JUMINTEN EDAN
Puisi Bambang Oeban
–
di layar gelap yang meronta, Juminten duduk di antara riuh sorak gila
rambutnya kusut seperti naskah tak pernah selesai. mata merahnya pun berteriak lebih nyaring dari suara-suara dalam dialog
coba kau dengar,
kata-katanya yang tumpah ke dalam warna film satu babak itu, tertawa dan menangis sendiri
juminten, juminten !
panggilan itu seperti pedagang kue kehabisan kelapa parut
memang,
ia bukan sekadar tokoh ia adalah luka yang diulang-ulang oleh adegan tertawa
pada jeda sunyi
lalu ia menangis di antara tawa penonton yang tak mampu membaca kata hatinya
o, juminten edan
suara itu bukan kegilaan yang tumbuh dari waras, melainkan waras yang dipaksa ikut menari
di panggung kesia-siaan
setiap potongan film bagai belati yang menusuk perasaan dalam dialog permintaan
dan aku, penonton setia di pojok ruangan membaca setiap kedipan matanya, seperti membaca puisi patah— antara kebenaran dan kebohongan yang sengaja diselipkan sutradara
Bekasi
15 Juli 2025