2025